Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 11-03-2010 | 01:02:10
By : Erminold manehat, SVD
Theme : KITA MESTI BANYAK BELAJAR
Luk 11:14-23, Kamis, 11 Maret 2010

Banyak hal aneh kita temui dalam hidup yang singkat ini dan begitu sering sulit dimengerti. Keanehan ini tidak saja kita saksikan tetapi juga berasal dari diri kita sendiri; kita begitu menekankan keunikan kita sampai-sampai apa yang kita tampilkan nampak aneh di hadapan kebersamaan dan bersamaan dengan itu kita jadi makhluk aneh dalam kebersamaan; tindakan-tindakan kita begitu sulit dimengerti atau tidak dapat dipahami akal sehat. Keanehan ini bisa saja tidak disadari, bisa juga berkembang dan menjadi satu sikap dasar/optio fundamentalis yang sulit dirubah. Di hadapan keanehan ini yang baik belum tentu bernilai plus, yang melakukannya pun belum tentu mendapat pujian dan kejahatan bisa saja dilihat sebagai sesuatu yang dinikmati. Sesama bisa ditolak bukan karena mereka melakukan kejahatan tetapi karena kebaikan yang dilakukannya. Hal ini bisa juga terjadi karena relasi kita dengan sesama tidak beres. Kalau kita sudah tidak suka dengan seseorang, semua hal yang berhubungan dengan orang itu akan selalu bernilai negatif di mata kita. Memang bisa saja terjadi indera kita dikelabui oleh gincu kebaikan; orang melalukan kebaikan bukan karena ia baik tetapi karena ada maksud tersembunyi di balik, kebaikan itu tak jauh berbeda dari gincu penutup bibir. Hal ini akan mudah diamati pada mereka yang integritas dirinya terpecah, pribadi yang tidak punya pendirian.

Hari ini Lukas berkisah tentang penyembuhan orang yang dirasuki setan yang membisukan. Perbuatan baik ini kemudian mendatangkan komentar negatif dari orang-orang Yahudi dan kaum Farisi. Dari kisah ini kita dapat melihat bebe-rapa hal yang bisa kita dijadikan bahan pelajaran buat kita untuk berbenah diri. Pertama, setan yang membisukan. Ini berarti kebisuan itu disebabkan oleh hal yang datang dari luar diri. Orang bisa bisu, tidak dapat bicara karena dari lahirnya demikian. Ada yang bisu, tidak dapat bicara karena takut, tidak percaya diri, ada lagi yang bisu-tidak dapat bicara karena diintimidasi dan ada yang bisu-tidak dapat bicara karena untuk itu dia telah mendapatkan sesuatu. Kisah ini menggam-barkan dunia kita yang sedang sakit. Jaman ini, ada begitu banyak orang yang dirasuki setan yang membisukan; setan ketakutan akan kehilangan posisi. Banyak orang bisu, tidak mau ambil resiko; mem-biarkan kejahatan berlangsung dengan tahu dan mau demi keamanan posisinya. Inilah yang menjadi sebab mengapa ketidakadilan menjadi santapan kita setiap hari. Hukum yang seharusnya netral mulai berpihak pada mereka mampu memberikan sesuatu untuk menutup mulut pembicara. Seperti Yesus, kita mesti mencari jalan untuk menyembuhkan kelompok ini, katub pita suara mereka perlu dilepaskan agar keadilan tidak lagi hanya semboyan. Kedua, Tanggapan negatif sementara orang tentang kebaikan yang dilakukan Yesus. Di era modern ini, kebaikan jadi lelucon, orang-orang baik jadi bahan tertawaan. Di sini hendak ditegaskan bahwa kita perlu bersiap-siap karena tidak semua kebaikan akan mendatangkan tanggapan yang positif. Dan kadang kita harus bersedia merasakan pahitnya dikucilkan bukan karena kejahatan yang kita lakukan tetapi karena kebaikan kita dianggap satu kejahatan. Ketiga, kita perlu berhati-hati dengan ketidaksukaan kita. Kalau anda membenci seseorang, tidak suka dengannya, apa yang saja yang ia lakukan akan selalu tidak baik di mata anda walaupun seluruh dunia mengaguminya. Keempat, kita perlu memupuk kerendahan hati untuk belajar dari keunggulan sesama. Keberhasilan sesama tidak perlu membuat kita berkecil hati. Kita perlu membuka diri untuk belajar dari sesama untuk dapat menjadi jauh lebih baik. Dalam situasi seperti ini sebagai orang-orang beriman, kita mesti memilih pola hidup mana yang mesti kita hidupi; menjadi nabi kebaikan di era gila ini atau memperpanjang barisan Belzebul, setan yang telah membuat banyak orang kesetanan; mengumpulkan bersama Yesus atau menceraiberaikan bersama roh yang membisukan. Ingat, pada saat anda memutuskan pola hidup apa yang mesti dihidupi, di saat itu pula relasi anda dengan dunia sekitar anda jadi berubah.

Anda dan saya, kita hidup dalam kebersamaan di mana dalam kebersamaan itu panji iman kita dikibarkan. Kebersamaan mesti dijadikan anera di mana kita dapat belajar dari sesama bagaimana menjadi jauh lebih baik dan bisa berbuat baik kepada sesama. Untuk itu, hati kita perlu dikosongkan dari rasa tidak suka dan benci. Apapun situasinya, di mana pun posisi kita, sikap Yesus mesti menjadi sikap kita. Ke manapun kita pergi ke sana kita adalah orang-orang yang diutus untuk membantu menyelamatkan mereka yang kerasukan setan yang membisu-kan. Kita mesti menyadarkan mereka bahwa mereka ditakdirkan bukan untuk membisu tetapi untuk menjadi nabi kebenaran dan keadilan bagi dirinya dan bagi mereka yang mengitarinya. Siapkah anda untuk tugas mulia ini?

“Hati-hati dengan ketidaksukaan anda, karena rasa ini menutup mata kita terhadap apa yang baik yang dilakukan sesama”.
[ back ]