Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-02-2010 | 19:09:34
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “APA PERLUNYA MENGENAL DIRI?”
Mat 16:13-19, Senin, 22 Februari 2010

Pengalaman menunjukkan bahwa bila kita diingatkan tentang sesuatu secara berulang; ada beberapa hal yang terjadi, pertama karena kita disadarkan bahwa hal itu penting, kedua, mungkin karena kita lalai dan gampang lupa dan ketiga, hal itu membuat kita sebal, jengkel. Tetapi itulah kenyataannya. Lalu, ‘mengapa kita mesti mengenal diri sendiri?’ Perulangan tema ini, mestinya mendorong kita untuk mencari tahu alasan di balik perulangan ini. Adalah satu hal yang wajar dan sangat manusiawi bahwa kita punya keinginan untuk mengenal ataupun dikenal. Dan boleh jadi saat ini anda sedang memi-kirkan orang yang baru anda kenal atau jurus-jurus mana saja yang harus anda gunakan untuk bisa mendekati pribadi tertentu yang mulai mencuri hatimu dan membuat anda melewatkan detak-detak sang waktu dalam gelisah. Mengenal ataupun dikenal merupa-kan tuntutan hidup karena kita tidak hidup sendiri. Perulangan tema ini justeru meng-ingatkan kita akan bahaya; kita begitu berusaha, mencari jalan bagaimana bisa mengenal yang lain secara detail lalu lupa mengenal diri sendiri. Kita perlu tahu bahwa untuk menempatkan diri secara tepat dalam kebersamaan; mengenal diri dan orang lain adalah tuntutan yang paling azasi. Mengenal yang lain tanpa mengenal diri, kita akan kehilangan jadi diri/keaslian diri. Dan sebaliknya, mengenal diri tanpa mengenal yang lain adalah mustahil; kita akan terjebak dalam keakuan dan yang lain akan kehilangan arti. Dari perhatian kita yang tidak berimbang ini bisa saja muncul aneka soal.

Saya yakin anda punya banyak kenalan dan inipun bisa dimaklumi; mungkin karena posisi anda ataupun karena keluwesan anda dalam bergaul. Dan dalam kebersamaan keinginan untuk mengenal yang lain sudah merupakan satu tuntutan hidup. Tanpa mengabaikan kenyataan ini; kita juga harus mengakui bahwa tuntutan untuk mengenal diri sendiripun sama pentingnya bahkan lebih penting karena dengan mengenal diri sendiri, kita dengan sendirinya tahu apa yang mesti kita lakukan di hadapan kebersamaan. Itu berarti mengenal diri menjadi kunci segalanya; yang kenal diri, tahu di mana tempatnya dan yang tahu di mana tempatnya akan tahu pula yang mesti ia lakukan. Di sini hendak dikatakan juga bahwa akar dari setiap soal yang ada adalah orang tidak kenal diri. Mengenal diri merupakan langkah awal, kunci merubah dunia. Suatu hari entah kapan dua ribu tahun silam, di tengah perjalanan Yesus mengajukan pertanyaan ini; kata orang dan katamu ‘siapa Aku ini?’ Pertama, Yesus ingin mengetahui tanggapan orang-orang dan para murid tentang diriNya, pengaruh kehadiranNya di antara mereka. Ia ingin mengevaluasi diriNya berdasarkan tanggtapan para pendengarNya dan para muridNya. Kedua, pertanyaan ini dimaksudkan juga sebagai peluang memurnikan motivasi para muridNya dalam mengikuti Dia. Kalau kamu mau mengikuti Aku kamu harus mengenal siapa Aku. Dengan mengenal siapa Aku, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Yesus tidak mau mereka meng-ikuti Dia secara buta; Ia tidak mau mereka tenggelam dalam massa. Putusan untuk mengikuti Dia harus merupakan putusan pribadi berdasarkan pengalaman ada bersama Dia. Mengikuti seseorang tanpa mengenalnya adalah kekonyolan. Pengenalan akan Yesus memungkinkan para murid untuk mengetahui kewajibannya sendiri, apa yang harus mereka lakukan, bagaimana menempatkan diri mereka dalam kebersamaan. Ketiga, Yesus hendak mengingatkan para muridNya akan pentingnya mengenal diri sendiri; kelebihan dan kelemahan dirinya. Dengan mengenal diri sendiri orang dibantu untuk tahu menempatkan diri dan tahu apa yang mesti mereka lakukan. Di sisi lain hendak ditegaskan bahwa pandangan orang lain tentang diri kita adalah penting dan keterbukaan diri untuk menerimanya sangat perlu. Tanpa sikap ini, kita akan takut mengajukan pertanyaan ini atau boleh jadi kita mengajukan pertanyaan ini tetapi tidak mengharapkan jawaban yang negatif. Di mana saja posisi dan apapun predikat kita, pertanyaan ini adalah kunci segalanya.

Kalau kita mau jujur, pertanyaan yang biasa kita lontarkan adalah ‘kamu kenal orang ini atau ceriterakan sedikit kepada saya tentang latar belakang orang ini’. Jarang kita bertanya, ‘apa katamu tentang saya’ atau kalaupun pertanyaan ini kita ajukan, yang kita harapkan adalah jawaban yang positif saja tentang kita. Di sini bisa dipahami mengapa kita enggan mengajukan pertanyaan ini; kita takut orang mengatakan yang negatif tentang kita. Karena itu benar bahwa kita sudah mengenal begitu banyak orang tetapi kita belum cukup mengenal Yesus dan diri kita. Ketika memperingati pesta tahkta St. Petrus, hal ini kembali diangkat. Mengenal diri; kelebihan dan kekurangan kita, apa yang menjadi tugas kita dalam kebersamaan adalah penting. Bila kita sudah cukup mengenal Dia dan paham akan diri sendiri tentu kita tahu untuk apa kita ada dalam kebersamaan. Kalau kita mengenal diri dan tahu apa yang harus kita lakukan dalam kebersamaan, ceritera dunia ini pasti lain.

“Usaha untuk mengenal diri harus setara dengan usaha kita mengenal yang lain”
[ back ]