Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 25-03-2010 | 00:15:45
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : "BUKA HATIMU”
Yoh 10:31-42,Jumat,26 Maret 2010

Dari kejauhan saya memandang pintu rumah di depan saya yang lagi tertutup. Di hadapannyai, saya membayangkan; yang dari luar tidak dapat masuk dan yang dari dalam tidak bisa keluar. Yang di luar hanya bisa menduga apa yang ter-jadi di dalam sana dan yang di dalam cuma bisa membayangkan apa yang sedang berlangsung di luar sana. Yang berada di luar bebas bergerak ke mana saja kaki melangkah dan yang berada di dalam hanya dapat mengatur langkahnya seluas ruang di mana mereka berada. Beralih dari kenyataan ini kepada seruan ‘jangan tutup pintu hatimu’, satu loncatan yang cukup jauh tetapi memberi nuansa yang kurang lebih sama. Menutup pintu hati, menutup diri terhadap dunia luar lalu luas dunia kita hanya bergantung pada apa yang ada dalam hati kita. Kita tidak punya ceritera lain tentang mereka selain apa yang sudah menjadi perbendaharaan kita. Mereka buruk bukan karena mereka memang demikian tetapi karena yang kita miliki tentang mereka hanyalah yang demikian. Mereka tidak pernah baik karena yang kita miliki tentang mereka hanyalah hal yang kurang baik. Inilah bahaya bila pintu hati kita ditutup; kesalahan akan merupakan akhir dari riwayat hidup sesama, tidak titik balik buat mereka. Padahal bila kita membuka hati kita, kita akan menemukan ceritera hidup lain dan pasti akan menjadi lain karena yang kita miliki tentang sesama adalah seluruh dirinya, segala kebaikan dan keku-rangannya. Di sana kita punya keyakinan bahwa selalu ada kemungkinan ceritera hidup ini dapat berubah.

Perjalanan prapaska mendekati garis batas, persiapan untuk memeriahkan perayaan paskapun menjelang rampung; program app sebentar lagi tuntas dibahas, malam-malam katekese akan tinggal kenangan dan tak lama lagi taman doa tempat biasanya kita berpindah dari satu gambar ke gambar lainpun akan kembali sepi. Yang masih akan tersisa adala pertanyaan ini, ‘apakah semua kegiatan ini mampu memberi wajah baru bagi ceritera hidup kita?’ Kalau tidak punya pengaruh dan tidak membawa perubahan, untuk apa kita lakukan semuanya ini? Bersandiwara? Kita bukan pemain teater, kita orang-orang beriman dengan peran yang khas dalam kebersamaan. Apakah semuanya ini sekedar memenuhi apa yang tercantum dalam kalender liturgi? Kita bukan robot karena kita makhluk yang berbudi. Apapun yang kita lakukan, semuanya bertujuan merubah jalan ceritera hidup ini, memberi warna yang khas bagi kehadiran kita dalam kebersamaan. Bila tidak ada pengaruh dan ceritera hidup ini memang tidak berubah, itu berarti yang salah bukanlah kegiatan yang kita jalankan tetapi ada gangguan pada ruang hati kita. Hati kita masih tertutup, tidak dibiarkan untuk ikut serta saat kita hendak membuat sejarah. Kekesalan kaum Yahudi kian memuncak, bahkan mereka sampai hendak melempar Yesus dengan batu karena amarah yang tidak tertahan. Hal ini terjadi bukan karena kejahatan yang dilakukan Yesus tetapi karena apa yang ada di hati mereka sudah tidak dapat dirubah. Pintu hati mereka telah tertutup. Di sini kita dapat melihat dampak dari ketertutupan sebuah hati. Kata-kata Yesus yang punya daya rubah tidak dapat meluluhkan hati mereka, mukjizat-mukjizat kebaikan yang menakjubkan tidak mampu mengugah nurani mereka. Mata mereka sudah tertutup, hati mereka tidak dibiarkan ikut bicara. Sikap yang sama mungkin kita miliki terhadap sesama, mungkin kita juga sudah siap batu di tangan untuk merajam mereka. Tetapi banyak kali batu-batu itu kita hadirkan lewat kata-kata kita yang tidak berperasaan, laku kita yang berduri dan kehadiran kita yang beracun. Karena iri, cemburu, curiga, benci, dendam dan amarah, kesalahan sesama kita besar-besarkan lalu kebaikan mereka kita abaikan. Padahal dari mereka kita dapat belajar menjadi orang-orang baik, orang-orang yang mampu berbuat banyak untuk tidak sedikit orang seperti apa yang dilakukan Yesus bila hati kita cukup terbuka dan kita punya kerendahan hati. Karena itu berhati-hatilah bila anda menutup pintu hati anda.

Puasa dan perubahan sebuah hati, dua dunia yang berbeda. Puasa mem-bantu kita untuk merubah hiasan ruang hati kita dan perubahan suasana pada ruang hati kita memberi arti bagi puasa yang kita jalankan. Jangan tutup pintu hati anda karena ia akan menutup kesediaan anda untuk menjumpai dunia dengan segala kekayaannya. Bukalah hati anda maka anda akan menerima sesama apa adanya dan bersama mereka anda dapat mengartikan masa puasa ini. Kita belum terlambat merubah kisah hidup ini bila kita bersedia belajar dari sesama....bukalah pintu hati anda maka segalanya akan menjadi mungkin....

“Keterbukaan memungkinkan segalanya, di sana perubahan selalu mungkin”.
[ back ]