Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 15-03-2010 | 07:32:14
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘MARI BERGURU PADA YESUS’
Yoh 5:1-16, Kamis, 18 Maret 2010

Kita selalu ada bersama yang lain. Di sini kebersamaan mesti dilihat sebagai arena di mana kita dapat belajar dari sesama bagaimana bisa berbuat baik ataupun menjadi jauh lebih baik; kita bisa belajar bagaimana mengubah keprihatinan kita menjadi sesuatu yang berwajah lewat satu tindakan nyata. Tetapi semua ini hanya mungkin bila kita punya kerendahan hati yang tahan uji; di mana keberhasilan sesama tidak membuat kita rendah diri dan kekurangan kita tidak menjadikan kita orang yang tertutup melainkan siap membuka diri untuk diperkaya dan disempurnakan. Selain memupuk kerendahan hati, kita juga mesti memiliki sikap yang tahan uji; karena tidak semua yang baik yang kita lakukan akan mendatangkan tanggapan yang positif dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Sebaliknya kebaikan yang kita lakukan bisa saja memperbesar ketidaksukaan orang terhadap kita atau ketidaksukaan kita terhadap sesama. Dasarnya, kalau kita sudah tidak suka terhadap sesama, apa yang baik yang kita atau mereka lakukan akan selalu negatif di mata kita walaupun seluruh dunia memberinya sanjungan. Kenyataan ini tidak boleh menyurutkan langkah kita untuk tetap berbuat baik karena kita ada dalam kebersamaan untuk melestarikan kebersamaan itu bukan sebaliknya. Kita harus tetap berbuat baik dengan harapan kebaikan kita dapat meluluhkan hati mereka yang menolak kebaikan. Sampai di sini, kita perlu siap untuk berkorban karena kebaikan kita bisa menghantar kita kepada salib.

Hari-hari terus bertukar dan masa puasa menjelang garis batas. Mestinya sudah ada banyak perubahan yang terjadi dalam diri kita, dalam relasi kita dengan Tuhan dan sesama, kita sudah menjadi jauh lebih baik dari kita sebelumnya. Di sini kita kembali diingatkan bahwa kebersamaan di mana kita ada dan mengais hidup mesti menjadi arenanya. Yohanes berkisah bahwa satu ketika Yesus tiba di Betesda. Di sana matanya tertuju pada seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan. Yesus menawarkan bantuan dan orang itupun tertolong. Peristiwa ini menarik karena orang-orang Yahudi tidak melihat apa yang dilakukan Yesus, mereka justeru mencari-cari alasan untuk mengingkari apa yang baik yang Ia lakukan, mereka mempersoalkan apa yang sebenarnya tidak perlu dipersoalkan. Dari kita ini, ada beberapa hal yang dapat kita simak sebagai pelajaran untuk menjadikan diri kita baik dan bisa berbuat baik bagi sesama. Pertama, Betesda, nama tempat. Dengan dijelaskan lokasi terjadinya peristiwa penyembuhan ini, di sini hendak ditekan bahwa seperti Yesus di mana saja kita berada tempat itu mesti menjadi arena di mana kita dapat berbuat sesuatu untuk merubah kisah hidup sesama. Karena di sana ada banyak orang yang yang menderita aneka penyakit yang butuh uluran tangan kasih kita. Kedua, tawaran Yesus. Di sini hendak ditekankan bahwa bila sesama engggan membuka mulutnya, kitalah yang mesti menawarkan bantuan apapun tanggapannya. Kita mesti tahu tidak semua orang sanggup mengungkapkan rasa pahit yang mereka derita, kepekaan kitalah yang akan mampu menolang mereka keluar dari kerumitan hidupnya. Ketiga, jangan pelihara rasa benci dan ketidaksukaan dalam diri anda. Bila anda memelihara sikap ini dalam hati anda, anda akan ditemukan tidak jauh berbeda dari mereka yang suka mencari-cari alasan untuk mengabaikan kebaikan sesama seperti apa yang dilakukan oleh kaum Farisi dan orang-orang Yahudi. Keempat, sikap Yesus, tidak berhenti pada rasa prihatin. Apapun tanggapan orang, kita harus tetap berbuat baik. Penolakan, kebencian dan ketidaksukaan tidak boleh memadamkan semangat kita untuk berbuat baik. Di sini kerelaan untuk berkorban menjadi kuncinya. Perubahan hanya mungkin kalau kita tidak berhenti hanya pada rasa prihatin. Keprihatinan kita mesti diberi wujud dalam tindakan nyata. Kelima,biarkan mereka yang menerima kebaikan kita memberikan kesaksian tentang siapa kita.

Kita tidak menghendaki berada dalam situasi suram tetapi begitu sering kita membiarkan diri berada dalam situasi suram ini. Kita tidak bersedia belajar dari sesama bagaimana mengartikan hidup dan kehadiran kita dalam kebersamaan. Tutur kata, tingkah laku dan hidup kita belum menampakan kekhasan kita sebagai orang pilihan, orang yang berkenan karena yang kita lakukan justeru sebaliknya. Seperti kaum Farisi, kita membenci mereka yang berbuat baik dan menggantikan tempat Roh dengan roh-roh ciptaan dan idola kita yang lebih banyak menimbulkan soal ketimbang menyembuhkan situasi. Siapapun kita dalam kebersamaan, kita dipanggil untuk bercermin dan menata hidup dan kehadiran kita di hadapan cermin kehadiran Yesus. Bila hidupNya telah menjadi hidup kita, hidup ini akan lain ceriteranya..

"Di mana saja anda berada, di sana anda selalu dipanggil untuk berbuat baik"
[ back ]