Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-03-2010 | 00:01:18
By : Erminold manehat, SVD
Theme : KASIHMU MESTI BERIMBANG
Mrk 12:28b-34,Jumat,12 Maret 2010

Saya tidak tahu rasa apa yang sedang mengisi ruang hati anda saat ini, tetapi saya sangat mengharapkan rasa kasihlah yang sedang menggerakkan roda kehidupan dan relasi anda dengan yang lain. Walalupun demikian perlu kita sadari bahwa kasih, kata ini sendiri bukan jaminan kedamaian dalam hidup. Ada tidaknya dia dalam hati merupakan kunci segalanya, dialah yang menentukan cuaca satu relasi, riak dan gelombangnya hidup. Kasih, rasa ini adalah ekspresi kedalaman batin manusia yang punya hati. Dialah jiwa setiap langkah yang kita pahat, setiap relasi yang kita rajut, setiap sejarah yang kita tuliskan, setiap peristiwa yang kita pentaskan. Karena itu, jangan pernah bertanya, ‘adakah kamu mengasihi saya’, tanyakan ‘apakah kamu punya hati buat saya’ karena yang punya hati yang peka yang bisa mendeteksi getar seberkas kasih, ia dapat merasakan apa yang sedang anda rasakan tanpa anda sendiri harus mengatakannya. Dia dapat melihat dengan jelas apa yang samar-samar anda perlihatkan, dia dapat memahami apa yang tidak anda katakan di balik kata-kata yang anda ucapkan, dia dapat membaca apa yang tersirat di balik huruf-huruf mati yang anda suratkan. Di sini hati dan kasih jadi hulu dan muara-nya hidup. Dari sana yang baik dan yang buruk bisa mengalir dan me-warnai hidup anda dan saya dengan warna-warni yang khas.

Ada banyak hukum dan aturan dalam hidup tetapi satu ketika Yesus ditanya, “manakah hukum yang terbesar yang menjadi jiwa, motor penggerak seluruh roda kehidupan manusia?’ Untuk pertanyaan ini, Yesus menjawab, ‘Kasihilah Tuhan AllahMu dengan segenap dirimu dan cintailah sesamamu seperti anda mencintai diri anda sendiri’. Dari jawaban ini, kita dapat menyimak bahwa cinta terhadap Tuhan dan kasih terhadap sesama sama nilai. Ini berarti cinta terhadap yang satu mesti menjadi ekspresi kasih terhadap yang lain. Inilah jiwa segala hukum, satu ungkapan klasik yang senantiasa aktual yang merupakan cermin ekspresi hati manusia terhadap Tuhannya, diri sendiri dan terhadap kembaran dirinya. Seperti yang kita ketahui; kasih, kata ini ada dalam aneka bahasa, dipentaskan dalam 1001 cara. Dan dari banyak tulisan, tentang kata ini ada yang mengatakan ‘sekali waktu cinta memberi sangat banyak, di lain saat kasih menuntut tidak sedikit, keikhlasan, kepasrahan, pengorbanan konon adalah bias dari sejatinya rasa yang satu ini, saat kita memberi tanpa meminta, mencintai tanpa berusaha memiliki, melihat jauh melampaui batas-batas yang ada......mengasihi seseorang berarti meminta dia untuk hidup, mengundang dia untuk berkembang, mengabdi tanpa mengorbankan, memberi kebaikan tanpa merusak yang diperbaiki’. Tetapi mengapa pertanyaan ini diulang lagi? Dengan diulangnya pertanyaan ini, di sini ketidakseimbangan cinta kita diangkat. Mungkin juga perulangan ini hendak menyadarkan kita bahwa kesediaan kita untuk mengasihi telah mengalami kemerosotan, relasi kasih di antara kita tidak berjalan seimbang, rasa ini yang seharusnya buta telah kita beri mata; kita begitu mencintai Tuhan yang tidak kita lihat tetapi justeru menutup mata dan pintu hati kita terhadap mereka yang ada di sekitar kita. Kita mengasihi Tuhan tetapi tidak mencintai sesama atau kasih kita terhadap sesama tidak lagi menjadi wujud nyata kasih kita kepada Allah sehingga kebahagiaan yang kita impikan dan kebersamaan yang merupakan ladang tempat tumbuhnya rasa kasih telah berubah menjadi medan perang, kita tidak lagi bertemu sebagai saudara tetapi sebagai musuh yang mesti saling menaklukan. Kita bisa berjalan puluhan kilometer untuk datang ke gereja atau masjid tetapi berat langkah kita untuk mendatangi tetangga karena relasi kita dengan mereka tidak bagus. Hukum ini menyadarkan kita bahwa cinta kita kepada Allah mesti menyata dalam kasih kita kepada sesama dan sebaliknya setiap ungkapan cinta kita terhadap sesama mesti merupakan wujud nyata cinta dan kasih kepada Allah. Apakah kita mengasihi Allah dengan seluruh diri masih perlu dievaluasi dan kesediaan kita mencintai sesama seperti diri kita sendiri masih harus dipertanyakan.

Kasih/cinta telah menjadi bagian keseharian kita bahkan ia adalah hidup kita. Mungkin juga rasa aneh yang satu ini sedang mengusik nubari anda lantaran ada yang mencuri perhatian anda. Sebagai orang-orang beriman, cinta kita terhadap Allah dan sesama mesti berjalan sejajar dan diberi porsi yang seimbang. Mencintai Tuhan tanpa mencintai sesama adalah penipuan, mencintai sesama tanpa mencintai Tuhan adalah pengkhiatan. Untuk mengetahui sejauh mana anda mencintai Tuhan Allahmu dan sesamamu, inilah pertanyaan yang mesti dijawab ‘Apakah anda punya hati kepada keduanya?

“Mengasihi Tuhan tetapi menolak sesame, kasih kita terhadap Tuhan tidak banyak berarti”.
[ back ]