Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 10-01-2010 | 19:17:23
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “LAKUKANLAH SESUATU”
Mrk 1:21-28, Selasa,12 Januari 2010

Dalam kebersamaan, kita selalu ada bersama orang lain, di tempat tertentu dan dengan misi tertentu pula. Di sana kita menjadi berarti bukan karena siapa kita ataupun karena posisi yang kita tempati tetapi karena apa yang kita lakukan bagi sesama dari tempat/posisi di mana kita berada dan bagaimana pengaruhnya bagi mereka yang dengannya kita ada dan mengais hidup. Ini berarti berada pada posisi tertentu saja tidak cukup, punya peran tertentu bukan jaminan, siap ataupun tidak kita harus melakukan sesuatu bila kita menghendaki kehadiran kita dihargai dan dapat memberi warna yang khas bagi yang lain. Tempat di mana kita berada harus menjadi arena pembuktian diri bahwa kita berarti bagi sesama karena kita memberi arti bagi kehidupan mereka, apa yang kita lakukan membantu mereka merubah kisah hidupnya. Dengan mengartikan mereka kita mengartikan kehadiran kita sendiri di antara mereka. Dengan merubah kisah hidup mereka, kita sendiri merubah gambaran mereka tentang diri kita. Banyak kali soal muncul karena kita berpikir bahwa posisi kitalah yang menentukan segala sesuatu. Padahal posisi yang kita tempati seharusnya dijadi-kan peluang untuk bisa melakukan sesuatu untuk tidak sedikit orang.

Banyak kisah yang dibuat Markus tentang aksi Yesus saat Dia berada di antara orang banyak. Di mana saja Dia ada di sana sudah pasti akan terjadi hal baru yang menakjubkan; merubah haluan hidup orang ataupun membuka lembaran hidup baru bagi mereka yang berjumpa dengan Dia. Nelayan penjala ikan diberi peran baru sebagai pemukat manusia, mereka yang kesehariannya dihabiskan untuk mengakrabi pantai dan laut, harus mulai menekuni pekerjaan baru masuk keluar kota dan desa. Pokoknya selalu ada-ada saja, di mana Dia hadir. BagiNya, tidak ada hari tanpa kerja, tidak ada waktu yang berlalu tanpa cerita baru. Satu saat entah kapan dua tibu tahun silam, saat tiba, Yesus langsung mengajar dan menyembuhkan orang. Apa yang Dia ajarkan dan lakukan membuat para pendengarNya kagum; Dia mengajar mereka mulai dari apa yang mereka tahu berbeda dengan para ahli taurat mengajar untuk menunjukkan bahwa mereka maha tahu. Kisah singkat ini syarat pelajaran buat kita tentang bagaimana kita mengartikan kehadiran kita dalam kebersamaan. Kapernaun; nama tempat ini hendak menandaskan bahwa di mana saja kita berada, di tempat di mana sekarang anda berada, apapun situasinya, di sana kita harus melakukan sesuatu untuk mereka yang berada di sekitar kita. Kita harus memberi warna yang khas bagi kehadiran kita di tempat tersebut. Kita tidak perlu melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Yesus, cukup dari kehadiran kita yang berpesan, orang dapat belajar bagaimana mengartikan kehadirannya sendiri. Banyak kali kita ditolak karena apa yang kita katakan justeru meremehkan sesama, kita lebih mengagungkan diri ketimbang membuat apa yang kita lakukan menjadi bukti bahwa kita patut dikagumi. Kita tidak perlu berbicara banyak tentang apa yang sudah kita lakukan, biarkan apa yang kita lakukan bercerita tentang kita dan mereka yang dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan menilai positif tidaknya kehadiran kita bagi mereka. Ia menghardik roh jahat yang menguasai orang lain. Seperti Yesus kita juga punya tugas yang sama, kehadiran kita harus menjauhkan sesama dari hal-hal yang negatif, meringankan beban hidup mereka. Kita cenderung membuang banyak waktu berbicara tentang apa yang kita kerjakan ketimbang memberi banyak waktu agar apa yang kita kerjakan berbicara tentang kita. Obyektivitas akan lebih banyak berkisah tentang diri kita ketimbang kita sendiri yang melakukannya. Dan obyektivitas itu dengan sendirinya akan dijadikan cermin oleh sesama untuk menata hidupnya. Di samping itu motivasi kita menentukan keluhuran tindakan kita. Hati dan tindakan kita mesti sejalan. Kita perlu menghindari kesan seolah-olah.

Di mana nilai lebih yang kita miliki sebagai orang-orang kristen dalam kehidupan bersama? Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari pada kaum Farisi ataukah kita adalah kaum Farisi jaman ini bahkan lebih buruk dari mereka? Kita baru berada pada tahap mengetahui adat istiadat yang berlaku tetapi belum memahami mengapa kita mentaatinya. Mungkinkah kita adalah para murid yang suka melanggar adat yang berlaku entah itu disadari ataupun tidak? Kita punya tugas seperti Yesus yang selalu siap membawa pulang sesama yang kurang memahami bagaimana seharusnya hidup bersama. Yang terpenting adalah biarkan apa yang kita lakukan berbicara tentang kita.

“Bila anda menghendaki adanya perubahan dari kisah hidup ini, anda harus bersedia keluar dari dunia anda yang sempit. Tetapi ini hanya mungkin bila pada diri anda ada kesediaan dan kerelaan untuk berkorban”.
[ back ]