Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 19-03-2010 | 19:49:54
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “KOREKSI DIRI”
Yoh 8:1-11, Minggu, 21 Maret 2010

Kita tidak bebas dari kesalahan karena pada kita ada kekurangan dan kelemahan yang selalu menanti saatnya untuk tampil. Hanya saja terkadang kita lupa akan kenyataan ini. Kita lebih melihat kesalahan sesama dan lebih dari itu kita punya kecenderungan untuk membesar-besarkan kesalahan mereka dan sering itu dijadikan alasan untuk mengabaikan kebaikan dan keunggulan mereka, kesempatan untuk merendahkan mereka, peluang untuk balas dendam. Padahal bila kita menyadari bahwa ada nilai lain dari kesalahan mereka kita toh tidak akan begitu mudah menuding mereka. Kesalahan sesama tidak berarti kita lebih baik dari mereka. Dalam kesalahan mereka kita mesti melihat kesempatan untuk menjadikan diri kita baik ataupun lebih baik dari mereka. Kita bisa mene-mukan cela untuk menghindarkan diri dari kesalahan yang sama dan membantu mereka keluar dari kesulitan ini. Tetapi hal ini memang bisa dipahami karena dalam kebersamaan ini ada saja orang yang suka mencari-cari alasan untuk mengabaikan kelebihan sesama dan ada lagi yang cenderung melihat kesalahan orang lain, menghakimi dan lupa bahwa dirinya tidak jauh berbeda dari mereka yang diadili. Kecenderungan-kecenderungan ini masih pada batas toleransi dalam arti masih bisa diatasi atau dikendalikan. Ia berdampak negatif bila berubah menjadi pandangan hidup, sikap dasar; bukan lagi kecenderungan tetapi kebiasaan. Bagaimana dengan diri anda?

Hari-hari puasa yang kita jalani mendekati garis batas. Menghitung hari dan melihat usaha yang sudah kita jalankan; mestinya sudah mulai terlihat adanya perubahan dalam diri kita, dalam relasi antara kita, Tuhan dan sesama. Kebiasaan-kebiasaan lama sudah mulai kita tinggaltanggalkan dan kebiasaan-kebiasaan hidup baru mulai nampak dalam keseharian kita sebagai orang-orang beriman. Hal ini merupakan satu keharusan karena puasa itu sendiri merupakan kesempatan untuk berbenah diri, saat berahmat untuk membaharui relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Hari-hari tobat ini, mestinya kita gunakan untuk meningkatkan kesadaran bahwa dalam kebersamaan kehadiran kita mesti memberi warna yang khas bagi diri dan sesama. “Koreksi diri”, kata-kata ini menggarisbawahi salah satu kecenderungan kita dalam relasi dengan yang lain. Kita suka dan mudah sekali menghakimi dan menjatuhkan vonis terhadap sesama lalu lupa untuk melihat diri sendiri. Kekurangan sesama harus menggugah kita untuk melihat ke dalam diri; apakah kita jauh lebih baik dari mereka, apakah kita juga tidak turut ambil bagian dari kesalahan mereka, apa usaha kita untuk menghindarkan mereka dari perbuatan salah. Kita hidup bersama, keberhasilan mereka menjadi keberhasilan kita dan kegagalan mereka mestinya menjadi kegagalan kita juga entah langsung maupun tidak. Kritikan yang kita berikan mesti diikuti dengan jalan keluar bagaimana mengatasi hal ini. Kedua, bila kita melihat sepintas, kata-kata ini seolah-olah meminta kita untuk membiarkan orang lain berbuat salah, mentolerir kesalahan yang mereka lakukan. Koreksi diri tidak berarti kita tidak boleh mengeritik kekurangan dan kesalahan sesama. Saling mengingatkan adalah tugas kita tetapi harus diimbangi dengan semangat untuk melihat ke dalam diri sendiri dan cara kita mendekati mereka perlu mendapat perhatian. Kita tidak hadir dalam kebersamaan sebagai pengamat ataupun mata-mata. Dan kita perlu ingat bahwa setiap kita punya potensi yang sama untuk melakukan kesalahan. Di sini kita diingatkan untuk berlaku adil bila kita memang mau mengoreksi hidup orang lain. Kita boleh menghakimi sesama bila ada bukti kuat bukan dengan alasan yang dicari-cari. Perlu kita ingat bahwa kesalahan sesama tidak berarti riwayat hidupnya telah berakhir. Keseharian kita menunjukkan bahwa sering kita begitu mudah mengoreksi sesama, lebih mudah melihat kesalahan, lebih mudah mengeritik sesama ketimbang melihat kebaikan mereka, mengakui kesalahan diri sendiri; serbuk di mata sesama lebih besar dari balok yang membendung penglihatan kita. Dalam banyak hal kita belum berlaku adil terhadap sesama.

Koreksi diri, kita diminta untuk berlaku adil terhadap sesama. Kalau kita begitu gampang mengoreksi sesama, mestinya gampang juga kita mengakui kekurangan dan kesalahan kita. Selain itu, kita mesti punya alasan yang kuat untuk melakukan hal ini ter-hadap sesama. Di samping itu kita sendiri diminta untuk bersikap adil terhadap diri sendiri; di hadapan hukum semua sama. Kita perlu berhati-hati karena kita punya potensi untuk melanggar hukum dan aturan yang ada jangan sampai tindakan kita kepada sesama jadi bumerang bagi diri kita. Mungkin baik sebelum mengeluarkan serbuk dalam mata sesama kita keluarkan terlebih dahulu balok yang ada di mata kita. Jangan biarkan Yesus menulis di tanah untuk kedua kalinya....

“Mari bercermin pada kekurangan sesama untuk menjadikan diri kita jauh lebih baik”.
[ back ]