Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 09-03-2010 | 19:52:35
By : Erminold manehat, SVD
Theme : HORMATI HUKUM YANG ADA
Mat 5:17-19,Rabu,10 Maret 2010

Kita selalu hidup bersama. Kebersamaan bisa saja membantu kita menjadi diri kita sendiri dan di sana kehadiran kita bisa memberi warna yang khas, arti tertentu bagi orang-orang yang mengitari kita. Bisa juga sebaliknya, kehadiran kita justeru membawa soal bagi kebersamaan itu bila irama hidup kita justeru bertentangan dengan irama hidup bersama; yang kita lakukan, kita hidupi menjadi duri dalam daging kebersamaan. Di sini mestinya kita menyadari bahwa kita hadir dalam kebersamaan itu untuk melestarikannya bukan untuk merusaknya. Untuk itu ada aturan dan hukum yang mengatur seluruh sepak terjang kita di mana kebebasan kita dipertentangkan dengan hak dan kewajiban kita sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial makhluk. Aturan dan hukum diada-kan untuk menjaga agar hak anda tidak melanggar hak saya dan apa yang menjadi kewa-jiban kita tidak kita abaikan. Kehadiran hukum dan aturan bermakna ganda; di satu sisi, ia mengatur hidup dan kebebasan kita, di sisi lain kehadirannya mengisyaratkan bahwa hidup kita belum teratur, kita tidak dapat mengatur diri sendiri walaupun kita adalah makhluk berakal sekaligus punya hati. Mereka hadir karena begitu sering kita memusatkan perhatian kita hanya pada hak lalu kita lupa bahwa kita punya kewajiban. Hasilnya kita berubah menjadi makhluk egois, suka menang sendiri dan menjadi sumber soal dalam kebersamaan. Sadarkah anda bahwa semuanya ini yang mengakibatkan lahirnya berbagai persoalan dalam kebersamaan kita?

Aturan dan hukum sudah ada sejak adanya manusia karena manusia, kita tidak hidup sendiri. Karena aturan dan hukum sudah ada maka kita hadir untuk menggenapi, memenuhi dan menghidupi bukan untuk meniadakannya. Meniadakan hukum dan aturan yang sama artinya dengan meniadakan kebersamaan atau tidak mengakui adanya hidup bersama. Kehadiran aturan dan hukum juga mengasyaratkan bahwa kehadiran kita dalam kebersamaan sudah diatur untuk bergerak dalam satu ruang tertentu, jalur khusus yang bila dihormati kita akan mendapatkan apa yang kita impikan. Sebaliknya terlepas, keluar dari ruang ini, menyimpang dari jalur ini, kehadiran kita akan menjadi gangguan bagi orang lain, merusak kebersamaan yang sedang menggetarkan ada kita dan memupus impian kita akan hari esok yang lebih baik. Melihat kenyataan, Yesus, tuannya segala aturan dan hukum, menyampaikan amanatNya bahwa Ia juga datang bukan untuk meniadakan hukum tetapi untuk memenuhi apa yang telah dihidupi oleh masyarakat jaman. Ini satu hal menarik yang perlu diperhatikan secara serius. Dengan ini Yesus mau menegaskan bahwa manusia siapa pun dia tidak terlepas dari ikatan tak kelihatan ini. Manusia, siapapun dia mesti memenuhi dan menghidupi apa yang menjadi pengatur hidup bersama. Dan semuanya ini bergantung dari motivasi kita ada dalam kebersamaan itu dan mental tiap orang dalam menghadapi aturan dan hukum yang berlaku. Ada yang menjalankan hukum dan aturan untuk mengamankan diri dan ada lagi yang menjalankannya hanya supaya mereka mendapat alasan untuk menilai kehidupan orang lain. Di sini, pola hidup dan kecenderungan kita untuk menyimpang dari hukum dan aturan karena posisi dan kedudukan yang kita miliki dikritik. Kenyataan harian kita menunjukkan adanya sejenis penyakit sosial yang mulai mewabah; kita menuntut privilege hukum karena kedudukan yang kita miliki; hukum dan aturan hanya berlaku untuk kelompok-kelompok/orang-orang tertentu. Padahal hukum dan aturan ada untuk kita semua tanpa kecuali karena kita tidak hidup sendirian. Sikap Yesus ini mengingatkan kita untuk menempatkan diri secara sejajar di hadapan hukum dan aturan. Kalau kita menghendaki kehidupan tanpa soal mengapa kita masih ingin dikecualikan?

Anda dan saya, kita hidup dalam kebersamaan. Kita menghendaki bahwa kehadiran kita dalam kebersamaan itu memberi warna yang khas dan pengaruh tertantu bagi mereka yang lain, membantu melestarikan kebersamaan itu. Demi keharmonisan kebersamaan, hukum dan aturan memainkan perannya. Hukum dan aturan punya makna bila kita mengartikan kehadirannya. Tetapi semuanya ini bergantung dari apakah kita menyadari manfaatnya atau tidak dan apa motivasi kita ada dalam kebersamaan itu atau saat kita memenuhi aturan dan hukum tertentu. Karena itu sikap Yesus harus menjadi sikap kita juga; kita dilahirkan dalam kebersamaan dan kebersamaan diikat oleh hukum dan aturan maka demi kebersamaan kita mesti menghormati, memenuhi dan menghidupi hukum dan aturan yang berlaku. Mampukah kita kembali ke jalour yang benar?

“Kita ada dalam kebersamaan untuk melestarikannya bukan untuk menghancurkannya. Karena itu genapi aturan dan hukum yang berlaku”.
[ back ]