Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-01-2010 | 20:24:13
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : KAMU BERARTI
Mrk 1:29-39, Rabu, 13 Januari 2010

Lampu jalanan itu sudah lama tidak berfungsi, lorong sepanjang jalan itu gelap di waktu malam. Suasana sepi dan gelap gulita memperbesar rasa takut ataupun membangkitkan sara takut bagi mereka yang hendak melewati jalan itu. Anehnya walaupun takut dan tahu apa yang mesti mereka perbuat, tidak seorangpun yang mau berkorban mengganti bola lampu yang sudah lama tidak berfungsi. Kenyataan ini sebenarnya hendak mengungkapkan beberapa sisi kehidupan kita; pertama, segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita, masing-masing punya peran dan kehadirannya memeberi warna yang khas bagi kehidupan kita, berarti tidaknya kita dalam kebersamaan ditentukan, bergantung dari berfungsi tidaknya peran kita di sana. Kedua, bila salah satu dari semuanya itu tidak dapat menjalankan perannya sebagaimana mestinya, sudah pasti akan menimbulkan soal. Besar kecilnya soal bergantung dari vital tidaknya peran hal itu bagi kehidupan ini. Ketiga, karena masing-masing punya peran maka sudah jelas langsung maupun tidak selalu ada saling pengaruh; berperan tidaknya sesuatu mempengaruhi yang lain disadari, diakui ataupun tidak. Keempat, karena saling mempengaruhi, tidak berfungsinya satu hal dalam kehidupan ini tidak boleh membuat kita berhenti hanya pada rasa prihatin. Keprihatinan kita mesti diwujudkan dalam tindakannya bila kita menghendaki semuanya berperan sebagaimana mestinya. Sebagaimana indahnya sebuah lukisan karena paduan aneka warna, demikian juga harmonis, lestari tidaknya kehidupan ini bergantung dari peran kita masing masing dalam kebersamaan.

Bila dalam perikop terdahulu kita berbicara tentang tentang pentingnya kesediaan untuk menyeberang, pada perikop ini, kita mau bicara tentang pengaruh kehadiran kita dalam kebersamaan. Tidak dapat kita sangkal bahwa dalam kebersa-maan ada orang-orang yang sangat dinantikan kehadirannya dan ada juga yang sama sekali tidak diharapkan penampakan batang hidungnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa disadari ataupun tidak kehadiran kita sebenarnya berefek ganda; bisa berpengaruh positif-diterima, bisa juga negatif/ditolak; hal ini bergantung dari bagaimana kita membawa diri dan memberi arti bagi kehadiran kita dalam kebersamaan itu. Lalu kita bertanya, mengapa Yesus di mana Dia hadir di sana banyak orang menantikan Dia? Karena di mana Dia hadir di sana orang merasakan kebaikan, menjadi baik atau jauh lebih baik, menemukan kembali jati dirinya saat di mana api kepercayaan diri mereka kembali bernyala dan cinta mereka yang tengah mengalami musim gugur kembali memasuki arena musim semi. KehadiranNya membuka isolasi, menjembatani mereka yang terbu-ang untuk kembali mengambil bagian dalam irama kehidupan bersama. KehadiranNya selalu membawa perubahan dalam hidup entah karena orang disadarkan ataupun mereka sendiri menyadari betapa pentingnya sebuah perubahan. Ia datang untuk memulihkan situasi mulai dengan menyembuhkan mereka yang sakit, menyadarkan orang untuk mengenal siapa dirinya dan dalam situasi mana mereka berada. Dia selalu bersikap tanggap, siap menolong mereka yang sangat membutuhkan uluran tanganNya tanpa memperhitungkan untung rugi, tanpa harus menggelisahkan orang yang mau ditolong, ‘mertua Petrus lenyap demannya dan bangun untuk melayani mereka’. Bagaimana dengan kehadiran kita dalam kebersamaan? Ternyata kehadiran kita dalam kebersamaan masih perlu dievaluasi dn ditata ulang. Kehadiran kita belum mampu memberi nilai tambah bagi kehidupan sesama. Di mana kita hadir di sana banyak soal muncul; sesama kehilangan kepercayaan diri, bingung dengan jati dirinya, jurang pemisah semakin diperlebar karena kita cenderung mempertajam perbedaan, yang sehat jadi sakit, yang rendah hati jadi angkuh dan yang membutuhkan pertolongan dimanipulasi kemalangannya. Masih mungkinkah kehadiran kita berarti?

Jadikan kehadiranmu berarti merupakan peringatan sekaligus himbauan; ada kekurangan yang mesti dibenahi dan ada peluang untuk memberi nilai tambah bagi kehadiran kita di antara yang lain, yang tidak boleh diabaikan. Yang terpenting buat kita adalah pertama, apakah kita menyadari peran dan situasi diri kita atau tidak. Si sakit disembuhkan karena dia menyadari situasi dirinya. Kita sulit disembuhkan karena kita tidak mau menyadari situasi diri kita. Kedua, ada kerelaan dan kesediaan untuk disembuhkan; mertua Petrus mengulurkan tangannya dan ia disembuhkan. Aneka penyakit yang kita derita belum dapat disembuhkan karena kita tidak punya kerelaan untuk ditolong. Ketiga, kunci dari segalanya adalah apakah kita memiliki kerendahan hati atau tidak. Dunia ini telah kehilangan kerendahan hati. Boleh jadi secara fisik kitga bukan orang sakit tetapi secara psikis, kita adalah orang-orang sakit yang perlu ditolong. Kita punya hati tetapi kita tidak berhati-hati. Seandainya kita cukup rendah hati segala sesuatu menjadi mungkin.

“Sebuah pelita berarti karena cahayanya mampu mengusir kegelapan, anda bisa banyak berarti karena kehadiran anda mengartikan kehidupan sesama”.
[ back ]