Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 19-07-2010 | 02:31:34
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT’
Mateus 10:7-15,Kamis, 8 Juli 2010

Kebahagiaan dan penderitaan adalah dua dunia berbeda tetapi sekat yang memisahkan ke-duanya begitu tipis, salah dalam bertindak, berarti merobek pembatas keduanya dan situasi lain akan kita alami. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa manusia tidak ditakdirkan untuk menderita dan pada dasarnya penderitaan bukanlah impian kita. Yang kita cari dalam hidup adalah kebahagiaan dan di mana kita hadir di sana mestinya kita menjadi sumber kegembiraan dan rasa bahagia. Bila ini tidak mungkin, biarlah kita menjadi sumber inspirasi bagaimana menemukan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa penderitaan tak dapat dihindari dan kebahagiaan tidak mudah diraih. Begitu sering kita menjadi sumber penderitaan bagi sesama dan tak jarang kitalah yang menjadi sebab mengapa kebahagiaan yang kita impikan gagal menjadi kenyataan. Hal ini bukan karena kita tidak berusaha untuk menghindari penderitaan atau kurang berjuang meraih kebahagiaan tetapi karena kita tidak tahu bagaimana menghindari situasi suram ini ataupun jalan apa yang mesti ditempuh mengubah impian kita menjadi kenyataan. Penderitaan tak terelakan bila kita tidak tahu bagaimana menghidarinya dan bunga kebahagiaan tak mungkin disunting kalau kita tidak tahu bagaimana memetiknya.

Kita menghendaki hidup bahagia dan kita dipanggil untuk mewartakan kerajaan Allah, kerajaan kebaikan dan damai, kerajaan kebahagiaan dan sukacita. Di sini perlu dipahami bahwa kerajaan Allah bukanlah tempat melainkan suasana, situasi di mana manusia hidup tanpa beban, tanpa kesulitan dan penderitaan, tanpa soal dan masalah. Karena itu ketika mengutus para mu-ridNya, kita, Yesus memberi jalan bagaimana kerajaan Allah dapat dibangun di tempat di mana kita berada dan bagaimana usaha yang kita lakukan dapat mendatangkan kebahagiaan baik untuk diri maupun untuk mereka yang ada di sekitar kita. Kerajaan Allah dapat dinikmati kehadirannya bila di mana kita hadir di sana yang sakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan, yang kusta ditahirkan dan yang kerasukan setan dibersihkan. Kenyataan menunjukkan bahwa kehadiran kita belum mampu menghadirkan kerajaan Allah, menciptakan suasana bahagia karena di mana kita hadir di sana yang sehat jatuh sakit, yang hidup, mati perlahan-lahan, yang bersih dijangkiti kusta dan yang baik kerakusan setan. Kerajaan Allah, kerajaan kebaikan dan damai dapat dihadirkan bila kita rela memberi dengan cuma-cuma apa yang kita terima cuma-cuma. Tetapi hal ini sulit terwujud karena lebih mudah bagi kita untuk menerima ketimbang memberi; kita menrima tanpa perhitungan tetapi memberi dengan penuh perhitungan. Karena kerajaan Allah adalah satu situasi, kita diingatkan untuk tidak membawa apa-apa di perjalanan; uang, bekal, dua helai baju, kasut dan tongkat. Kita membutuhkan uang, makanan, pakaian, kasut dan tongkat. Tetapi semua-nya ini harus dilihat sebagai sarana bukan tujuan. Kerajaan Allah sulit dihadirkan karena kita melihat hal ini sebagai tujuan bukannya sarana. Pola pikir inilah yang telah memporakporandakan kebersamaan kita, keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Ia juga berpesan agar kita menja-di sumber damai di mana kita berada dan tinggal di tempat di mana kita diterima. Setiap utusan mesti berusaha merasa kerasan, at home dengan tugasnya, beradaptasi dengan lingkungan ke mana ia diutus. Belajar tentang orang-orangnya, budaya dan kebiasaannya. Di sini banyak dari kita gagal, kerajaan Allah sulit dinampakan karena kita tidak bersedia beradaptasi dengan lingkungannya. Kita tidak mengajar mereka mulai dari apa yang mereka tahu tetapi dari apa yang kita tahu, kita tidak mulai membangun dengan apa yang mereka miliki tetapi dengan apa yang kita miliki, sehingga apa yang kita lakukan tetap asing bagi mereka yang seharusnya kita bantu. Hasilnya kita sulit dipercaya dan ujung-ujungnya kita ditolak. Bagaimana dengan kehadiran kita dalam kebersamaan? Adakah kerajaan Allah dihadirkan lewat kehadiran kita?

Antrean panjang kendaraan dan manusia menanti dalam keresahan yang menggelisahkan kapan tangki-tangki minyak mereka diisi. Apakah ini satu isyarat menjauhnya kita dari kebahagiaan yang kita impikan ataukah satu tantangan bagaimana menemukan jalan baru mewujudkan impian kita tentang hari-hari penuh bunga, di mana suasana kerajaan Allah dapat dinikmati dalam keseharian kita. Kebahagiaan bukan sekedar memtik bunga tetapi bagaimana memetiknya agar ia tak layu segera setelah tiba di tangan karena tersedot radiasi tangan si pemetik. Kitga mengimpikan kebahagiaan dan kita dipanggil untuk mewartakan kerajaan Allah, kerajaan kebaikan dan damai. Cepat atau lambat kehadiran kerajaan Allah cuma soal waktu, tetapi untuk itu kita mesti berjuang mengalahkan diri dan melayani sesama dengan cinta yang mengabdi.

“Kerajaan Allah dapat dihadirkan dalam keseharian kita bukan lewat kata-kata kita yang mem-buai tetapi lewat hidup dan karya kita yang dapat dijadikan cermin untuk berbenah diri”.
[ back ]