Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-07-2009 | 08:15:37
By : P. Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘IKUTLAH AKU’
(Mateus 10:34-11:1, Senin, 13 Juli 2009)

Kita baru saja habis mengikuti pilpres dengan segala kisah di balik kegiatan demokrasi ini. Ada yang puas, ada yang kecewa dan ada lagi yang sama sekali tidak terpengaruh dengan kegiatan ini apapun hasilnya. Dari kenyataan ini kita dapat menyimpulkan bahwa memilih tidak selalu mudah, gampang. Hal ini akan semakin membebankan bila kita menyadari bahwa apapun yang kita lakukan selalu punya konsekuensi; memilih untuk memilih dan memilih untuk tidak memilih, kedua punya konsekuensi walaupun berbeda dalam dampaknya. Apalagi bila kita tahu bahwa memilih berarti bersedia meninggalkan atau kehilangan yang lain dan setiap pilihan punya konsekuensi sekalipun kita memilih untuk tidak memilih. Aksi ini akan semakin sulit saat kita dihadapkan pada situasi buah si malakama; situasi atau....atau dengan konsekuensi yang sama berat. Mengapa kita menghadapi banyak soal? Karena kita memilih tanpa kesediaan meninggalkan atau kehilangan yang lain; kita tidak bersedia menerima konsekuensi dari tindakan kita. Mestinya kita tahu bahwa pada saat kita menjatuhkan pilihan, pada saat itu relasi kita dengan dunia di sekitar kita berubah.

Disadari ataupun tidak, hidup ini sebenarnya merupakan satu rangkaian aksi memilih dengan segala manifestasinya; apa yang mesti kita buat sesuah satu tindakan memilihmenghidupi apa yang telah kita pilih. Hal yang sama mesti kita lakukan saat kita berhadapan dengan Yesus. Kehadiran Yesus menuntut kita menentukan sikap; mengikuti atau menolak Dia. Di sini kita cenderung menun-jukkan sikap tidak jelas yang membingungkan sesama. Kita menghendaki sebuah perubahan teapi kita sendiri takut berubah. Kita tidak sanggup menerima konsekuensi pilihan kita. Padahal memilih mengikuti Dia berarti menempatkan diri pada posisi tertentu dengan tanggung jawab yang khas pula. Boleh jadi kita bersedia berada pada posisi tertentu tetapi kita gagal karena kita tidak bersedia menerima tanggungjawab posisi tersebut. Kalau emas diuji dalam tanur api, pilihan kita diuji dalam tanur keseharian kita. Mengikuti Dia berarti bersedia meninggal keluarga; satu permintaan yang sulit diterima masyarakat kita yang menjunjung tinggi nilai ikatan kekeluargaan. Yesus tidak menyangkal keeratan ikatan ini. Dia hanya melihat bahaya yang bisa muncul dari ikatan ini. Keluarga dapat menjadi pendukung utama misi yang sedang kita emban tetapi bisa melemahkan ketegaran sikap kenabian kita. Mengapa terjadi KKN? Karena kita cenderung melihat hubungan darah ketimbang memperhatikan fungsi kehadiran kita. Banyak orang gagal melayani publik karena mereka lebih berorientasi pada keluaarga. Virus penyakit ini sudah mewabah bukan saja di kalangan awan tetapi juga di kalangan mereka yang menerima panggilan khusus. Keluraga dalam Yesus melampaui hubungan darah. Mengikuti Dia, kita harus siap memikul salib. Kita punya keinginan yang kuat untuk mengikuti Dia tetapi kita takut memikul salib. Kita hanya ingin menyaksikan perbanyakan roti dan perubahan air menjadi anggur; kita takut berada bersama Dia di getsemani hidup ini. Kita begitu sering mempersoalkan besar kecilnya salib bukan kesediaan dan kesanggupan kita untuk memikul salib. Bila kita sanggup; besar kecilnya bkan soal. Mengikuti berarti siap menyangkal, berperang dengan diri sendiri. Kita belum sanggup mengikuti Dia karena lebih mudah bagi kita menyangkal ataupun berperang dengan sesama ketimbang me-nyangkal dan berperang dengan diri sendiri; kita tak pernah berada pada pihak yang salah. Mengikuti Yesus berarti siap menjadikan hidup dan misiNya sebagai hidup dan misi kita. Sejauh ini, hidup dan misiNya belum menjadi hidup dan misi kita. NamaNya digunakan namaNya untuk menjalankan misi pribadi kita.

Menarik, menyaksikan karang-karang pantai yang dihantam gelombang laut; semakin besar gelombang yang datang semakin kokoh adanya. Ketahanannya dimatangkan oleh datang dan perginya gelombang laut. Boleh jadi anda sedang bingung menentukan pilihan. Apapun yang anda lakukan, ingatlah bahwa setiap pilihan selalu punya konsekuensi. Memilih tidak hanya menjanjikan hebatnya peristiwa perbanyakan roti dan perubahan air menjadi anggur tetapi juga saat-saat Getzemani di mana komitmen akan pilihan kita diuji. Kita telah memilih mengikuti Yesus, kita harus siap memikul salib keseharian kita. Jangan takut memikul salibmu, takutlah bila anda berlari meninggalkannya.

[ back ]