Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-02-2010 | 08:07:28
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : HATI-HATILAH DENGAN KEINGINAN ANDA
Luk 4:1-13, Minggu, 21 Februari 2010

Berada di persimpangan jalan membuat kita bingung, apalagi kita merupakan orang baru di tempat itu. Sulit untuk menentukan ke arah mana kita mesti berlangkah walaupun rambu-rambu jalanan cukup jelas menentukan setiap arah yang ada. Keinginan kita yang beranekapun menempatkan kita pada suasana persimpangan jalan; kita bisa saja jadi penonton, bisa juga mengarus atau bisa juga kehilangan orientasi lantaran kita tergoda mengikuti arah yang sesuai dengan keinginan yang kita miliki apalagi keinginan ini menjawabi motivasi kita untuk hidup atau dalam melakukan sesuatu. Di sini kita dapat memahami mengapa banyak orang gagal dalam hidup; karena mereka gagal menentukan arah hidupnya ketika berada di persimpangan jalan; arah hidup yang dipilih bukan berdasarkan kebutuhannya tetapi karena mengikuti arus yang ada atau rasa yang mendominasi saat berhadapan dengan kenyataan hidup, mereka memasuki satu dunia baru tanpa mengenal dunia itu sendiri; berusaha bersaing dengan orang lain tanpa tahu untuk apa mereka harus bersaing, ingin melom-pat pagar tanpa membuat tumpuan terlebih dahulu, ingin cepat menjadi besar melalui jalan pintas yang masih asing untuk dilalui.

Hari ini kita memasuki minggu pertama masa prapaska, satu kesempatan untuk menata kembali ruang hati, mengevaluasi keberadaan kita dalam kebersamaan sebagai orang-orang beriman, membangun kembali relasi kita yang rusak karena ulah dan kelalaian kita. Hari ini, ketika kita mendengar kisah tentang Yesus dicobai di padang gurun. Yesus dibawa Roh masuk ke padang gurun dan di sana Ia dicoba oleh Iblis. Gurun; sendiri, tandus, kering dan menakutkan di waktu malam. Gurun bisa saja satu tempat bisa juga satu situasi. Mungkin kita tidak berada di padang gurun tetapi kita sedang meng-alami situasi padang gurun; saat di mana kita merasa sendiri dikelilingi aneka tantangan yang menciutkan nyali. Justeru dalam situasi inilah kita bisa kehi-langan orientasi dan Iblis memainkan perannya. Dan di sini kita mesti menyadari bahwa iblis selalu menggunakan kelemahan kita untuk menjatuhkan kita, menjauhkan kita dari Firdaus, taman kebahagiaan itu. Kita juga diingatkan bahwa banyak soal terjadi di antara kita karena kita tidak puas dengan keadaan diri, tidak mau hidup apa adanya tetapi suka mengada-ada. Selain itu kita dihimbau untuk senantiasa waspada karena iblis, setan, cobaan selalu datang dalam rupa aneka wajah dan beragam cara. Mengubah batu menjadi roti. Ini godaan untuk hidup enak, kaya tanpa perjuangan; tanpa kerja keras. Godaan untuk mencari harta kekayaan dan kenikmatan dengan cara yang tidak benar. Dalam diri kita juga muncul godaan yang sama yakni memakai kemampuan dan karunia yang dianugerahkan Tuhan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Kadang kita bermalas-malasan saja, hidup santai lalu tenggelam dalam sikap konsumerisme. Kita dihormati, ditakuti hanya karena kita dapat memberi orang roti. Maka suap, korupsi menjadi merajalela karena orang ingin tetap hidup enak tanpa usaha dan perjuangan. Kita juga mesti waspada dengan kelaparan, kemiskinan dan penderitaan karena situasi ini dapat membuat kita bersikap nekad, menempuh jalan pintas. Yesus disuruh terjun dari bubungan atap. Ini godaan untuk popularitas. Kita mau cepat terkenal dengan cara-cara yang menyolok mata. Kalau Yesus mau menjatuhkan diri, Dia akan dipuji dan dikagumi. Ia menjadi terkenal, oleh karena itu Dia akan dipanggil kemana-mana, dihormati di mana-mana. Yesus menolak bukan karena kehormatan itu jelek, tetapi kalau kehormatan itu diperoleh dengan cara akrobatik maka orang cenderung menjadi gila hormat. Gila hormat inilah yang melahirkan sikap sombong dan merasa diri paling hebat. Orang takut direndahkan, sehingga di mana-mana orang mencari kehormatan diri sendiri. Akibatnya selagi orang itu berkuasa dia dikagumi, dihargai, tetapi sesudah itu dia tidak punya arti apa-apa lagi. Kenapa? Karena kekuasaan diperoleh dengan jalan atau di atas dasar tindakan yang spektakuler. Yesus diminta untuk menyembah Iblis. Ini godaan untuk menjual harga diri demi kekuasaan. Kekuasaan diberikan untuk membuat banyak orang bahagia, jadi harus diabdikan untuk kepentingan banyak orang. Tetapi, kekuasaan juga dengan mudah disalahgunakan. Ada dua unsur dari pencobaan ini: pertama ajakan untuk menjual harga diri demi memperoleh kekuasaan; kedua ajakan untuk berkompromi dengan kejahatan. Bentuk nyata dari unsur ini adalah rasionalisasi / pembenaran diri. Dari kisah ini kita dapat belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi setiap tantangan dan godaan. Ia memutuskan bahwa jalan yang sensasional bukanlah jalanNya, Dia bahkan memutuskan untuk tidak boleh ada kompromi terhadap kejahatan dan dosa. Sikap ini yang membawa Yesus kepada ‘Salib’. Dan Yesus menyadari sungguh semuanya itu.

Kita sedang menjalankan puasa dan tobat. Di sini kita tidak saja berusaha memenuhi apa yang dituntut oleh aturan-aturan Gereja tetapi juga berusaha agar apa yang kita lakukan dapat mempengaruhi, nampak dalam perubahan pola hidup kita dalam kebersamaan. Kebersamaan merupakan peluang membangun kembali firdaus yang hilang, mengubah impian kita menjadi kenyataan. Mungkin baik bila kita mengundurkan diri seperti Yesus dari kesibukan harian kita untuk melihat lebih jelas mengapa impian kita belum menjadi kenyataan dan menemukan jalan bagaimana meraih impian itu....Jalan kita menuju penemuan kembali firdaus yang hilang tidak bebas rintangan, godaan akan terus datang silih berganti, untuk itu iman dan hidup mesti bergandeng tangan, iman yang kita miliki mesti mempengaruhi hidup kita dan hidup kita mesti menjadi medan di mana iman kita dapat disaksikan...

“Hati-hati dengan keinginan yang kita miliki karena ia dapat membuat kita kehilangan segalanya.
[ back ]