Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 15-02-2010 | 20:27:12
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “ROBEK HATIMU”
Yoel 2:12-18; 2 Kor 5:20-6:2, Mat 6:1-6;16-18, Rabu Abu, 17 Feb 2010

Setiap kita punya hati tetapi tidak semua kita membiarkan hatinya tidak berperan saat mereka hendak membuat sejarah. Sama seperti tidak semua kebun atau taman mendapat perhatian yang sepantasnya demikian pula dengan ladang hati kita; ada hati yang menjadi tempat tumbuh kebaikan dengan segala manifestasinya, ada pula hati yang dibiarkan liar dan menjadi tempat hidup aneka onak duri dengan segala pengaruhnya. Bila hati itu sebuah sungai, dari sungai kehidupan ini bisa mengalir kasih yang mempersatukan segala perbedaan dan memberi hidup bagi apa dan siapa saja yang merasakan kehadirannya, dari tempat yang sama bisa juga didistribusi, dibagi, disebarkan cinta diri yang menceraiberaikan dan mendatangkan penderitaan bagi mereka yang kita jumpai dalam hidup. Hati yang sama bisa seperti pelita yang dapat digunakan untuk menerangi segala tetapi bisa juga dipakai untuk mengha-nguskan isi ruang sebuah kehidupan. Ini berarti bila kita menginginkan adanya sebuah perubahan, yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah merubah peran hati kita, me-nata ruang jiwa kita. Karena model hati menentukan segala; hati yang baik membawa kita ke arah hidup yang lebih baik tetapi hati yang telah berubah menjadi padang gurun akan mematikan kehidupan itu sendiri. Robek, rubahlah hiasan ruang hatimu, maka ceritera hidup ini akan turut berubah.

Apakah anda sudah mulai berpuasa? Tidak mudah, melakukan hal-hal yang berada di luar kebiasaan kita, menahan diri dari segala macam keinginan yang selalu mengisi ruang kebutuhan kita. Apa yang ingin anda capai dengan melakukan hal ini? Ataukah anda berpuasa hanya karena kita sedang berlangkah memasuki ruang kehadirannya? Hari ini kita mulai memasuki masa puasa yang ditandai penerimaan abu. Rabu Abu, satu perayaan yang mengingatkan kita bahwa hidup kita punya batas dan satu saat akan berakhir dan segala sesuatu yang kita lakukan untuk mengisi ruang berbatas ini harus dipertanggungjawabkan. Rabu Abu, perayaan ini mengingatkan kita akan kerapuhan kita sebagai manusia yang mesti terus ditunjang dengan usaha yang tidak kenal lelah bila kita tidak ingin tenggelam dalam kerapuhan kita. Hari ini kita diingatkan bahwa karena terbatas dan harus dipertanggungjawabkan, kesempatan hidup ini mesti diartikan. Hari ini mesti merupakan hari evaluasi, merancang satu titik balik. Karena hati kita menjadi kunci segalanya maka; kalau ada banyak kesalahan yang sudah kita lakukan, yang perlu ditata adalah hati kita. Dialah yang menentukan berubah tidaknya kisah hidup kita. Karena itu jangan pernah merobek baju anda, tetapi robeklah hatimu; rubahlah hiasan pada ruang ajaib itu, maka relasi anda dengan dunia akan berubah. Bila selama ini dia menjadi tempat tumbuh segala rasa yang menceraiberaikan, sudah waktunya ruang ini dibersihkan, ditata kembali dan dipenuhi dengan rasa-rasa yang mempersatukan dan membuat kita melihat yang lain se-bagai kembaran diri sendiri yang patut dikasihi seperti kita mencintai diri sendiri. Untuk menjadi manusia baru, hati kita pun mesti diberi warna yang khas, motivasi kita harus dibaharui; kalau orang lain melakukan puasa, sedekah dan doa untuk menimbulkan kesan baik, kita harus berbuat lain. Kita melakukan semua ini karena panggilan jiwa. Puasa bukan sekedar mengurangi porsi makan atau mengendalikan keinginan-keinginan kita, puasa berarti karena kita menghendaki adanya perubahan dalam hidup, dalam relasi kita dengan mereka yang lain. Motivasi kita menentukan luhur tidaknya apa yang kita lakukan. Nilai boleh luhur tetapi kalau motivasinya rendah, keluhuran aksi kita pun direndahkan. Kita berbuat baik bukan supaya dika-takan baik tetapi supaya ceritera hidup ini menjadi jauh lebih baik, kita berdoa bukan supaya kita mendapat predikat sebagai pendoa tetapi supaya perubahan dalam hidup kita dapat membawa perubahan pada langit kebersamaan, kita berpuasa bukan karena orang lain berpuasa tetapi sebagai satu bentuk pemurnian diri agar lewatnya dunia bisa memperoleh wajah baru. Jangan takut bisa perubahan sikap anda tidak dilihat orang, takutlah bila kesempatan untuk berubah tidak kita manfaatkan.

Dunia membutuhkan kesaksian kita. Bila selama ini kita sepertinya tidak jauh berbeda dengan mereka yang lain, sudah saatnya kita menjadi lain dari mereka yang lain di masa puasa ini. Kalau selama ini yang kita rusakkan adalah pakaian kita, kini saatnya kita ganti warna hiasan dalam ruang hati kita sehingga kita punya peluang untuk berdamai dengan Allah dan sesama. Hanya dengan cara ini hati yang ada untuk mencintai dan mengampuni tidak kita terlantarkan. Kalau selama ini kita lebih suka buka pameran, mungkin masa puasa ini merupakan kesempatan emas buat kita untuk merubah motivasi kita, pola pikir kita menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kekristenan kita, kita berpuasa bukan karena sekarang masa puasa tetapi karena kita yakin bahwa dengan berpuasa ceritera hidup ini dapat diberi wajah baru dan kita sendiri mulai menghidupi kebiasaan-kebiasaan baru yang dilandasi oleh cinta yang mengabdi tanpa pengkotakan.

“Jangan melakukan sesuatu karena orang lain melakukannya tetapi lakukanlah itu karena hal itu bermanfaat untuk anda dan mereka yang mengitari anda”.
[ back ]