Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 22-03-2010 | 19:49:55
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JADILAH TERANG
Yoh 8:12-20,Senin, 22 Maret 2010

Ada bersama merupakan satu kewajiban karena manusia tidak dapat hidup sendirian; sebelum anda sudah ada yang lain dan sesudah anda masih ada yang lain. Hal ini tidak dapat kita hindari, bahkan ketika kita menyendiri kita disadarkan bahwa kita tidak dapat mengasingkan diri dari kebersamaan. Kita hanyan mungkin tahu bahwa kita sedang sendiri karena tidak ada orang lain di situ saat itu. Kita hanya mungkin ada kalau ada orang lain; kita ada karena mereka ada, tanpa mereka kita tidak ada dan kita bukan siapa-siapa. Ich werde am du, kata Martin Buber, saya hanya ada dan menjadi dalam dan melalui engkau. Di sini kita melihat betapa berartinya kehadiran orang lain, kehadiran anda bagi yang lain. Dalam kebersamaan ini ada kesalingan, kita saling mempengaruhi entah langsung maupun tidak; ada benang tak kelihatan yang menghubungkan anda dengan saya, kita dengan mereka. Kesalingan ini sudah seharusnya disadari dan hidupi. Di hadapan kenyataan ini, kita mesti menyadari bahwa kita ada di sana untuk membawa sesuatu yang positif bagi orang lain bagi kebersamaan itu, sesama mesti dilihat sebagai kembaran diri sendiri, rekan seperjalanan yang mesti saling berbagi dan memperkaya bukannya sebagai musuh, saingan yang mesti ditaklukan. Dalam kesalingan itu kita mesti tahu bagaimana seharusnya hidup bersama, bagaimana melestarikan kebersamaan itu.

Pemadaman listrik bergilir dan rusaknya berbagai peralatan elektronik sudah menjadi bagian keseharian. Dan mungkin anda masih jengkel lantaran aktifitas anda harus terhenti lantaran padamnya listrik yang tidak sesuai dengan jadwal. Kenyatan ini membuktikan pentingnya terang, cahaya bagi hidup kita, kita membutuhkan terang, cahaya. Tanpa cahaya, anda akan duduk dalam kegelapan dan anda bukan siapa-siapa. Suatu saat entah kapan dua ribu tahun silam, demikian kisah Yohanes, Yesus mengatakan bahwa Dia adalah terang dunia. Apa yang dikatakan Yesus sekaligus menjadi satu bentuk kesaksian yang mau Ia berikan kepada orang-orang Yahudi. Selain itu, karena tanggapan mereka yang negatif, Yesus meminta mereka menggunakan ukuran lain untuk menilai sesamanya. Selama suasana hatinya terhadap sesama tidak berubah selama itu penilaian mereka terhadap sesama tidak akan berubah dan itu berarti perubahan tidak dimung-kinkan. Dari kisah ini, ada beberapa hal yang dapat kita petik untuk memperkaya diri dalam merubah kisah hidup kita, ceritera relasi kita dengan sesama; merubah dunia. “Akulah terang dunia”. Listrik boleh padam, pelita boleh kehabisan minyak dan malam mungkin terlalu panjang tetapi kehadiran kita harus membawa terang bagi siapa saja. Kita bukan matahari, bukan pula pelita, tidak juga bulan tetapi kehadiran kita harus mampu mem-buka mata sesama untuk melihat dunia dengan kacamata yang jernih, memandang dan menilai sesama dengan pandangan yang obyektif dan positif. Kehadiran kita dan apa yang kita lakukan mesti menginspirasi sesama untuk melihat bahwa perubahan hidup selalu mungkin dan rintangan adalah batu uji kesetiaan kita, peluang untuk menemukan jalan baru bagaimana mewujudkan iman kita dalam kehidupan yang nyata. Muncul pertentangan antara Yesus dan kaum Yahudi terjadi karena beda presepsi, beda pandangan antara kedua kelompok ini karena Yesus memaksudkan terang dalam arti spiritual sedangkan kaum Yahudi melihat terang dalam bentuk lampu atau matahari, cahaya yang sesungguhnya. Mungkin juga mereka mengerti apa yang dimaksudkan Yesus tetapi mereka justeru mempersoalkan hal ini karena hati sudah dipenuhi ketidaksukaan akan apa yang dilakukan Yesus. Mereka harus punya alasan yang kuat untuk menyingkirkan Yesus. Yesus Tahu kita bukan matahari, bulan atau bintang tetapi dampak kehadiran kita dapat menyerupai matahari, bulan dan bintang ataupun pelita di waktu malam. Pelita yang penuh berisi minyak hanya berarti bila dinyalakan. Syair yang indah dapat menjadi lagu kalau dinyanyikan, kehadiran kita hanya mungkin berarti kalau memberi nilai tambah bagi kebersamaan dan kerajaan Allah hanya mungkin dirasakan kehadirannya bila kita bersedia membiarkan nilai-nilai kerajaan yang satu ini hidup dan mempengaruhi hidup dan relasi kita dengan yang lain. Sebagai cahaya berfungsi untuk menerangi seisi rumah demikian pula karya dan pelayanan kita harus melampaui segala batas yang ada. Pelita menerangi seisi ruangan tanpa menciptakan pengkotakan dan tem-pat di mana ia diletakan menentukan luas jangkauan cahaya pelita itu. Mengusir kege-lapan, ia rela menghanguskan dirinya. Dan bila pelita itu di sejajarkan dengan apa yang kita miliki maka setiap orang harus mampu menggunakan apa yang ada padanya untuk membantu sesama menemukan terang, hidup, apa yang mereka impikan. Seperti pelita, kita dapat menjadi penunjuk jalan, sumber inspirasi, daya dorong, jiwa yang menggerakkan mereka. Yang kita miliki harus menjadi jembatan yang mempertemukan kita dengan kita bukannya menciptakan kotak-kotak tak kelihatan yang memisahkan kita dengan kita. Bila kita adalah pelita itu sendiri maka di manapun kita berada, di sana teranglah yang harus kita bawa. Kehadiran kita mesti mapu meruntuhkan tembok-tembok tidak kelihatan yang memisahkan kit dengan kita. Potensi yang kita miliki, pelita hidup kita bila dinyalakan pada waktu yang tepat dan ditempatkan pada tempat yang seharusnya, akan banyak manfaatnya. Bila ini kita lakukan, pelangi kehidupan dapat selalu kita saksikan tanpa harus menanti meredanya hujan.

Kita selalu ada dalam kebersamaan dan kita menghendaki agar kebersamaan kita tetap lestari sehingga dengan demikian kehadiran kerajaan Allah dapat dirasakan. Dan ini hanya mungkin bila kehadiran kita membawa terang dan terang yang kita bawa tidak menciptakan pengkotak-kotakan dan mempertajaman perbedaan, tidak dipakai untuk mengukur kehidupan orang lain. Sebaliknya terang kehadiran kita mesti mempersatukan dan meruntuhkan tembok tembok pemisah seperti kehadiran sebuah pelita yang mampu menghalau kegelapan sebuah ruangan. Untuk itu, kita perlu membakar diri, punya kerelaan untuk berkorban. Hanya dengan kesediaan untuk berkorban, kita dimungkinkan untuk mengurangi korban-korban yang tidak perlu. Tetapi semua ini hanya mungkin bergantung dari isi hati kita; hati yang baik memungkinakan segalanya.

“Kalau kita semua berusaha menjadi dan membawa terang, tidak mungkin ada kegelapan”.
[ back ]