Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 14-02-2010 | 20:07:50
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “BUKAN SOAL TANDA”
Mrk 8:11-13, Senin, 15 Februari 2010

Ada banyak tanda yang kita jumpai dalam hidup; tanda tangan, tanda mata, tanda-tanda dan masih banyak lagi yang lain. Dan berbicara tentang tanda boleh jadi anda teringat akan tanda yang menjadi kekhasan diri orang yang anda kenal atau tanda mata yang pernah anda terima atau berikan sebagai kenang-kenangan akan sesuatu atau seseorang yang punya tempat khusus dalam hati dan hidup anda. Dari sini kita dapat memahami bahwa tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. Tanda bisa juga dilihat sebagai gejala atau isyarat; wajah cemberut duta sebuah hati yang suram, bunga yang dikirim mewakili hati sang pemberi, selembar foto menjadi tanda ketakterpisahan relasi dua hati meski jauh dalam jarak, suara yang terkirim via telepon adalah detak kerinduan orang yang berada di sebrang. Tetapi otentisitas tanda bukan bergantung dari tanda itu tetapi apakah si penerima-pembaca memahami maknanya atau tidak. Untuk itu kita perlu berhati-hati/bijak menafsir-menanggapi kehadiran tanda-tanda itu; jeli melihat realitas lain di balik apa yang ditangkap mata, pandai membaca yang tersirat di balik kata-kata yang tersurat dan sigap mendengar apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap.

Melihat kenyataan ini dan segala yang mengitari kita, dalam hubungan dengan iman atau kepercayaan, kita bertanya; Apakah kita membutuhkan tanda-bukti untuk bisa percaya pada sesuatu atau seseorang? Bukti hanya dibutuhkan untuk memperkuat fakta dan bila kita berada dalam keraguan, kebimbingan akan sesuatu atau seseorang. Di sini jelas bahwa kepercayaan-iman bukan soal tanda tetapi masalah hati. Hatilah yang menentukan segalanya. Tanda boleh hebat, menakjubkan tetapi bila hati tetap tertutup, tanda itu tidak banyak berarti. Ini berarti kita tidak selalu membutuhkan tanda/bukti untuk bisa percaya. Bila semua hal mesti difisikkan, dengan standar apa kita dapat mengukur kedalaman sebuah cinta atau keyakinan? Dapatkah anda bayangkan bagaimana jadinya dunia ini bila segala sesuatu mesti didasarkan pada tanda/bukti? Kepercayaan adalah soal kualitas jiwa, keterbukaan diri dan kesediaan hati untuk menerima kenyataan yang ada bukan banyaknya tanda. Perkara iman bukan soal ada tidaknya tanda tetapi masalah terbuka tidaknya sebuah hati untuk menerima tawaran yang datang dari luar. Ketika orang-orang Yahudi me-minta tanda supaya mereka bisa percaya, Yesus berkata bahwa permintaan mereka tidak akan Ia kabulkan. Bagi Yesus kepercayaan mestinya merupakan sesuatu yang harus muncul dari dalam diri manusia bukan sesuatu yang lahir karena dipaksakan dari luar. Perubahan hidup mesti terjadi karena kita membutuhkannya bukan karena paksaan dari hadirnya sebuah tanda. Keselamatan ditawarkan kepada setiap pribadi dan tawaran ini mesti dijawab secara pribadi pula. Orang harus bebas menentukan sikap karena konsekuensinya pun sangat personal. Di sisi lain, kisah ini hendak mengatakan bahwa kita perlu bersikap terus terang dalam menyatakan sikap kita, jangan mencari-cari alasan untuk melandasi sikap yang akan kita ambil. Tanda atau bukti bisa saja direkayasa dan dapat ditafsir dari aneka sudut pandang. Iman-kepercayaan tidak sama dengan tanda. Katakan terus terang bahwa anda menolak tidak perlu tanda untuk dijadikan alasan.

Iman/kepercayaan bukan soal tanda tetapi soal hati. Bila kita sungguh membutuhkan tanda, tidak ada tanda yang lebih hebat selain hidup kita sendiri. Hidup kitalah yang menentukan beriman tidaknya kita. Karena itu kehadiran kita dalam kebersamaan mesti menandakan kehadiran Allah yang kita imani. Apakah memang demikian? Dalam hal tertentu kita butuh kehadiran sebuah tanda tetapi iman-kepercayaan bukan soal tanda tetapi soal hati. Hebatnya tanda tidak akan mampu mempengaruhi orang bila ia tidak punya hati. Hatilah yang menjadi kunci segala; menerima atau menolak. Bila tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain, ia hanya merupakan representasi sebuah hati, ia bukan penentu segalanya. Untuk merubah kisah hidup ini kita tidak membutuhkan tanda, yang kita butuhkan adalah kesediaan hati untuk berubah dan hati yang sungguh merasakan bahwa perubahan adalah satu kebutuhan yang mesti muncul dari kedalaman batin manusia bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar. Hidup kitalah yang menjadi tanda terbesar beriman tidaknya kita. Karena itu biarkan hidupmu dijiwai oleh iman yang anda miliki sehingga anda tidak perlu sebuah tanda tetapi sebuah hati yang siap berubah demi berubahnya kisah hidup ini.

“Jangan cari-cari alasan untuk menolak sesama dan kita tidak harus menggunakan segala macam alat peraga hanya untuk membuat orang lain mempercayai kita’.
[ back ]