Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-03-2010 | 22:33:41
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JADILAH ORANG YANG TULUS HATI”
Luk 2:41-51, Jumat, 19 Maret 2010

Pernahkah kita menyadari bahwa hati kita menjadi kunci segalanya? Cuaca hati kita menentukan cuaca relasi kita dengan sesama. Semua kita punya hati tetapi perlu kita akui bahwa tidak semua kita menggunakan hatinya saat berelasi dengan dunia karena ada yang lebih mengandalkan budinya dalam menanggapi segala sesuatu sehingga ada sementara orang yang dikatakan murah hati, tulus hati, ada lagi yang dicap keras hati, ada yang dikatakan iri hati, ada yang dipuji orang yang rendah hati tetapi yang lain dikatakan tinggi hati dan ada lagi yang dikatakan mati rasa. Apapun predikat yang dikenakan hati dan sikap hidup kita; hati memang menjadi tempat tumbuh aneka rasa yang kemudian membidani lahirnya aneka predikat. Hati dapat menjadi tempat tumbuh rasa kasih dan segala rasa yang bernilai positif, tempat yang sama dapat menjadi lahan subur tumbuhnya rasa benci dan segala rasa yang selalu menciptakan mendung pada langit hidup. Hati macam mana yang sedang bergantung dalam rongga dada anda?

Hari ini kita merayakan pesta ‘St. Yosef’ satu perayaan di mana kita yang merayakannya diundang untuk bercermin diri pada ketulusan hati pria keturunan Daud ini; melihat hati macam mana yang sedang kita miliki dan menata hati kita agar hatinya menjadi hati kita juga. Kita sudah biasa merayakan pesta ini, tetapi kita belum biasa melihat dampak pesta ini terhadap hidup dan relasi kita dengan yang lain. Mestinya kita merayakan pesta ini bukan karena pesta ini tercancum pada kalender kerja kita; kita senang karena merayakan pesta ini berarti kita punya kesempatan untuk libur dari kerja. Kita merayakan pesta ini karena pesta ini punya makna dan manfaat bagi hidup kita sebagai orang-orang beriman. Di jaman di mana banyak orang/keluarga yang karena mengejar pemenuhan kebutuhan material, sudah tidak lagi berhati untuk mengajari anak-anak mereka menghidupi kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga baik yang berhu-bungan dengan kehidupan religius maupun kehidupan bermasyarakat; kita diajak untuk menata kembali bangunan kebiasaan ini; melihat bahwa penanaman nilai-nilai luhur kehidupan bersama tidak boleh diabaikan walaupun tuntutan kehidupan ekonomi sangat menuntut. Di era di mana banyak keluarga yang berantakan karena mereka hanya tinggal di bawah satu atap tetapi hati anggota-anggotanya jauh mengembara di luar atap, seperti Yosep dan Maria, kita dipanggil untuk bersatu dan bekerja sama menemukan kembali hati yang hilang, kebahagiaan bersama yang menjadi impian setiap orang. Meskipun sudah jauh berjalan, tetapi ketika menyadari bahwa Yesus tidak ada bersama mereka; Yosep dan Maria berbalik memasuki Yerusalem untuk mencari Yesus; lebih baik cape mencari Yesus dari pada cape menyelesaikan soal karena membiarkanNya hilang di Yerusalem. Ada banyak orang di sekitar kita yang hilang dalam rimba jaman yang penuh persaingan ini, kitalah yang dipanggil untuk membawa mereka kembali menemukan kepercayaan dirinya, jati dirinya. Ada banyak anak yang terpaksa mencari perhatian di luar rumah dan membawa soal ke dalam rumah karena mereka kurang mendapat kasih dan perhatian dari orang tua mereka. Ada tidak sedikit anak yang berpindah dari rumah satu teman ke rumah teman lain karena tidak betah di rumah lantaran hampir setiap hari mereka menyaksikan orang tua mereka bertengkar dan saling mencaci maki. Begitu sering kita berusaha keras memenuhi kebutuhan material mereka tanpa memikirkan suasana batin mereka. Tidak jarang kita lebih memperhatikan keselamatan kita sendiri dan membiarkan mereka tersesat atau kitalah yang menjadi biang ketersesatan mereka. Banyak anak yang menjadi dewasa sebelum umur karena tidak diperhatikan atau kelewat dimanjakan oleh orang tuanya sehingga anak-anak tidak memiliki hatinya sendiri. Di dunia di mana orang lebih banyak menggunakan otak untuk menanggapi setiap soal, kita diajak untuk memiliki hati seorang Yosef yang selalu dalam diam menjalankan apa yang menjadi tugasnya sebagai pendamping Maria. Apakah sikap seperti ini dapat kita hidupi?

Hati adalah segalanya; ia bisa mengalirkan rahmat yang menghidupkan, dari tempat yang sama dunia hidup kita bisa hancur berantakan. Dia bisa menjadi tempat tumbuh rasa kasih yang mempersatukan, darinya bisa hadir rasa benci yang menceraiberaikan. Di jaman ini, banyak orang yang terserang penyakit hati yang sangat membahayakan baik diri maupun orang lain; kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk menyembuhkan penyakit-penyakit ini. Bila kita tidak sanggup memberi kesembuhan biarlah kita bercermin pada hati sang bunda yang coba merekam semuanya dalam diam dan berusaha menyembuhkannya dengan cara hidup kita sendiri. Hanya dengan cara ini hati dan hidupnya dapat menjadi hati dan hidup kita.

“ Hati ada untuk mencintai dan untuk itu kita perlu belajar dari sesama”.
[ back ]