Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-07-2009 | 02:17:28
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘KAMU HARUS PROFESIONAL’
(Mateus 12:46-50, Selasa, 21 juli 2009)

Kita selalu hidup bersama dan dalam kebersamaan itu masing-masing kita punya peran atau dengan bahasa yang lebih mentereng tiap kita punya profesi. Ini berarti kita mesti bersikap profesional tahu membedakan apa yang seharusnya kita kerjakan dan apa yang mestinya kita hindari; tidak mencapuradukan tugas utama kita dengan hal-hal yang bersifat sampingan. Kenyataan menunjukkan bahwa walaupun kita punya profesi tidak begitu sering kita tidak bersikap profesional; kita cenderung mencampuradukan urusan pribadi dengan urusan profesi; ketidakberesan di rumah di bawah ke tempat kerja atgau sebaliknya. Karena kecenderungan ini, kita diminta untuk bersikap awas terhadap ikatan keluarga dan hubungan darah. Pada umumnya awasan ini sulit dicernah akal sehat karena ketimuran kita sangat menjunjung tinggi ikatan kekeluargaan dan hubungan darah. Tetapi mengapa ikatan ini mesti diwaspadai? Bukankah setiap kita punya keluarga dan kita wajib menjalin komunikasi anggota keluarga kita? Awasan ini tentu berdasar. Memang benar kita tidak dapat melepaskan diri dari ikatan keluarga dan setiap kita punya keluarga. Keluarga adalah asal dan muara setiap pengembaraan kita. Kenyataan menunjukkan bahwa ikatan keluarga dapat menjadi kekuatan, bisa juga merupakan sumber kelemahan pelayanan kita. Keterikatan pada keluarga mempersempit wawasan pelayanan kita, melemahkan sikap kenabian kita. Karena itu ikatan ini tidak saja perlu dibangun tetapi juga mesti diwaspadai.

Berbicara tentang profesionalisme, kita sebenarnya menempatkan diri kita di persimpangan kehidupan; keluarga atau tugas. Bila kita bersikap seperti apa yang sudah dikatakan, kita harus siap menerima kritikan dan cibiran; mentang-mentang sudah jadi orang, sudah lupa semua, dia tidak ingat lagi bagi dia jadi orang karena saya. Di sini, kita dipaksa bahwa atas nama kebaikan kita mesti mengistimewakan orang atau kelompok tertentu hal mana bertentangan dengan profesionalisme. Apapun relasinya, kita harus mampu membedakan tugas dan hubungan darah. Satu saat, ketika disampaikan bahwa keluarganya hendak bertemu dengan Dia, Yesus bertanya, ‘Siapakah ibu dan saudara-saudaraKu?’ yang menjadi ibu dan saudaraKu adalah mereka yang mendengar dan melaksanakan firmanKu. Secara sepintas, bila kita teringat akan kisah si Malinkundang, kiranya Yesus masuk dalam kategori anak durhaka, anak yang lupa dari mana dia berasal. SikapNya menyepelekan usaha keluargaNya untuk bertemu dengan Dia. Bila kita jeli kita akan menemukan makna perkataan Yesus. Dia tidak menyepelekan kehadiran keluargaNya tetapi Dia hanya mau membuka wawasan kita tentang keluarga di dalam iman. Mengimani Dia berarti kita mesti bersedia keluar dari ikatan keluarga berdasarkan hubungan dasah dan menempatkan diri dalam keluarga baru berdasarkan iman. Dan dalam hal-hal tertentu tuntutan keluarga baru ini mesti lebih diutamakan ketimbang kepentingan keluarga berdasakan hubungan darah. Syarat untuk menjadi anggota keluarga baru ini adalah mendengarkan dan melaksanakan apa yang kita dengar. Sampai di sini kita menemukan kenyataan bahwa walaupun kita beriman akan Dia tetapi kita masih berada pada ikatan keluarga berdasarkan hubungan darah sehingga apa yang kita dengarkan masih sulit dilaksanakan karena kita hanya berorientasi pada keluarga kita. Lihatlah berapa banyak soal yang muncul karena kita masih memusatkan hidup dan karya kita pada hubungan darah. Sikap profetis kita tidak jalan, diperlemah; kita sulit menegakkan kebenaran berhadapan dengan keluarga kita sendiri padahal kita dibaptis bukan hanya untuk kepentingan keluarga. Mengapa sampai kini KKN sulit diberantas dan aneka kejahatan tidak mudah diatasi? Karena hidup dan karya kita belum melampaui ikatan keluarga berdasakan hubungan darah. Kita baru berada pada level beriman tetapi belum hidup sebagai orang-orang beriman.

Sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari ikatan keluarga berdasarkan hubungan darah; satu ikatan natural yang tidak dapat disangkal. Berdasarkan iman yang kita terima kita mesti bersedia membuka diri terhdap hadirnya keluarga baru berdasarkan iman. Kita telah dibaptis dalam naman Yesus tetapi kita sendiri masih mengurung diri dalam penjara keluarga. Pelayanan kita masih terbatas pada keluarga kita sendiri. Karena itu ikatan ini perlu diwaspadai. Ikatan ini dapat menjadi dasar pijak kita untuk menjumpai dunia tetapi juga dapat merintangi kita untuk menerima kehadiran dunia dalam hidup kita. Yesus bersabda, barangsiapa mendengarkan dan melaksanakan firmanKu, dialah ibu dan saudara-saudaraKu. Siapkah kita menjadi ibu dan saudara-saudariNya?

[ back ]