Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 16-02-2010 | 23:00:00
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ADA KONSEKUENSI
Lukas 9:22-25, Kamis, 18 Februari 2010

Kenyataan menunjukkan bahwa ada aneka pilihan dalam hidup yang singkat ini. Dan mungkin saja anda sendiri sedang bingung menentukan pilihan anda. Karena dihadapkan pada aneka pilihan dalam hidup, boleh dibilang bahwa untuk hidup kita memang mesti memilih. Kita boleh memilih satu di antara beragam pilihan yang ada, bisa juga kita memilih untuk tidak memilih karena tidak memilihpun merupakan satu pilihan tentu saja dengan konsekuensi yang berbeda. Bila demikian kenyataannya berarti anda dan saya, kita sudah biasa dihadapkan pada berbagai pilihan. Inilah yang membuat memilih kadang mudah tetapi tak jarang aksi ini menghadapkan kita pada buah si malakama karena kita mesti memilih satu di antara dua hal yang sama menarik. Dan yang membuat kita tidak gampang untuk memilih adalah konsekuensi dari setiap keputusan yang kita buat. Di sini perlu dicatat bahwa memilih berarti bersedia meninggalkan atau kehilangan yang lain. Dan setiap pilihan selalu diikuti dengan konsekuensi tertentu. Mengapa ada banyak soal muncul dalam hidup kita? Karena kita menjatuhkan pilihan pada hal tertentu tetapi kita tidak bersedia kehilangan yang lain dan juga kita mengabaikan konsekuensi dari pilihan itu. Mestinya kita tahu bahwa pada saat kita menjatuhkan pilihan, di saat itu relasi kita dengan dunia di sekitar kita berubah.

Kita sedang bergelut dengan hari-hari puasa yang sudah kita mulai dengan penerimaan abu. Lebih dari sekedar mengurangi porsi makan kita ataupun usaha untuk mengendalikan keinginan-keinginan kita yang tidak teratur, masa ini merupakan kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi diri, melihat kembali sudah sejauh mana kita setia pada pilihan kita dalam mengikuti Yesus. Adakah hidup dan misiNya sudah menjadi hidup dan misi kita? Masih sanggupkah kita mengikuti Dia? Ini satu pertanyaan yang dimaksudkan untuk membongkar kembali seluruh sepak terjang kita sebagai pengikutpengikut Kristus. Suatu ketika, terdorong oleh situasi yang berkembang Yesus menyampaikan kepada para muridNya bahwa Ia akan menderita, ditolak dan dibunuh oleh kaumNya sendiri. Pernyataan ini sebagai satu isyarat bagi para murid bahwa nasib yang sama akan menimpa mereka yang sedang atau akan mengikutiNya. Untuk dapat menghadapi kenyataan pahit ini dan tetap bertahan ada syarat yang mesti mereka penuhi; siap memikul salib, berani menyangkal diri, mengikuti Dia. Syarat-syarat ini merupakan kiat sekaligus jawaban mengapa kita gagal menjadi pengikutNya yang handal. Berada pada posisi/tempat tertentu tidak mudah, orang harus siap ditantang, ditolak bahkan dibunuh. Setiap posisi menuntut tanggungjawab dan keberanian kita untuk berkorban. Kebaikan yang kita lakukan akan bumerang bagi diri kita, karena kebaikan atau kebenaran yang kita tampilkan secara langsung maupun tidak, disengaja ataupun tanpa rencana dapat membuka kekurangan orang lain, merupakan kritik tak bersuara bagi mereka yang berada di sekitar kita. Seperti emas diuji dalam api, iman kita akan Dia diuji dalam berbagai tantangan. Semakin tinggi tempat di mana anda berada, akan semakin kencang angin menerpah anda, semakin banyak tuntutan yang mesti anda penuhi. Begitu sering kita gagal mengikuti Dia karena kita ingin menempati posisi tertentu tetapi kita tidak siap untuk menghadapi tantangan dan penolakan. Untuk mengikuti Yesus orang harus siap memikul salib. Kita punya keinginan yang kuat untuk mengikuti Dia tetapi kita takut memikul salib, kita siap menerima abu tetapi tidak sudi menerima kekurangan kita. Begitu sering kita membuang tidak sedikit waktu dan tenaga untuk mempersoalkan besar kecilnya salib bukan kesediaan dan kesanggupan kita untuk memikul salib. Padahal, bila kita sanggup apapun bentuk salib itu, kita akan berusaha untuk memikulnya. Mengikuti Yesus, orang harus menyangkal diri, berperang dengan diri sendiri. Pengalaman menunjukkan bahwa kita gagal mengikuti Dia karena lebih mudah bagi kita untuk menyangkal orang lain dan berperang dengan mereka ketimbang menyangkal dan berperang dengan diri sendiri, kita lebih mudah mengeritik orang lain ketimbang mengoreksi diri sendiri. Mengikuti Yesus berati menjadikan hidupNya sebagai hidup kita dan misiNya sebagai misi kita. Kalau Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup kita pun mesti demikian adanya; menjadi jalan pulang bagi mereka yang tersesat, sumber kebenaran bagi mereka yang bimbang dan menjadi jiwa bagi sesama yang telah kehilangan semangat untuk hidup. Kita gagal karena bukan misiNya yang kita jalankan tetapi kita menggunakan namaNya untuk menjalankan misi pribadi kita.

Kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan dan setiap pilihan selalu diikuti dengan konsekuensi yang mesti dipenuhi. Kita telah memilih untuk mengikuti Yesus tetapi kita belum sanggup menjadi seperti Dia, hidupNya belum menjadi hidup kita, misiNya belum menjadi bagian dari harian kita karena kita memilih Dia tetapi kita belum rela melepaskan yang lain, takut memikul salib, sulit menyangkal diri. Walaupun demikian kenyataannya, Yesus masih membuka peluang bagi kita, hanya apakah kita masih bersedia mengikuti Dia? Masa puasa ini akan sangat berarti bila kita kembali membangun kesetiaan kita untuk mengikuti Dia, bukan hanya dalam kata tetapi lebih lewat hidup kita yang punya daya rubah.

“Jangan takut untuk mengikuti Dia, takutlah bila anda tidak bersedia menghadapi konsekuensi pilihan hidup ini”.
[ back ]