Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-03-2010 | 00:04:23
By : Erminold manehat, SVD
Theme : TIDAK HANYA SOAL KATA-KATA
Lk 18:9-14, Sabtu, 13 Maret 2010

Hari-hari pemilu makin dekat, suasana kampanye makin memanas. Setiap orang berusaha meyakinkan pendengarnya bahwa merekalah yang layak dipilih. Di sini kita dapat bertemu dengan aneka tipe calon pemimpin. Ada yang memang mengatakan apa yang mereka buat, ada pula yang mengarang apa yang sudah mereka buat. Bahayanya; orang bisa saja begitu mengagungkan diri lalu meremehkan yang lain atau juga menyampaikan hal-hal yang muluk yang belum tentu dapat direalisir kemudian hari, hal ini di-sampaikan hanya sekedar mengelabui pendengarnya yang banyak kali dianggap bodoh. Mengapa untuk menjadi pelayan publik, hal-hal seperti ini mesti kita lakukan? Begitu sering kita menganggap diri jauh lebih baik dari orang lain ataupun berpikir bahwa yang ada pada kita hanyalah kebaikan, kita adalah pribadi tanpa cacat. Membanggakan diri, satu hal yang sangat manusiawi, membuat kita percaya diri dan bisa tampil meyakinkan. Tetapi sikap ini menjadi satu penyakit yang mesti disembuhkan bila kita membanggakan diri lalu meremehkan orang lain. Kita tidak menyadari bahwa pada saat anda meremehkan sesama di saat yang sama tercipta jurang yang me-misahkan anda dari mereka. Perlu dicatat, hidup ini berarti bukan karena apa yang kita katakan tetapi karena apa yang kita hidupi. Siapapun kita, kita tetap membutuhkan orang lain untuk menjadi diri sendiri dan setiap kita punya kelebihan dan kekurangan walau dalam kadar yang berbeda.

Mungkin sikap meremehkan sesama, menganggap diri jauh lebih baik adalah sikap bawaan manusia dan sikap ini akan menciptakan aneka soal dalam hidup bila dibiarkan menguasai seluruh ruang hati kita. Karena itu Yesus mengangkat hal ini dalam bentuk perumpamaan untuk mengingatkan kita; bagaimana seharusnya kita menempatkan diri di hadapan Tuhan dan sesama dan bagaimana membuat kebersamaan ini lestari tanpa ba-nyak soal. Selain itu, melalui kisah ini; Yesus juga hendak menyadarkan kita bahwa setiap kita punya kelebihan dan kekurangan sehingga kita tidak perlu bersikap sombong dan meremehkan sesama; kelebihan yang kita miliki tidak harus menjadikan kita standar kehidupan sesama dan kekurangan kita tidak boleh membuat kita menjauhkan diri dari kebersamaan, kita ada dalam kebersamaan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Melihat kecenderungan ini dan memikirkan bagaimana mengurangi kesukaan negatif ini, Yesus menampilkan dua tokoh yang mewakili dua kalangan berbeda; orang Farisi dan peungut cukai. Entah direncanakan ataupun secara kebetulan, keduanya datang ke rumah ibadat untuk menghadap Allah dalam doa. Melukiskan sikap keduanya, dikatakan bahwa si Farisi dalam doanya mengagungkan dirinya sambil meremehkan si pemungut cukai. Di sisi lain, si pemungut cukai yang menyadari siapa dirinya, dengan rendah hati mengakui segala dosa dan salahnya. Di mata Yesus, sikap si pemungut cukai patut dicontohi, dia kembali ke rumah sebagai orang yang dibenarkan Allah. Tuhan tidak melarang kita membanggakan diri, Dia hanya tidak menghendaki kita meremehkan sesama. Yang baik yang kita lakukan tidak perlu dibesar-besarkan. Tugas kita adalah membiarkan hidup kita yang baik menjadi cermin sesama untuk menata dirinya, membiarkan apa yang kita hidupi berbicara tentang kita. Lebih dari itu, kita tidak perlu bicara banyak tentang apa yang kita lakukan tetapi kita harus memberi waktu agar apa yang kita lakukan berbicara tentang siapa kita. Karena bila kita berbicara tentang diri sendiri, ada kemungkinanan kita melebihkan-mengurangi apa yang sebenarnya. Dan di sana tanpa kita sadari, tindakan kita menyepelekan orang lain. Siapapun kita, kita membutuhkan sesama. Untuk itu kita perlu membangun dan menumbuhkembangkan sikap rendah hati dalam diri kita karena di sana yang kurang bisa dilengkapi dan jurang pemisah dapat dijembatani. Bila hal ini kita hidupi, banyak soal yang dapat dihindari dan aneka masalah dapat diatasi.

Kita selalu hidup bersama. Bila dunia telah dirusakkan oleh kesombongan dan keangkuhan, sebagai orang-orang beriman kita ditantang untuk menunjukkan kesejatian kita; kita berbangga bukan karena keunggulan yang kita miliki tetapi karena dengan kelebihan kita, kita dapat membantu sesama keluar dari kerumitan hidupnya. Di sini, kita butuh kerendahan hati; mengakui bahwa pada diri kita ada hal-hal yang perlu dibanggakan dan ada saat di mana kita membutuhkan bantuan sesama untuk mengatasi kelemahan kita demi merubah kisah hidup ini. Dengan demikian, kelebihan kita tidak membuat kita meremehkan sesama dan kekurangan kita tidak membuat kita minder untuk mendekati mereka. Semoga dengan cara ini kita dapat kembali ke dalam keseharian kita sebagai orang-orang yang dibenarkan Allah.

“Biarkan hidup anda berceritera tentang siapa anda”
[ back ]