Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 16-03-2010 | 00:45:28
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : SEANDAINYA KAMU PERCAYA
Yoh 5:17-30, Rabu,17 Maret 2010

Pengandaian selalu menggambarkan dua hal; pertama bahwa apa yang sudah terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki, apa yang kita bayangkan atau sesuatu akan terjadi seturut skenario bila apa yang menjadi syaratnya dapat kita penuhi. Pengandaian juga mengisyaratkan adanya hubungan sebab akibat; kalau seperti ini......makan akan jadi begini...Dan pada umumnya pengandaian lahir sesudah sesuatu terjadi... seandainya dia mau mengikuti apa yang saya katakan, pasti hal ini tidak akan terjadi. Dalam hubungan dengan rasa; pengandaian bisa hadir sebagai ungkapan penyesalan ataupun ekspresi kekecewaan; seandainya kamu ada di sini, pasati tidak akan jadi begini. Seandainya kita hidup sesuai dengan iman kita, membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita, hidup ini pasti lain; kita tidak akan menyaksikan ataupun berhadapan dengan aneka soal yang datang dalam beragam wajah. Seandainya yang ada di hatimu adalah rasa kasih pasti kamu tidak perlu susah-susah mencari alasan untuk menolak kehadiran sesama. Pengandaian ini juga mendorong kita untuk bersaksi. Melalui pembaptisan kita mendapat tugas sebagai saksi bukan untuk sebuah perkara kejahatan tetapi berhadapan dengan perkara kehidupan. Seandainya dalam kebersamaan, kita sanggup memberikan kesaksian tentang apa yang kita imani; hidup yang lebih baik, keharmonisan yang lestari, kesalingan dalam mencinta bukan tidak mungkin dapat kita saksikan dan alami dalam hidup yang singkat ini. Melihat kenyataan yang ada dan hadirnya pengandaian ini, kita bertanya; Sudah sejauh mana kita memberi kesaksian tentang hidup yang lebih baik dalam kebersamaan di tempat di mana kita ada dan mengais hidup?

Hari-hari puasa mendekati garis batas. Bila harus membuat perbandingan, mestinya kita menemukan kenyataan banyak sudah ada banyak perubahan dala diri dan relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Tetapi mungkin juga sebaliknya, relasi di antara kita justeru semakin memburuk. Hal yang sama dapat kita saksikan dalam kisah-kisah injil hari-hari belakangan ini. Bila kita jeli menyimak kisah-kisah ini, kita akan menemukan kenyataan bahwa sikap kaum Yahudi terhadap Yesus bukannya semakin membaik tetapi justeru se-makin memburuk, mereka makin tidak kenal kompromi; semakin banyak perbuatan baik yang ditunjukan Yesus, semakin besar rasa antipatinya terhadap Yesus, apa yang dilakukan Yesus ternyata tidak mampu merubah isi ruang hatinya bahkan mereka semakin gencar mencari-cari alasan untuk mengingkari semua yang sudah Ia lakukan dan seiring dengan itu semakin besar pula kebencian mereka terhadap Yesus. Yohanes berkisah bahwa Yesus terpaksa harus memberi kesaksian tentang diriNya karena sudah tidak ada jalan lain untuk meyakinkan orang-orang Yahudi. Menjadi saksi bukan satu pekerjaan yang mudah apalagi kesaksian itu mesti diberikan di hadapan orang-orang yang ruang hatinya sudah dipenuhi rasa benci. Untuk itu, kesediaan adalah langkah awal, keberanian adalah kunci dan kejujuran mesti menjadi jiwa. Menghadapi kenyataan ini, Yesus menga-takan; ‘bila kamu percaya, kamu akan beroleh hidup’- bila kamu yang ada di hatimu bukan rasa benci, ceritera hidup ini pasti lain, sikapmu tidak seperti sekarang ini. Lalu ada apa di balik semuanya ini? Yang menjadi biang semuanya ini adalah sikap tidak suka dan rasa benci kaum Yahudi terhadap Yesus. Sekali lagi di sini hendak ditegaskan bahwa bila anda sudah tidak suka dengan sesama anda apa yang baik akan selalu buruk di mata anda dan selalu saja ada alasan untuk mengingkari kebaikan mereka. Di sini sikap kitalah yang menentukan apakah kita akan mengalami hidup dan menempati hidup di masa datang, apa yang ada dalam ruang hati kitalah yang menggerakkan dan memberi warna bagi sikap kita terhadap sesama. Di sini sebenarnya hendak dikatakan bahwa soalnya ada pada kita bukan pada orang lain. Yang menentukan diterima tidaknya sesama adalah diri kita sendiri berdasarkan penilaian kita dan bergantung dari rasa apa yang sedang mengisi ruang hati kita. Selain itu, kata-kata ini mengisyaratkan situasi keseharian kita, sebagai orang-orang beriman kita belum membiarkan kasih dan persaudaraan mengisi ruang hati kita, hidup kita masih sulit dibedakan dari hidup orang-orang Yahudi jaman Yesus. Kita lebih menikmati kebencian daripada membiarkan rasa cinta yang mepersatukan menjembatani segala perbedaan.

Dunia yang sedang kita huni ini sedang dibanjiri aneka tantangan. Tantangan bukanlah rintangan yang harus membuat kita surut langkah. Tantangan mesti dilihat sebagai peluang menemukan jalan baru bagaimana membuat impian kita menjadi kenyataan. Tantangan mengasa motivasi, menguji kesetiaan, mempertebal kepercayaan, hanya saja apakah kita bersedia menghadapinya? Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang berada dalam kebimbangan menghadapi kesehariannya yang tidak bersahabat, kitalah yang mesti menjadi penolong mereka untuk keluar dari keruwetan hidup ini. Hanya orang yang bertahan yang akan sanggup membuat impiannya jadi kenyataan. Hanya orang-orang yang ruang hatinya dihuni rasa kasih yang mempersatukan yang akan menikmati hidup ini.

“Biarkan apa yang anda lakukan bersaksi tentang anda”
[ back ]