Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 15-02-2010 | 20:15:25
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN SEPERTI KAUM FARISI’
Mrk 8:14-21, Selasa, 17 Februari 2009

Hidup kita ibarat sebuah buku yang belum selesai ditulis. Masing-masing kita adalah penulisnya. Isi buku ini bergantung dari karakter penulisnya dibumbui dengan pengalaman yang ditimbah dari relasi kesehariannya dengan yang lain. Ada yang ditulis dengan gaya yang begitu menarik, sarat petualangan sehingga membuat pembacanya tak bosan menjajaki lembar demi lembar bahkan ada yang ingin memilikinya. Ada lagi yang penuh kritik yang begitu sering memerahkan telinga pembacanya; buku itu sepertinya membuka dan mengurutkan dosa-dosa mereka. Yang lain lagi begitu sederhana, isinya mudah dicernah dan langkah-langkahnya mudah diikuti, membacanya ibarat berdiri di hadapan sebuah cermin besar yang siap membantu pemakainya berkaca dan menata dirinya. Dari buku-buku yang ditulis, ada yang syarat dengan pesan tetapi tidak sedikit yang perlu revisi bahkan disensor-dilarang beredar. Perlu dicatat seperti biasa ada orang yang bisa menulis bukunya sendiri, tetapi bisa juga ditulis oleh orang lain. Muncul pertanyaan; ‘buku kehidupan macam mana yang sedang kita tulis?’

Kita selalu hidup bersama. Dalam kebersamaan itu, disadari ataupun tidak kehadiran kita memberi pengaruh tertentu pada mereka yang berada di sekitar kita dan sebaliknya, mereka yang mengitari kita turut mempengaruhi hidup dan karya kita. Dan pengaruh ini bisa saja positif, bisa juga negatif. Hari ini Yesus mengingatkan para muridNya, mengingatkan kita untuk bersikap waspada terhadap budaya kaum Farisi dan Ahli-ahli Taurat. Peringatan Yesus ini cukup beralasan karena kita cenderung menghidupi budaya kaum Farisi dan Ahli-ahli Taurat; ibarat serigala berbulu domba. Bila dipertentangkan; serigala berbulu domba lebih ganas dan lebih buas dari serigala benaran karena serigala benaran lebih mudah dikenal ketimbang serigala-serigalaan. Serigala benaran hadir dalam sosoknya sebagai binatang tetapi serigala-serigalaan hadir dalam rupa manusia. Orang-orang bermental farisi dan ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang pandai pandai membius mangsanya dengan kata-kata yang memukau, teori-teori yang diterima akal sehat dan janji-janji muluk. Orang-orang bermental farisi dan ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang lebih mementingkan pelaksanaan hukum lalu mengabaikan penghayatan hukum, lebih suka mengeritik ketimbang memberi jalan keluar, lebih suka melihat kesalahan sesama ketimbang berusaha untuk membuka diri dan belajar dari keunggulan sesama. Bila diamati secara sepintas mereka terkesan baik, tetapi bila lebih jauh ditelusuri yang mereka tampilkan jauh berbeda dari keadaan sebenarnya diri mereka, mereka tidak seperti apa yang mereka tampilkan. Untuk menolong diri, jangan mendengarkan kata-kata/teori-teorinya tetapi perhatikan hidup dan karya mereka; karena hidup dan karya mereka akan berceritera banyak tentang siapa mereka, di sana kita dapat mengenal lebih jelas siapa mereka dan di sana pula kepalsuan mereka bisa disingkap. Lalu mengapa kita sampai berhadapan dengan kepalsuan dan manusia-manusia gadungan itu? Bukankah pohon dikenal dari buahnya? Mengapa di era kita, teori ini hampir tidak berlaku? Karena buah sudah jatuh menjauhi pohonnya. Banyak orang sudah tidak lagi membiarkan imannya mempengaruhi hidupnya. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menjadi jembatan keselamatan bagi sesama. Bila kaum farisi dan ahli-ahli Taurat menjadi batu sandungan, penghalang bagi sesama untuk masuk kerajaan Allah, kita mesti menjadi batu penjuru bagi mereka yang mampu menghantar mereka kepada keselamatan. Bila kaum farisi dan ahli-ahli Taurat berbuat baik dan mengelabui sesamanya dengan sikap ramah agar dapat mengendalikan mereka, kita mesti melakukan yang baik demi kebaikan sesama, bukan supaya terkesan baik tetapi karena kita memang orang-orang baik. Bila kaum farisi dan ahli-ahli Taurat suka bersumpah palsu, kita harus membiarkan hidup dan karya kita menjadi bukti atas apa yang kita ucapkan. Di sini hendak dikatakan bahwa beragama ataupun beriman bukanlah jaminan seorang dikatakan baik. Yang menjadi jaminan adalah bagaimana orang itu hidup sesuai dengan iman-agamanya. Bagaimana dengan hidup anda sendiri?

Kita adalah orang-orang beriman tetapi tidak semua kita hidup sesuai dengan iman dan ajaran agama kita. Bila teori mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohon, keseharian kita menunjukkan bahwa buah jauh menjauhi pohon. Iman kita belum mempengaruhi hidup kita dan hidup kita belum mengekspresikan apa yang kita imani. Kita dinilai bukan dari apa yang kita katakan tetapi apa yang kita hidupi; iman kita mesti dihidupi dan hidup kita mesti didasarkan pada iman kita. Kepalsuan menjadi sikap dasar saat iman kita digantikan tempatnya oleh keyakinan-keyakinan lain yang diyakini dapat menjamin hidup. Seandainya kita membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita dan nadi hidup kita dialiri darah-darah iman ceritera hidup ini akan lain dan kepalsuan tidak mudah merasuki hidup kita.

“Kita baik bukan karena apa yang kita katakan tetapi karena apa yang kita lakukan membuat orang lain menjadi jauh lebih baik”.
[ back ]