Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 16-07-2009 | 08:12:31
By : P. Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘KALAHKAN KEKERASAN DENGAN KELEMAHLEMBUTAN’
(Mateus 11:28-30, Kamis, 16 Juli 2009)

Pernahkah anda mengalami kekerasan yang dilakukan terhadap diri anda atau anda melakukan kekerasan terhadap orang lain? Pernahkah anda membayangkan apa dampak dari kekerasan terhadap diri anda dan mereka yang diperlakukan demikian? Kekerasan tidak menyelesaikan soal, bahkan sebaliknya memperlebar wilayah masalah, menguak kembali luka lama. Kekerasan membunuh fisik, menyakiti tubuh tetapi tidak pernah akan mematikan semangat jiwa seorang pejuang. Keras lawan keras selalu ada yang mesti jadi korban tetapi kekerasan lawan kelemahlembutan mematikan semangat orang yang suka bertempur. Hal ini telah dibuktikan Mahatma Ghandi dengan gerakan Ahimsanya atau kemartiran para mahasiswa di China. Bagaimana anda bisa merasa menang kalau tidak ada perlawanan. Tetapi ini hanya mungkin bila orang mau berkorban, tidak mau menang sendiri. Dalam syairnya, ‘Me ultimo adios’ Jose Rizal menulis, ‘betapa indah aku jatuh tersungkur agar kau dapat bangkit, betapa manisnya ajal agar kau dapat hidup’. Penggalan syair ini begitu sederhana tetapi dalam kesederhanaan itu, syair ini mengungkapkan rahasia kehidupan ini, bagaimana menjadikan hidup kita berarti bagi orang lain. Nilai kehadiran kita bergantung dari kesediaan kita untuk berkorban, kerelaan kita untuk mengalah. Hidup kita hanya berarti bila kehadiran kita membuat sesama berarti, menemukan kembali kesejatian dirinya dalam dan melalui kehadiran kita.

Saya tidak apa suasana hidup anda saat ini, yang saya tahu hidup semakin sulit dijalani, apa yang kita impikan rasanya mustahil jadi kenyataan di dalam keseharian kita yang kian dipenuhi aneka soal. Kekerasan dan cinta diri yang berlebihan telah merusak kebersamaan kita dan menjauhkan kita dari perwujudan impian kita. Situasi ini menantang kita bagaimana menemukan dan mengartikan hidup dan kehadiran kita di antara yang lain. Untuk memulihkan situasi suram ini, mengartikan kehadiran kita di antara mereka yang lain, Yesus mengajak kita untuk belajar dari Dia. Kehadiran kita mesti menyerupai kehadiranNya. Lihatlah, di mana Dia hadir di sana banyak mukjizat terjadi; yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, yang buta melihat, yang mati dibangkitkan, yang kurang percaya diyakinkan, roti digandakan dan air dirubah jadi anggur. Kehadiran Yesus selalu mengubah situasi hidup orang mejadi jauh lebih baik, meringankan beban nereka yang berbeban berat dan memberi kelepasan. Bercermin pada hidup dan kehadiranNya, kita mesti mengakui kelemahan kita. Kita adalah orang-orang beriman tetapi hidup kita masih jauh dari iman yang kita miliki. Kehadiran kita bukannya memberi nilai tambah tetapi justeru sebaliknya merusak kebersamaan dan menurunkan nilai kehadiran kita. Kehadiran kita bukannya memberi kelegaan tetapi justeru manghadirkan dan memperbesar rasa gelisah. Di mana kita hadir di sana yang disaksikan bukannya peristiwa perbanyakan roti tetapi peristiwa pemiskinan sesama; di mana kita hadir suasana pesta berubah menjadi suasana duka. Hidup kita hanya mungkin berarti dan banyak soal dalam hidup dapat dihindari/dikurangi bila kita membiarkan kelemahlembutan mendapat tempat hidup yang layak dalam hati dan hidup kita. Kekerasan telah merusak tatanan sosial yang ada, hidup bersama tidak lagi menjadi peluang membuat impian kita jadi kenyataan tetapi menjauhkan kita dari apa yang kita impikan. Kekerasan melebarkan wilayah masalah, mempersulit diri dan kata orang mereka yang mengandalkan kekerasan adalah orang-orang tidak mampu secara intelek-intellectually challenge, sedangkan kelemahlembutan mampu meredam kekerasan dan mempersempit area masalah. Hanya saja kita lebih mengandalkan kekerasan ketimbang menumbuhkembangkan kelemahlembutan dalam diri karena kita bangga bila ditakuti. Padahal kita diciptakan bukan untuk menjadi binatang buas bagi yang lain. Selain itu, hidup kita hanya mungkin berarti bila kita punya sikap rendah hati. Hal ini sulit dijalankan dalam keseharian kita tetapi justeru dalam kesulitan ini kesejatian iman kita diuji. Jangan pernah menganggap remeh sesamamu karena di saat anda meremehkan mereka di saat itu tanpa sengaja anda telah menciptakan jurang pemisah antara kita dengan kita.

Situasi suram hidup ini kian hari kian menakutkan. Ke dalam situasi seperti inilah kita diutus dan dalam situasi seperti inilah senar kehidupan kita digetarkan. Apa yang mesti kita lakukan untuk membangun kembali fisdaus yang hilang? Kita mesti membuat kehadiran kita berarti bagi sesama. Jalan yang ditempuh adalah mengartikan hidup kita sendiri, menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri, membiarkan kelemahlembutan menguasai seluruh laku kita dan kerendahan hati menjadi dasar pijak setiap aksi kita saat hendak membuat sejarah. Kekerasan tidak memberi apa-apa selain melukai hati dan membangkitkan dendam dan menununjjukkan bahwa orng itu secara intelek tidak mampu; kelemahlembutan punya daya magis yang mampu mencairkan kebekuan sebuah hati dan kerendahan hati adalah jembatan yang mempertemukan segala perbe-daan. Mengartikan hidup anda, siaplah belajar dari Yesus sang guru.

[ back ]