Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 08-03-2010 | 22:25:06
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : PENGAMPUNAN BUKAN SOAL ANGKA
Mat 18:21-35, Selasa, 9 Maret 2010

Kualitas dan kuantitas sering kali menimbulkan soal. Ada yang lebih mengutamakan jumlah ketimbang kualitas tetapi ada pula yang lebih mementingkan mutu daripada banyaknya. Berbicara tentang jumlah, kuantitas berarti kita berbicara tentang angka. Berbicara tentang angka berarti berbicara tentang hitungan, tentang awal dan akhir dari jumlah tertentu, tentang batas-batas dari satu realitas. Itu soal angka, jumlah atau kuantitas. Tetapi akan jadi lain bila kita berbicara tentang hati. Berbicara tentang hati berarti berbicara tentang satu kunci, penentu segalanya. Hati menjadi sumber segalanya, jiwa yang menggerakkan roda kehidupan manusia. Dialah yang membuat manusia mengenal dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya, Tuhan dan sesama. Di sini mesti kita sadari bahwa berbicara tentang hati berarti berbicara tentang sesuatu yang melampaui batas ruang dan waktu. Dia tidak bisa diukur dengan satu standar matematis, bukan hitungan, awal dan akhir dari sesuatu tetapi tentang panggilan jiwa dalam satu hidup bersama. Kebaikan tidak ditentukan oleh sebuah deret hitung karena kebaikan bukan sesuatu yang matematis. Kebaikan bergantung dari kehendak hati yang selalu menginginkan yang baik, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Hati yang baik selalu mendatangkan kebaikan dan senantiasa berusaha menghindarkan hal-hal yang berakibat buruk bagi kebersamaan.

Saya tidak tahu bagaimana relasi anda dengan orang-orang yang ada di sekitar anda, yang saya tahu terkadang ada kerikil-kerikil tajam yang coba mengusik nyamannya ikatan baik ini; kesalahan, tidak saling memahami, dendam dan amarah. Bila rasa-rasa ini telah mengisi ruang kosong sebuah hati, banyak hal yang bisa terjadi dan tidak sedikit perhitungan yang dibuat entah itu sebagai bentuk antisipasi maupun sebagai langkah pembalasan. Di bingungkan oleh pengalaman dan pendapat umum, demi kejelasan suatu saat Petrus bertanya ‘berapa banyak kali seorang harus mengampuni sesamanya’–‘apakah tujuh kali’. Terhadap pertanyaan ini, Yesus menjawab; bukan tujuh kali tetapi tujuh puluh kali tujuh. Dalam hitungan, tujuh menunjukkan batas tetapi dalam budaya Yahudi angka tujuh menunjukkan kesempurnaan dan kesempurnaan tidak kenal batas. Jawaban ini dilanjutkan dengan perumpamaan tentang hamba yang mau diampuni tetapi tidak bersedia untuk mengampuni sesamanya. Dari kisah ini, ada beberapa hal menjadi so-rotan; pertama, kita cenderung membatasi kebaikan, padahal kebaikan itu tidak berbatas. Kita keliru menggunakan alat ukur. Kita mempertentangkan angka dengan hati padahal angka dan hati jauh berbeda karena itu kita butuh pendekatan yang berbeda. Kedua, kita gampang dan cepat memohon untuk dikasihani, diampuni, dimaafkan. Tetapi sulit bagi kita untuk melupakan, memaafkan sesama. Bila kerinduan kita untuk diampuni tidak dibatasi mengapa kesediaan untuk mengampuni diberi batas? Mengampuni bukan urusan angka, jumlah tetapi soal kesediaan hati untuk memberikan kesempatan kepada sesama agar ia dapat kembali ke jalan yang benar, menyadari bahwa dirinya masih memiliki seberkas kebaikan yang perlu dikembangkan dan dibagi. Kesalahan yang dibuat tidak boleh dijadikan vonis untuk mengeliminasi mereka dari kebersamaan. Mengampuni orang lain merupakan peluang bagi kita untuk diampuni. Hanya dengan mengampuni kita dapat mengobati relasi yang rusak antara kita dengan sesama. Pengampunan juga merupakan penyembuhan diri sendiri yang terluka. Selama kita belum bersedia mengampuni sesama selama itu kehadiran sesama akan menjadi duri dalam daging kehidupan kita. Di sini hati sudah seharusnya memainkan perannya. Angka ada batasnya tetapi kesediaan hati untuk mengampuni melampaui satu deret hitung. Berat memang tetapi ini harus kita lakukan tanpa batas. Bila ada batasnya, kelemahan kita pun akan menggiring kita ke titik batas hitungan.

Dunia yang sedang kita huni ini penuh dengan aneka perhitungan dan sudah tidak lagi menjadi tempat yang baik bagi tumbuhnya kebaikan karena amarah, dendam, perang dan kekerasan hati untuk tidak mengampuni. Sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk mengobati dunia ini dan merubah sikap kita terhadap sesama. Hati mesti kembali diberi peran menjadi ladang kebaikan bukan padang balas dendam. Hanya dengan jalan ini kehidupan yang masih tersisa dapat diberi makna, diselamatkan. Bila tidak kita sendiri yang akan memperpanjang kisah penderitaan umat manusia yang sedang kita alami. Kalau kita begitu mudah memohon diampuni mengapa kita berkeras hati untuk mengampuni? Ingat mengampuni bukan soal banyaknya angka tetapi kesediaan hati untuk berbuat baik sebanyak mungkin....

“Kalau anda menghitung-hitung kesalahan sesama anda anda melupakan segala kebaikannya”.
[ back ]