Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 23-03-2010 | 21:58:03
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : HATIMU SEGALANYA
Luk 1:26-38, Kamis, 25 Maret 2010

Kita semua punya hati tetapi tidak semua kita menggunakan hatinya untuk berelasi dengan dunia dan tidak semua kita tahu, sadar bahwa hati dan suasananya mempengaruhi cuaca relasi kita dengan sesama. Inilah yang menjadi sebab mengapa kita menjumpai banyak soal dalam hidup. Karena kita hanya mau mengikuti kata hati kita tanpa bersedia membuka hati terhadap dunia luar. Kita ingin orang lain merasakan apa yang kita rasakan tetapi kita tidak membiarkan hati kita ikut merasakan apa yang sedang dirasakan sesama. Hatimu segalanya; dia bisa mendekatkan yang jauh, mengeratkan yang dekat dan sebaliknya rasa yang menjadi tamunya bisa merusak segala ikatan tidak kelihatan antara kita dengan kita. Dia bisa membuat kehadiran kita dalam kebersamaan seperti cahaya di dalam kegelapan, dia juga bisa mengubah siang terang menjadi malam kehidupan yang gelap gulita sehingga tidak mengherankan bila begitu sering kita ditolak dan kehadiran kita lebih banyak mendatangkan penderitaan bagi sesama ketimbang menjadi sumber kegembiraan bagi mereka. Hati adalah tempat tumbuh aneka rasa yang kemudian membidani lahirnya aneka efek bagi kehadiran kita di antara yang lain. Ia dapat menjadi tempat tumbuh kasih dengan seribu satu ceritera tentang dahsyatnya pengaruh rasa yang satu ini dan tempat yang sama dapat menjadi lahan subur tumbuhnya rasa benci dengan segala dampaknya yang selalu menciptakan mendung pada langit hidup kita.

Hari-hari puasa hampir berakhir tetapi tugas kita sebagai orang-orang kristen yang harus mengubah ceritera hidup ini tidk akan berakhir dan berhenti di sini. Apapun situasinya, tugas ini harus tetap dijalankan. Hari ini kita merayakan hari raya kabar sukacita; Maria menerima kabar gembira dari malaekat Tuhan. Pesta ini sudah biasa kita jalankan tetapi apakah perayaan ini punya pengaruh bagi hidup kita, hal ini masih harus diteliti. Hari ini mestinya kita bertanya; sudah sejauh mana hati kita berperan positif untuk merubah kisah hidup ini; memberi warna yang khas bagi kehadiran kita dalam kebersamaan, menjadi sumber kegembiraan bagi sesama? Disadari ataupun tidak, bila pada hari-hari sebelumnya kita lebih banyak berbicara tentang sikap yang mesti kita ambil dalam mengartikan saat-saat berahmat ini, di hari-hari menjelang berakhirnya puasa ini, kepada kita diberikan tokoh-tokoh iman yang hidup dan kehadirannya dapat kita jadikan cermin untuk menata hidup kita. Ingat, hidup baru tidak bergantung dari lamanya kita berpuasa tetapi ditentukan oleh apa yang kita buat selagi kita berpuasa. Hari ini, kepada kita ditampilkan dua tokoh dengan peran masing-masing dalam merubah kisah hidup ini. Kita dapat merubah kisah hidup kita, bila di mana kita hadir di sana yang kita bawa adalah berita gembira bahwa Tuhan senantiasa menyertai mereka yang percaya kepadaNya atau kehadiran kita merubah suasana hidup sesama, kita menjadi berite gembira itu sendiri. Kita dapat merubah kisah hidup ini bila di mana kita hadir, di sana kehadiran kita menyadarkan sesama akan potensi yang dimilikinya sehingga mereka tidak perlu takut menghadapi kerumitan hidup ini. Tetapi semua ini hanya mungkin bila ada keterbukaan untuk menerima menerima sesama, menerima diri apa adanya, kesediaan untuk berbagi dan kerelaan untuk mendengarkan. Di sini letak keistimewaan Maria. Itulah yang mem-buat dia mendapat tempat khusus dalam kehidupan menggereja. Dia adalah orang yang siap membuka hatinya kepada dunia. Keterbukaan membuat orang mampu menyadari keadaan dirinya dan siap diperkaya. Sikap ini memampukan orang menerima diri apa adanya tanpa mengada-ada; ‘bagaimana hal ini mungkin terjadi karena aku belum bersuami?’ Satu pernyataan yang polos tanpa basa-basi. Mungkin inilah jawaban menga-pa kisah hidup kita belum berubah. Kita suka mengada-ada dan lebih banyak berbasa-basi; kata-kata sederhana yang kita ungkapkan tidak keluar dari hati kita yang sederhana; di balik kesederhanaan itu kita menyembunyikan keangkuhan kita. Keterbukaan membuat Maria lebih melihat dampak keterpilihannya bagi orang lain daripada bagi dirinya. Keterpilihannya sebagai bunda Tuhan tidak membuat dia sombong; ia melihatnya lebih sebagai peluang untuk melayani banyak orang bukan sebagai kesempatan untuk menaklukkan sebanyak mungkin orang.

Kebangkitan dan hidup baru sedang menjelang. Perayaan ini mengisyaratkan bahwa di mana saja kita hadir di sana kita mesti membawa berita gembira dan menjadi sumber kegembiraan bagi orang lain. Tetapi semua ini hanya mungkin kalau kita punya keterbukaan terhadap dunia, kesediaan untuk berbagi dan kerelaan untuk mendengarkan. Puasa, kesempatan untuk menata kembali ruang hati kita yang telah diracuni aneka sikap yang merusak relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Hidup baru hanya mungkin dan kisah hidup ini akan berubah bila ruang hati kita terlebih dahulu dirubah. Hati menjadi kunci segalanya, ia menentukan ada tidaknya perubahan. Untuk itu, bukalah hatimu, belajarlah dari Maria karena hati yang terbuka memungkinkan segala kebaikan bisa bertumbuh. Dan seiring dengan bertumbuhnya kebaikan, kisah hidup inipun ikut berubah.

“Bila setiap kita jadi sumber kegembiraan, matahari tidak akan pernah teng-gelam”
[ back ]