Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 16-07-2009 | 08:03:24
By : P. Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘SIMAK YANG ANDA DENGAR’
(Mateus 11:20-24, Selasa, 14 Juli 2009)

Anda dan saya, kita punya telinga untuk bisa mendengar. Bukan hanya itu telinga juga membantu kita untuk menyimak makna di balik kata-kata yang kita dengar. Yang menjadi soal, kita cenderung membuang banyak waktu untuk me-mikirkan apa yang kita dengan ketimbang berusaha untuk menyimak apa yang kita dengar. Memasang telinga untuk apa yang diucapkan orang saja kadang begitu sulit karena tidak jarang kita lebih tuli dari orang tuli. Di sini, dalam hubungan dengan sikap mendengarkan, munculnya persoalan dalam hidup disebabkan oleh dua hal faktor; pertama kita tidak bersedia mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Kedua, kita hanya mendengarkan apa yang dikatakan tetapi tidak berusaha menangkap maksud dari apa yang kita dengar. Yang pertama soal kesediaan untuk mendengar dan yang kedua soal kemampuan untuk mendengar. Mestinya kita sadar bahwa apa yang dikatakan selalu bermakna ganda; menunjukkan realitas yang sebenarnya atau mewakili realitas lain. Karena itu yang lembut tidak selamanya menyenangkan dan yang kasar tidak selamanya mesti ditolak. Yang lembut kadang mengandung ironi dan yang kasar sering bermuatan positif tentu saja dengan catatan kekerasan tidak selamanya menyelesaikan soal dan tujuan tidak menghalalkan cara. Hal ini bergantung dari kemampuan masing-masing orang untuk mendengar dan menyimak makna di balik kata-kata yang kita dengar.

Mungkin anda lagi jengkel, kesal dan kecewa lantaran kecaman dan kritikan yang baru saja anda terima atau boleh jadi sekarang anda merasa agak lega karena sudah berkesempatan menyampaikan unek-unek dalam hati anda. Hari ini, Mate-us mengisahkan bahwa satu ketika entah kapan, Yesus mengecam dan memperingatkan beberapa kota Israel akan bencana yang sedang mengintai mereka. Hal ini dilakukan Yesus karena kekerasan hati penduduk kota-kota itu. Kota-kota ini adalah tempat di mana warisan keagamaan orang Yahudi dihidupi, karena itu penduduknya mesti menunjukkan bahwa mereka sungguh mewarisi tradisi religius para leluhurnya. Kenyataan menunjukkan bahwa penduduk kota-kota ini telah jauh meninggalkan tradisi leluhur, ada banyak cara dan jalan yang sudah diberikan agar mereka dapat bertobat, merubah haluan hidupnya tetapi mereka enggan untuk meninggalkan hidupnya yang lama. Dari kisah ini hendak ditekankan bahwa pertama religiusitas kota-kota ini bukanlah jaminan keselamatan penduduknya. Karena keselamatan bukan soal di mana mereka tinggal tetapi masalah bagaimana hidup mereka. Mereka mesti membuktikan lewat hidupnya bahwa mereka sungguh hidup dalam satu kota yang punya tradisi keselamatan. Di sini hendak digarisbawahi bahwa beragama saja tidak cukup, memakai nama para santu dan santa bukan jaminan karena setap orang dinilai bukan berdasarkan nama dan agamanya melainkan berdasarkan hidupnya. Keceman biasanya pedas buat pendengaran kita, kadang tajam melukai perasaan kita, tak jarang menurunkan harga diri kita bila yang kita tangkap hanyalah isi kecaman itu. Tetapi kecaman ini akan berdampak lain bila kita membuka hati dan melihat lebih jauh mengapa ia lahir dan apa makna yang dihadirkannya di balik kata-kata yang mewakilinya. Boleh jadi kecaman yang sama ditujukan kepada kita. Mungkin berkenaan dengan hidup kita yang tidak sesuai dengan keberadaan kita sebagai orang-orang kristen, orang-orang yang mestinya menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri. Mungkin juga karena kita enggan mengindahkan peringatan/teguran-teguran kecil yang bernada kelakar karena kita lebih melihat orang yang menyampaikan dari pada menanggapi apa yang diisyaratkannya. Seperti penduduk kota-kota itu, kita diingatkan bahwa baptisan yang kita terima bukanlah jaminan keselamatan, untuk selamat kita perlu menghidupi iman kita dan membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita.

Kita tahu bahwa kecaman biasanya pedas buat pendengaran kita, kadang tajam melukai perasaan kita, tak jarang menurunkan harga diri. Tetapi sering kita tidak berusaha untuk menghindari kecaman. Sering pula kita mengecam sesama dengan pikiran bahwa kecaman merupakan jalan terbaik menyampaikan maksud hati. Kecaman tidak selalu berdampak positif; bisa merusak maksud baik yang kita miliki. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengecam ataupun tidak harus mengecam. Yang mesti kita miliki adalah kesediaan mendengarkan dan kemampuan untuk menangkap maksud dari apa yang dikatakan atau diperdengarkan; mendengar apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap. Yang terpenting adalah menyadari bahwa iman melainkan hidup kitalah yang merupa-kan jaminan keselamatan.

[ back ]