Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 16-07-2009 | 08:06:20
By : P. Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘MARI BELAJAR PADA YESUS’
(Mateus 11:25-27, Rabu, 15 Juli 2009)

Kita selalu hidup bersama dan kebersamaan sebenarnya menjadi arena yang baik untuk belajar bagaimana seharusnya kita hidup dalam kebersamaan. Di sana kita dapat belajar untuk bersikap realistis, menerima kenyataan dan belajar darinya untuk mengubah mimpi kita. Mengapa? Karena dunia kita yang dibanjiri aneka iklan telah membawa kita memasuki satu dunia lain, sehingga mental kitapun telah dipengaruhi oleh iklan-iklan yang ada. Belajar untuk bersikap realistis, menerima kenyataan; pernyataan ini tidak saja menantang tetapi juga mengajak kita bermenung sejenak; satu kritik sekaligus ajakan bagaimana kita menempatkan diri dalam dunia dan dalam kebersamaan. Satu kritikan karena banyak dari kita sudah tidak lagi hidup di dunia real/nyata; banyak bermimpi, membiarkan diri dibuai ilusi dan tidak mau beranjak dari mimpi untuk mengubahnya menjadi kenyataan. Kita terlalu mengada-ada, tidak puas dengan apa yang ada. Hal inilah yang menciptakan banyak soal dalam hidup. Selain kritikan, hal ini merupakan ajakan karena kecenderungan ini adalah sikap mental yang bisa disembuhkan. Dunia iklan bukanlah dunia kita, dunia ini telah membuat kita lupa akan kekuatan yang kita miliki dalam menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya. Kita bukan hidup dalam dunia mimpi tetapi dalam dunia yang nyata yang mengharuskan kita perjuangan demi hidup. Kita mesti bertolak dari kenyataan diri kita menuju perwujudan impian kita.

Pernakah kita menyadari bahwa langkah awal mengubah kisah hidup ini adalah menerima diri sendiri. Menerima diri, bersikap realitas memungkinkan kita untuk bisa belajar dari orang lain. Dan bila sikap ini ada pada diri kita, kita akan tahu bahwa dalam banyak hal kita termasuk orang-orang istimewa. Mungkin kita tidak memiliki apa-apa tetapi kita memiliki hidup. Banyak orang bersyukur karena apa yang mereka peroleh dalam hidup tetapi hanya sedikit saja yang bersyukur karena mereka punya kesempatan untuk hidup. Bila hidup tidak kita miliki kita tidak memiliki apa-apa bahkan kita sendiri hidup. Hiduplah yang memungkinkan kita memiliki embel-embel yang sedang melekat pada diri kita. Untuk itu kita mesti belajar banyak dari Yesus. Yesus mengajarkan bahwa apapun situasinya kita harus selalu punya alasan untuk bersyukur karena boleh jadi yang kita miliki tidak dimiliki oleh sesama, yang kita alami tidak dialami oleh sesama. Pola pandang yang tidak melihat hidup sebagai harta yang paling berharga dalam hidup, yang membuat kita banyak mengeluh dan suka mengada-ada. Inilah yang menjadi sebab mengapa beban hidup ini semakin hari semakin berat ditanggung. Hidup bukan lagi sebagai kesempatan untuk dinikmati tetapi sebagai persoalan yang mesti dipecahkan. Berpikir bahwa apa yang kita miliki lebih berharga dari pada hiduplah yang membuat manusia hidup dalam rangkaian soal yang tak pernah akan selesai; kekerasan, ketidakadilan, ketidakbenaran dan keangkuhan sepertinya menjadi warna dasar hidup kita. Kehadiran sesama tidak dilihat sebagai teman seperjalanan tetapi sebagai musuh yang mesti disingkirkan. Bila hidup menjadi pusat segalanya kekerasan bukanlah jalan keluar, ketidakadilan dan ketidakbenaran akan dengan mudah disembuhkan. Karena itu, Yesus mengajak kita untuk belajar dariNya bagaimana menghadapi hidup ini. Sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam Kristus, kehadiran kita mestinya berdampak positif bagi sesama; seperti Yesus, kita harus mampu meringankan beban sesama bukan sebaliknya menjadi beban bagi sesama. Di mana orang lebih suka mengandalkan kekerasan, kita mesti hadir dengan kelemahkanlembutan. Tetapi di sini perlu dicatat, kelemahlembutan bukanlah satu kelemahan tetapi satu jalan terbaik untuk tidak memperbesar soal; kalau semua mau menang siapa yang kalah. Ini berarti satu duel mesti dilakukan untuk menentukan pemenang. Sampai di sini, Yesus sang guru, hidup dan ajaranNya dapat kita jadikan cermin. Untuk itu kita mesti menyebrang keluar dari diri kita sendiri. Ternyata di hadapan cermin Yesus, hidup kita mesti ditata ulang, kekristenan ki

[ back ]