Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 23-03-2010 | 21:55:26
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “HIDUPI FIRMANNYA
Yoh 8:31-42, Rabu, 24 Maret 2010

Pernahkah kita bertanya, ‘Mengapa setiap hari kita mesti mendengar ataupun membaca Kitab Suci?’ Terhadap pertanyaan ini, ada seribu satu jawaban dengan beragam alasan bergantung siapa yang menjawab pertanyaan ini. Ada yang mengatakan bahwa di sana kita dapat menemukan jalan bagaimana menyiasati hidup ini, dia adalah pedoman hidup, cermin tingkah laku kita dan masih banyak lagi yang lain. Jawaban lain; karena apa yang kita dengar atau kita baca belum dibiarkan menjiwai mempengaruhi hidup kita. Perulangan ini diharapkan dapat menciptakan satu perubahan dalam hidup kita. Ini berarti membaca saja tidak cukup, mendengar saja tidak banyak berarti karena ada yang sekedar membaca atau mendengar tanpa membuka diri dan hati untuk dipengaruhi oleh apa yang dibaca atau apa yang didengar. Seandainya hidup kita telah menjadi kitab suci yang hidup, pola hidup kita sudah mengekspresikan apa yang dibaca atau didengar, ceritera hidup ini telah jauh berubah dan kita tidak perlu lagi membolak balik kitab suci. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa pola hidup kita masih jauh dari apa yang kita baca atau-pun apa yang kita dengar sehingga aksi ini masih sangat kita butuhkan dan masih perlu kita jalankan. Mengapa kita masih harus menghadapi banyak soal dalam hidup yang datang dalam aneka wajah? Karena kita belum membuka diri dan membiarkan apa yang apa yang kita baca atau apa yang kita dengar, menjiwai dan mempengaruhi hidup dan relasi kita dengan yang lain. Membaca tanpa berusaha memahami apa yang kita baca, ini satu kesia-siaan, mendengar tanpa berusaha menghidupi apa yang kita dengar ini satu pengkhianatan.

Kita sedang menghitung hari, banyak waktu yang telah kita habiskan untuk berpuasa. Tetapi apakah arti puasa kita ditentukan oleh banyaknya dan lamanya waktu kita berpuasa? Arti puasa kita tidak ditentukan oleh banyaknya hari yang kita habiskan dan lama-nya waktu yang kita lewatkan. Arti puasa yang kita jalankan bergantung dari adanya perubahan dalam hidup dan relasi kita dengan dunia. Puasa yang kita jalankan harus membawa perubahan. Apa artinya mengurangi porsi makan kita bila kita hanya berhenti pada rasa prihatin tanpa tindakannya untuk mengurangi beban hidup sesama? Apa artinya menyadari kekurangan, kesalahan dan dosa kita bila tidak ada usaha untuk mengatasi, mempeerbaikinya? Apa artinya mengikuti jalan salib bila kita takut memikul salib kita dan tetap menambah salib-salib kecil pada pundak orang lain? Apa artinya mendengaar yang benar tetapi tidak bersedia berlaku benar? Apa artinya berbicxra tentang kasih dan kebaikan bila hati kita masih dipenuhi rasa benci dan niat buruk terhadap sesama? Untuk itu, Yesus berkata “seandainya kamu hidup dalam firmanKu, kamu adalah muridKu”. Mengapa pengandaian ini terus berulang? Karena kemuridan kita masih diragukan, masih membingungkan. Kita belum hidup sesuai dengan firmanNya, kita belum membiarkan firman yang kita dengar, kita baca mempengaruhi, menjiwai setiap langkah laku kita saat kita membuat sejarah. Yang kita dengar perlu kita hidupi, yang kita baca perlu dibiarkan meresapi dan mengalir dalam setiap nadi kehidupan kita. Menjadi seorang murid berarti mengkuti langkah sang guru, menjadikan hidup dan misi sang guru menjadi hidup dan misi kita sendiri. Kemuridan kita dipertanyakan dan banyak soal muncul dalam kehidupan kita karena hidup dan misiNya belum menjadi hidup dan misi kita. Di sini baptisan bukan jaminan, keturunan Abraham bukan garansi. Hidup kitalah yang menentukan segalanya. Hidup kita harus mengekspresikan nilai-nilai injili, kita menjadi injil-injil yang hidup. Kalau kita belum bisa menjadi injil-injil yang hidup biarlah kita membuka diri agar ruang hati dan hidup kita bisa menjadi tempat yang baik nilai-nilai ini bertumbuh sehingga yang kita lakukan adalah apa yang dikehendaki oleh Allah yang dalam namaNya kita telah dibaptis.

Anda dan saya, kita semua adalah orang-orang beriman. Tetapi beriman saja tidak cukup, dibaptis dalam nama Allah Tritunggal bukan jaminan. Apa yang kita imani mesti dibiarkan menjadi jiwa dan mempengaruhi setiap langkah laku hidup kita. Untuk itu, kita harus hidup sesuai dengan firmanNya karena di sini kemuridan kita dipertaruhkan. Hanya dengan hidup dalam firmanNya dan membiarkan firmanNya menjadi jiwa setiap langkah yang kita jejakan ceritera hidup ini akan berubah. Bila ini kita perjuangkan, kita akan bangkit bersama Kristus sebagai manusia-manusia baru, manusia-manusia yang sanggup menjadi injil-injil yang hidup di era modern ini.

“Yang kita tahu mesti kita hidupi dan yang kita hidupi adalah apa yang kita ketahui”.
[ back ]