Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 25-03-2010 | 00:32:03
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “WASPADALAH”
Yoh 11:45-56, Sabtu, 27 Maret 2010

Bersikap waspada, awas, hati-hati. Mengapa kita perlu waspada? Karena hidup ini penuh dengan 1001 kemungkinan yang tampil dalam aneka wajah yang perlu diperhitungkan dan sesuatu bisa saja terjadi di luar dugaan kita. Salah dalam membuat perhitungkan, kita akan kehilangan apa yang kita cari bahkan mungkin nyawa kita sendiri. Di sini, kita perlu membedakan sikap waspada dari sikap curiga. Waspada berarti menarik 1001 garis kemungkinan dari satu titik kenyataan dan mempersiapkan diri sedapat mungkin untuk bisa menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi. Sikap ini mengajar kita untuk jeli dalam mendengar, melihat, membaca dan menilai sesuatu sebe-lum membuat satu putusan atau sebelum mengambil satu tindakan. Kesalahan dalam memberi tanggapan terjadi karena kita kurang awas dalam mendengar; kita hanya men-dengar apa yang dikatakan bukan apa yang dimaksud oleh si pembicara dan mempersoalkan apa yang tidak semestinya dipersoalkan. Kadang kita membuat kesalahan dalam menilai karena kita hanya melihat indahnya sampul sebuah buku ketimbang membolak-balik halaman-halaman buku tersebut, kita lupa bahwa di samping realiatas ada fatamor-gana-bayangan maya yang nampak seperti satu realitas. Begitu sering kita dijebak oleh keluguan kita sendiri karena hanya membaca apa yang tersurat tanpa berusaha memahami apa yang tersirat di balik huruf-huruf yang dipahatkan. Kewaspadaan memberikan kita kemungkinan untuk mengurangi ataupun menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, membantu kita untuk menempatkan diri secara tepat dalam kebersamaan.

Banyak hari yang sudah kita lewatkan, tidak sedikit pelajaran untuk menyiasati hidup ini yang sudah kita petik di arena masa puasa ini. Berkaca diri sudah kita lakukan bahkan dandanan relasi kita sudah mulai berubah. Ternyata puasa bukan sekedar mengurangi porsi makan, mengurangi kecenderungan-kecenderungan hidup kita yang kurang baik bagi diri dan sendiri tetapi untuk apa kita mesti mengurangi porsi makan dan mengekang diri dalam banyak hal. Puasa memberikan kita kemungkinan untuk melihat hidup ini lebih obyektif; untuk apa kita mesti ada dalam kebersamaan dan apa yang harus kita lakukan di sana. Banyak soal muncul dan tidak sedikit masalah yang tidak terselesaikan karena kita hanya berpikir tentang jumlah hari yang telah kita habiskan untuk berpuasa, kita lupa bahwa arti puasa tidak ditentukan jumlah hari tetapi apa yang mesti kita buat untuk mengisi ruang sebuah hari. Membuat puasa kita bermakna, hidup kita punya arti dan kehadiran kita punya warna yang khas, Yesus mengingatkan kita untuk tinggal dalam firmanNya, menjadikan firmanNya jiwa hidup kita dan hidupNya sebagai cermin diri kita. Untuk itu kita perlu menjauhkan diri dari sikap kaum Yahudi yang suka memperma-salahkan apa yang dikatakan Yesus ketimbang berusaha menghidupi apa yang dihidupi dan diajarkanNya. Selain itu Dia juga mengisyaratkan agar kita menjauhkan rasa benci yang ada di hati. Jarang didengar orang membunuh karena begitu mencintai. Cinta pada dasarnya menghidupkan, mendorong orang lain untuk hidup, dan membuat orang lain bisa mengorbankan nyawanya agar orang yang dicintainya hidup. Sebaliknya kebencian membutakan mata kita, tidak ada yang baik dari orang yang kita benci walaupun kenya-taannya dia memang orang baik. Berhadapan dengan kebencian, kita selalu punya alasan untuk mengingkari kebaikan sesama. Kisah hari ini hendak menggarisbawahi beberapa kenyataan; pertama, jangan pernah membenci seseorang karena kebencian membuka peluang untuk menghilangkan kehadiran sesama entah secara fisik maupun psikis. Kebencian mendorong orang untuk menanti dan mencari peluang melampiaskan rasa itu. Karena itu hati-hatilah bila anda sedang membenci seseorang, kebencian tidak akan berhenti pada rasa benci. Begitu bencinya kaum Yahudi sampai-sampai mereka bersepakat untuk membunuh Yesus. Kebencian menghantar orang menuju pembunuhan berencana. Kedua, untuk hidup dalam firmanNya, kita butuh semangat berkorban yang tahan uji karena kebaikan yang kita lakukan akan dijadikan senjata untuk membunuh diri kita. Apapun situasi dan tanggapannya kita harus tetap berbuat baik. Sampai di sini, mung-kinkah kita jauh berbeda dari kaum Yahusi di jaman Yesus?

Berat badan kita mungkin mulai turun, tetapi apakah keserakahan kita mulai berkurang? Hari-hari puasa menjelang akhir tetapi apakah ini berarti hidup kita sudah jauh lebih baik dari hari-hari kemarin? Apakah puasa yang kita jalankan sudah berhasil mendapatkan sedikit tempat tumbuh dalam ruang hati dan hidup kita bagi firman Yesus? Pertanyaan-pertanyaan ini mengundang kita untuk menilai kembali seluruh perjalanan kita sepanjang masa prapaska ini. Nilai puasa tidak ditentukan oleh lamanya kita berpuasa, besarnya porsi makan yang sudah kita kurangi tetapi bergantung dari ada tidaknya perubahan dalam hati dan hidup kita. Kalau kita mau hidup menurut firmanNya, puasa akan menjadi saat berahmat dan perubahan akan selalu mungkin. Untuk itu jauhkan rasa benci, biarkan firmanNya menjadi nadi hidup anda, segalanya akan menjadi baru.

“Membenci sesama, anda tidak akan mendapat apa-apa darinya selain kehilangan segala yang seharusnya anda miliki”.
[ back ]