Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-07-2010 | 20:09:07
By : Erminold manehat, SVD
Theme : ‘PAHAMI MAKSUDNYA’
Mateus 11:20-24, Selasa, 13 Juli 2010

Sepanjang hidup ini, kita sudah mendengar banyak hal; pujian/sanjungan, keluhan, kritikan, kecaman, berita duka, kabar gembira dan masih banyak lagi hal lain yang direkam indera pendengaran kita. Dari banyak hal yang kita dengar, tidak sedikit yang sudah kita lupakan dan mungkin juga hanya sedikit saja yang masih tersimpan rapih dalam ingatan kita. Dari semuanya itu ada yang dapat dipahami dengan mudah tetapi tidak sedikit yang memaksa kita untuk memutar otak, bermenung sejenak. Dari semua yang kita dengar ada yang punya pengaruh langsung tetapi ada pula yang sama sekali tidak berpengaruh dengan hidup dan relasi kita dengan yang lain. Lebih dari itu, kita juga diminta untuk mendengarkan apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap. Sampai di sini, dapatkah anda memenuhi permintaan ini? Memasang telinga untuk apa yang diucapkan orang saja kadang begitu sulit apalagi harus mendengarkan apa yang tidak dikatakan. Dalam hubungan dengan sikap mendengarkan, munculnya persoalan dalam hidup disebabkan oleh dua hal faktor; pertama kita tidak bersedia mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Kedua, kita hanya mendengarkan apa yang dikatakan tetapi tidak berusaha menangkap maksud dari apa yang kita dengar. Yang pertama soal kesediaan dan yang kedua soal kemampuan. Mestinya kita sadar bahwa apa yang dikatakan selalu bermakna ganda; menunjukkan realitas yang sebenarnya atau mewakili realitas lain. Karena itu yang lembut tidak selamanya menyenangkan dan yang kasar tidak selamanya mesti ditolak. Yang lembut kadang mengandung ironi dan yang kasar sering bermuatan positif tentu saja dengan catatan kekerasan tidak selamanya menyelesaikan soal. Hal ini bergantung dari kemampuan masing-masing orang untuk mendengar yang tidak diperdengarkan di balik kata-kata yang kita dengar.

Hari yang cerah tetapi wajah anda boleh jadi tidak secerah hari ini. Mungkin anda masih merasa sakit karena kecaman yang anda terima entah dengan ataupun tanpa alasan. Samapi pagi atau saat ini masih terngiang kata-kata kasar yang masuk ke telinga anda. Hal ini akan semakin menyakitkan dan bahkan meninggalkan luka dan menimbulkan dendam apabila kata-kata kasar dan kecaman itu datang dari orang yang tidak kita sukai. Mateus mengisahkan bahwa satu ketika entah kapan, Yesus mengecam dan memperingatkan beberapa kota akan bencana yang sedang mengintai mereka. Kecaman ini disampaikan Yesus karena kekerasan hati penduduk kota-kota itu. Sudah berulang kali mereka diperingatkan untuk bertobat tetapi mereka tetap membangkang, tidak mau berubah haluan. Sebenarnya kota-kota ini adalah tempat di mana warisan keagamaan orang Yahudi dihidupi, karena itu penduduknya mesti menunjukkan bahwa mereka sungguh mewarisi tradisi religius para leluhurnya. Kenyataan menunjukkan bahwa penduduk kota-kota ini telah jauh meninggalkan tradisi leluhur dan telah diajak untuk bertobat tetapi mereka enggan untuk meninggalkan hidupnya yang lama. Di sini hendak ditekankan bahwa religiusitas kota-kota ini bukanlah jaminan keselamatan penduduknya. Mereka mesti membuktikan lewat hidup-nya bahwa mereka sungguh hidup dalam satu kota yang punya tradisi keselamatan. Keceman biasanya pedas buat pendengaran kita, kadang tajam melukai perasaan kita, tak jarang menurunkan harga diri kita bila yang kita tangkap hanyalah isi kecaman itu. Tetapi kecaman ini akan berdampak lain bila kita membuka hati dan melihat lebih jauh mengapa ia lahir dan apa makna yang dihadirkannya di balik kata-kata yang mewakilinya. Pada saat mendengar kata-kata itu kita tidak boleh melihat orang yang mengatakannya tetapi melihat ke dalam diri mengapa kata-kata itu ditujukan buat kita. Boleh jadi kecaman yang sama ditujukan kepada kita. Mungkin berkenaan dengan dengan hidup kita yang tidak sesuai dengan keberadaan kita sebagai orang-orang kristen, orang-orang yang mestinya menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri. Mungkin juga karena kita enggan mengindahkan peringatan/teguran-teguran kecil yang bernada kelakar karena kita lebih melihat orang yang menyampaikan dari pada menanggapi apa yang diisyaratkannya. Seperti penduduk kota-kota itu, kita diingatkan bahwa baptisan yang kita terima bukanlah jaminan keselamatan, untuk selamat kita perlu menghidupi iman kita dan membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita.

Kita tahu bahwa kecaman biasanya pedas buat pendengaran kita, kadang tajam melukai perasaan kita, tak jarang menurunkan harga diri. Tetapi sering kita tidak berusaha untuk menghindari kecaman. Sering pula kita mengecam sesama dengan pikiran bahwa kecaman merupakan jalan terbaik menyampaikan maksud hati. Kecaman tidak selalu berdampak positif; bisa merusak maksud baik yang kita miliki. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengecam ataupun tidak harus mengecam. Yang mesti kita miliki adalah kesediaan mendengarkan dan kemampuan untuk menangkap maksud dari apa yang dikatakan atau diperdengarkan; mendengar apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap. Yang terpenting adalah menyadari bahwa iman mela-inkan hidup kitalah yang merupakan jaminan keselamatan.

“Cinta dan kebaikan tidak selalu menampakkan dirinya dalam hal-hal yang baik, menarik dan menyenangkan karena itu lihat atau tangkap maksudnya jangan lihat siapa dan apa yang dikatakan”.
[ back ]