Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 18-07-2009 | 10:34:41
By : P. Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘BIARKAN APA YANG ANDA LAKUKAN BERBICARA’
(Mateus 12:1-8, Jumat, 17 Juli 2009)

Anda punya soal? Anda tidak perlu merasa rendah diri karena anda hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang punya lebih banyak soal. Dan hidup kita sendiri tidak menjamin bahwa kita akan bebas dari soal; hidup hanya menyediakan kemungkinan-kemungkinan bagaimana meredam ataupun mengatasi soal yang ada. Kita pun mesti menyadari bahwa kadang kita mempersoalkan apa yang sebenarnya bukan soal dan mengabaikan apa yang sebenarnya mesti dipersoalkan. Kadang soal yang ada sulit diatasi bukan karena soal itu sulit diatasi tetapi karena pikiran kitalah yang memperumit soal yang kita hadapi. Pikiran kitalah yang membesar-besarkan soal. Begitu banyak waktu yang kita buang hanya untuk mempersoalkan keseragaman; apa yang kita lakukan harus pula dilakukan oleh sesama. Padahal masing-masing kita punya gradasi nilai sendiri dan di sisi lain perlu disadari bahwa keseragaman dapat mematikan keunikan pribadi; memberi peluang orang tenggelam dalam masa. Berhubungan dengan kewajiban kita dalam kebersamaan, soal muncul karena kita mau apa yang kita lakukan, dilakukan pula oleh orang lain. Kita tidak melihat manfaat dari aksi kita untuk diri, tetapi kita menggunakannya untuk mengukur kehidupan sesama. Patut dicatat motivasi yang picik merusak luhurnya nilai dari apa yang kita lakukan.

Mungkin anda lagi beristirahat untuk menikmati makanan siang anda atau boleh jadi perut anda lagi keroncong karena sampai saat ini belum ada sesuatu untuk mengisi ruang tengah anda. Tahukah anda bahwa perut yang kosong dapat membuat orang bertindak nekad dan melahirkan aneka soal? Saya tidak bermaksud membuat anda peduli dengan suasana ruang tengah anda saat ini, saya hanya mau membawa anda untuk mendengar renungan siang ini. Mateus berkisah bahwa ketika melintasi ladang gandum, karena rasa lapar yang tidak tertahan, para murid melakukan hal yang tidak diperbolehkan hukum sabath. Tindakan ini memunculkan aksi protes dari kaum Farisi yang melihat bahwa tindakan para murid melanggar adat istiadat Yahudi. Anehnya, tanggapan Yesus justeru biasa-biasa saja ketika ulah para muridNya dilaporkan kepadaNya. Ia justeru melihat keluhan ini sebagai kesempatan bagiNya untuk menyadarkan mereka akan makna adat istiadat dan pelaksanaannya dalam kebersamaan. Yang terpenting bukan pelaksanaan hukum tetapi kesadaran dan keterbukaan manusia untuk menerima kenyataan bahwa hukum punya nilai bagi diri dan sesama. Pelaksanaan hukum/adat istiadat, apapun bentuknya, harus dilandasi kesadaran bahwa hal itu pertama-tama bermanfaat bagi orang yang melaksanakannya. Selain itu apa yang kita lakukan tidak perlu dijadikan alasan untuk mengukur kehidupan orang lain karena kita tidak punya hak menilai hidup sesama. Kita harus membiarkan apa yang kita lakukan berbicara tentang bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan. Di sini motivasi kita menentukan nilai dari tindakan kita. Melakukan sesuatu dengan intensi mengukur kehidupan sesama, merusak, merendahkan luhurnya nilai dari apa yang kita lakukan. Kita tidak perlu banyak bicara tentang apa yang kita lakukan tetapi kita harus memberi waktu kepada apa yang kita lakukan untuk berceritera tentang kita. Banyak soal muncul dalam hidup karena kita cenderung membuang banyak waktu berbicara tentang apa yang kita kerjakan ketimbang memberi banyak waktu agar apa yang kita kerjakan berbicara tentang kita. Kenyataan akan lebih nyaring gaungnya berkisah tentang diri kita ketimbang kita sendiri yang melakukannya. Apa yang kita katakan boleh jadi melebihkan ataupun mengurangi apa yang kita lakukan. Dan kenyataan itu dengan sendirinya akan dijadikan cermin oleh sesama untuk menata hidupnya. Hati dan tindakan kita mesti sejalan. Untuk itu kita perlu menghindari kesan seolah-olah.

Melihat kenyataan di atas kita bertanya, ‘di mana nilai lebih yang kita miliki sebagai orang-orang kristen dalam kehidupan bersama? Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari pada kaum Farisi ataukah kita adalah kaum Farisi jaman ini bahkan lebih buruk dari mereka? Bila kita jujur, kita harus mengakui bahwa kita baru berada pada tahap mengetahui adat istiadat yang berlaku tetapi belum memahami mengapa kita mentaatinya dan menghidupinya. Mungkinkah kita adalah para murid yang suka melanggar adat yang berlaku entah itu disadari ataupun tidak? Siapapun kita, seperti Yesus, kita pun mesti siap untuk membawa pulang sesama yang kurang memahami bagaimana seharusnya hidup bersama. Yang terpenting adalah biarkan apa yang kita lakukan berbicara tentang kita dan jangan pernah melakukan sesuatu hanya untuk menilai hidup sesama, bila ini terjadi kitalah yang merusak luhurnya nilai dari apa yang kita kerjakan.

[ back ]