Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-07-2009 | 02:16:11
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘BUKAN SOAL TANDA’
(Mateus 12:38-42, Senin, 20 Juli 2009)

Ada banyak tanda yang kita kenal dan tidak sedikit tanda mata yang pernah kita terima atau kita beri dari dan kepada orang lain. Satu tanda bisa me-lahirkan aneka tafsiran dan dampak kehadirannya kadang tidak kita diperhitung-kan sebelumnya karena boleh jadi yang kita pikirkan tidak seperti yang dimak-sudkan atau mungkin yang tidak kita pikirkan justeru itulah yang dimaksud. Hal ini terjadi karena boleh jadi ia mewakili realitas sebenarnya, tetapi mungkin juga ia menjadi duta satu realitas lain, kehadirannya mengisyaratkan sesuatu. Itulah hakekat tanda dan segala manifestasinya. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. Wajah yang cemberut bisa jadi duta sebuah hati yang suram, bisa juga mengisyaratkan perut yang lagi keroncong. Bunga yang dikirim bisa saja untuk memperindah sebuah ruangan, tetapi bisa juga mewakili hati sang pemberi, selembar foto menjadi tanda ketakterpisahan relasi dua hati meski jauh dalam jarak. Suara yang terkirim via telepon adalah detak kerinduan orang yang berada di sebrang. Pendek kata kita diingatkan untuk berhati-hati/bijak menanggapi kejadian-kejadian di sekitar kita; jeli melihat realitas lain di balik apa yang ditangkap mata, pandai membaca yang tersirat di balik kata-kata yang tersurat dan sigap mendengar apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap. Ini berati yang terpenting bukan soal tanda tetapi masalah sikap dan suasana hati kita berhadapan dengan tanda-tanda itu.

Bila itu kenyataan sebuah tanda; dalam hubungan dengan kepercayaan, apakah anda membutuhkan tanda/bukti untuk bisa percaya pada sesuatu atau seseorang? Benar, ada hal-hal tertentu di mana bukti/tanda dibutuhkan untuk bisa meyakinkan tetapi ada pula yang tidak membutuhkan tanda/bukti karena orang percaya akan kebenaran apa yang disampaikan dan apa yang disaksikan. Di sisi lain bukti/tanda dibutuhkan saat orang berada dalam keraguan, kebimbingan akan sesuatu/seseorang atau diperlukan sebagai alasan untuk mematahkan satu argumentasi. Tanda/bukti dipakai untuk menyakinkan atau untuk menggugat fak-ta yang ada. Kenyataan menegaskan bahwa kita tidak selalu membutuhkan tan-da/bukti untuk bisa percaya ataupun untuk diyakinkan. Bila semua hal mesti difisikkan, membutuhkan tanda, dengan standar apa kita dapat mengukur keda-laman sebuah cinta atau keyakinan? Dapatkah anda bayangkan bagaimana jadinya dunia ini bila segala sesuatu mesti didasarkan pada tanda/bukti? Kepercayaan adalah soal kualitas jiwa, keterbukaan diri dan kesediaan hati untuk menerima kenyataan yang ada bukan masalah ada tidaknya tanda. Ketika orang-orang Ya-hudi meminta tanda supaya mereka bisa percaya, Yesus berkata bahwa mereka hanya bisa diberi tanda nabi Yunus, nabi yang menobatkan orang-orang Niniwe. Orang-orang Niniwe berbalik haluan karena melihat tanda yang diperlihatkan Yunus. Bagi Yesus kepercayaan mestinya merupakan sesuatu yang harus muncul dari dalam diri manusia bukan sesuatu yang lahir karena dipaksakan dari luar, yang dipaksa biasanya tidak bertahan. Kepercayaan adalah soal kebebasan me-nentukan sikap, kehadiran tanda hanya penunjang. Keselamatan ditawarkan kepada setiap pribadi dan tawaran ini mesti dijawab secara bebas oleh setiap pribadi. Kepercayaan yang dipaksakan dari luar tidak berakar; yang tumbuh dari kedalaman jiwa akan abadi. Karena itu setiap orang bebas menentukan sikap karena konsekuensinya pun sangat personal. Katakan terus terang bahwa anda menolak tidak perlu tanda untuk dijadikan alasan.

Iman/kepercayaan bukan soal banyak tidaknya tanda yang diterima tetapi soal hati. Hebatnya tanda tidak akan mampu mempengaruhi bila orang tidak punya hati. Ini tidak berarti kita tidak membutuhkan tanda. Karena beriman tidaknya seseorang sulit diukur hanya bisa dideteksi dari apa yang kelihatan, hidup kita. Hidup kita sendiri menjadi tanda terbesar beriman tidaknya kita. Ke-hadiran kita dalam kebersamaan mesti menandakan kehadiran Allah yang kita imani. Apakah memang demikian? Mungkinkah kehadiran kita mampu meyakinkan sesama untuk mengimani Allah yang kita imani dan menggugah hati mereka untuk berubah? Bila bunga adalah tanda sebuah hati, apakah hidup yang sedang kita jalani adalah tanda iman yang kita miliki?

[ back ]