Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 18-07-2009 | 10:36:52
By : P. Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN PERNAH BERHENTI BERBUAT BAIK’
(Mateus 12:14-21, Sabtu, 18 Juli 2009)

Kita selalu ada bersama yang lain. Berada bersama yang lain memungkinkan adanya saling pengaruh disadari ataupun tidak. Ini berarti apa yang kita lakukan punya pengaruh terhadap hidup mereka yang berada di sekitar kita dan sebaliknya apa yang mereka lakukan mempengaruhi irama hidup kita. Pengaruh ini bersifat ganda; baik dan buruk. Dan tanggapan terhadap kehadiran kita pun bisa beragam; bisa positif, bisa juga sebaliknya negatif. Ini berarti yang baik yang kita lakukan tidak selamanya mendatangkan kebaikan dan kegembiraan bagi kita sehingga yang baik bisa tetap baik, semakin baik atau sebaliknya jadi buruk dan yang buruk mungkin bertambah buruk bergantung dari sikap batin orang yang dengannya kita berinteraksi. Kita bisa saja disanjung, mungkin juga dibenci. Artinya kebencian dan siakp antipati tidak saja muncul karena orang berbuat jahat tetapi juga karena kebaikan yang kita lakukan. Kita bisa saja dibenci karena boleh jadi kebaikan yang kita lakukan membongkar kedok kejahatan mereka yang menyaksikan dan merasakan kebaikan kita atau dianggap sebagai satu kritikan. Sebagai orang-orang beriman, kenyataan ini tidak boleh menyurutkan langkah dan mematikan semangat kita untuk tetap berbuat baik. Karena boleh jadi tanggapan negatif itu hanya merupakan satu batu uji komitmen kita.

Mungkin hati anda masih panas, jengkel karena kebaikan yang anda lakukan tidak dihargai bahkan dipandang sebelah mata ataupun dicurigai. Tetapi bila anda memang orang baik apapun tanggapan yang anda terima, hal ini tidak boleh menyurutkan langkah kita mewujudkan panggilan kita sebagai orang-orang kristen, orang-orang yang hendak menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri. Apapun situasinya, seperti Yesus, di mana saja kita berada di sana kebaikan mesti dibagikan, keadilan mesti ditegakkan dan kebenaran mesti diseru-kan. Kita tidak perlu berteriak memaparkan apa yang sudah kita lakukan, biarkan apa yang kita lakukan berceritera tentang siapa kita. Inilah jalan terbaik menghindari adanya soal dan membuat kehadiran kita berarti bagi yang lain. Untuk itu kita mesti bersedia belajar dari Yesus. Pertama; dariNya kita dapat belajar untuk tabah; kebencian dan penolakan tidak boleh memadamkan semangat kita untuk berbuat baik. Kenyataan menunjukkan bahwa justeru kitalah yang cenderung menghalangi sesama berbuat baik, kita jatuh sakit bila kita melihat mereka melakukan kebaikan. Kedua, dari Dia kita belajar membiarkan apa yang kita lakukan berceritera tentang siapa kita. Di sini kecenderungan kita untuk bicara banyak tentang apa yang kita lakukan perlu diredam. Kita bangga bila semakin banyak orang mengetahui apa yang kita lakukan karena itu kita sendiri berusaha sekuat tenaga mewartakannya. Kita lupa bahwa usaha ini mengurangi nilai aksi kita. Ketiga, dariNya kita belajar menyadari bahwa kita adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang berkenan di hati Allah. Kenyatakan menunjuk-kan bahwa banyak orang bingung dengan kehadiran kita karena pada kita tidak ada tanda-tanda bahwa kita adalah orang pilihan, orang yang berkenan. Kita sendiri yang mengaburkan identitas kita sehingga kehadiran kita sulit diterima. Keempat, seperti Dia, kepada kita pun dicurahkan Roh untuk memaklumkan hukum tetapi kita berada jauh dari posisi ini karena tempat roh ini telah kita gantikan dengan roh-roh kita sendiri yang bukannya mengajar kita untuk mewartakan hukum tetapi melawannya. Kelima, seperti Dia, mestinya kita suka akan suasana damai. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kita lebih mencintai suasana perang, kita bangga bila ditakuti, kita takut bila kurang populer. Keenam, mestinya seperti Dia, di mana kita hadir di sana ada hidup dan pada kitalah sesama menggantung harapannya. Tetapi keseharian kita menunjukkan suasana sebaliknya, di mana kita hadir yang bersemangat kehilangan gairahnya dan yang kuat jadi tak berdaya karena diperdayai dan yang punya impian jadi frustrasi. Inikah jalan mengartikan hidup kita dalam kebersamaan?

Kita tidak menghendaki berada dalam situasi suram tetapi begitu sering kita membiarkan diri berada dalam situasi suram ini. Kita tidak bersedia belajar dari sesama bagaimana mengartikan hidup dan kehadiran kita dalam kebersamaan. Tutur kata, tingkah laku dan hidup kita belum menampakan kekhasan kita sebagai orang pilihan, orang yang berkenan karena yang kita lakukan justeru sebaliknya. Seperti kaum Farisi, kita membenci mereka yang berbuat baik dan menggantikan tempat Roh dengan roh-roh ciptaan dan idola kita yang lebih banyak menimbulkan soal ketimbang menyembuhkan situasi. Siapapun kita dalam kebersamaan, kita dipanggil untuk bercermin dan menata hidup dan kehadiran kita di hadapan cermin kehadiran Yesus. Bila hidupNya telah menjadi hidup kita, hidup ini akan lain ceriteranya.

[ back ]