Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-03-2010 | 19:30:57
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘HIDUP ANDA ADALAH SAKSI’
Yoh 5:31-45,Kamis, 18 Maret 2010

Berbicara tentang kesaksian berarti berbicara kata, laku dan hidup kita yang dapat dijadikan bukti, data, penjelasan dan keterangan untuk memperkuat satu fakta. Ia sengaja dihadirkan untuk meyakinkan, memperkuat dan membenarkan fakta yang dengannya kita diperhadapkan. Kalau ada kesaksian, ada juga apa yang kita namakan saksi. Ada macam-macam saksi; ada saksi bisu; kenyataan yang berbicara lewat kehadirannya, ada saksi mata, tertuju kepada mereka yang langsung menyaksikan berlangsungnya satu peristiwa, ada saksi hidup, orang-orang yang turut mengalami satu perjalanan sejarah dan masih hidup sehingga darinya bisa diakses aneka keterangan tentang satu peristiwa dan ada pula saksi palsu tertuju kepada mereka yang memberikan keterangan buatan untuk mengelabui orang lain dan meluputkan diri sendiri. Dari aneka wajah kesaksian ini, kita dapat melihat wajah kita sendiri dalam keseharian kita. Di sini hidup ibarat satu pentas pengadilan di mana di atas pentas itu masing-masing kita diberi kebebasan untuk bersaksi. Apa bentuk kesaksian kita, semua ini bergantung dari motivasi yang melatarbelakangi kehadiran kita di atas pentas hidup tersebut. Apapun yang kita lakonkan, itulah bentuk kesaksian yang kita berikan kepada dunia. Di sana di atas pentas itu berdasarkan peran yang kita mainkan, orang dapat menilai model kesaksian mana yang sedang kita berikan. Anda boleh jadi saksi bisu, saksi mata atau saksi hidup tetapi jangan pernah jadi saksi palsu.

Masa puasa sedang mendekati garis batas, Paska pesta kebangkitan sudah kian mendekat. Masa puasa, saat di mana sebagai orang beriman kita diajak untuk mengevaluasi hidup dan relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari hari-hari awal kita memasuki masa berahmat ini? Sudahkah kita siap untuk bangkit bersama Kristus sebagai manusia-manusia baru yang diselamatkan dan siap menyelamatkan orang lain? Memasuki masa puasa, kita diminta untuk mengasing-kan diri agar dapat melihat diri dan relasinya dengan dunia secara jelas. Perlahan-lahan kita dibawa untuk melihat peran kita sebagai orang-orang beriman dalam kebersamaan, sudahkah kita berperan sesuai dengan peran yang harus kita mainkan? Hari ini, kita bertemu dengan Yesus sebagai seorang saksi yang berbicara tentang bagaimana seharus-nya bersaksi tentang hidup. Bagi Yesus, seorang saksi tidak perlu berkata-kata tentang siapa dirinya. Tugasnya adalah melakukan apa yang harus ia lakukan karena dengan memainkan perannya secara bertanggung jawab sebenarnya di sana ia sedang bersaksi. Di sini Ia hendak menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang kita katakan tetapi apa yang kita lakukan/kita hidupi. Di sini dari kita dituntut kerendahan hati, keterbukaan dan kesediaan/kebesaran hati untuk menerima apa kata hidup kita tentang diri kita, apa yang dikatakan orang tentang hidup kita. Biarkan apa yang kita lakukan berbicara tentang kita, bersaksi tentang kita. Apa yang kita katakan itulah yang mesti kita hidupi dan apa yang kita hidupi itulah yang mesti kita katakan. Mengapa mesti demikian? Karena kata-kata gampang diputarbalikan tetapi hidup tidak dapat didustai; dia berbicara apa adanya tanpa mengada-ada. Apa yang anda hidupi itulah yang dikatakan orang walaupun terkadang orang mengatakan apa yang tidak kita hidupi. Selain itu, bila kita berbicara tentang diri sendiri ada kemungkinan kita melebihkan atau mengurangi kenyataan yang ada dan bisa saja terjadi kata-kata kita menjadi bumerang bagi diri kita sendiri atau bisa saja apa yang kita katakan tanpa kita sadari meremehkan peran mereka yang lain. Yesus mengatakan hal ini karena kita cenderung bersikap demikian. Karena itu jangan mengata-kan bahwa kita siap bangkit bersama Kristus, biarkan hidup kita yang apa adanya berkata bahwa kita siap mengenakan manusia baru, manusia dengan cinta yang mengabdi tanpa pengkotakan.

Seperti Kristus, ke manapun kita pergi dan apapun yang kita lakukan, kita adalah saksi-saksi hidup di mana dari diri kita sesama dapat belajar bagaimana seharusnya hidup sebagai orang-orang beriman. Selain bersaksi tentang iman kita, kita sebenarnya bersaksi tentang siapa kita. Dari hidup dan kehadiran kita orang dapat melihat kita kita sebenarnya dalam kebersamaan. Di sini yang terpenting bukanlah apa yang kita katakan tetapi apa yang kita hidupi. Karena itu jalani hidup anda apa adanya tanpa harus mengada-ada. Kita tidak hidup dari pandangan orang tetapi kita membutuhkan pandangan mereka untuk hidup, menjadi diri kita sendiri. Anda boleh saja bisu tetapi jangan pernah membisu apalagi menjadi saksi-saksi palsu.

“Kesaksian yang tidak dapat didustai adalah hidup kita sendiri”
[ back ]