Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 04-01-2010 | 19:26:08
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : LAKUKAN APA YANG MESTI DILAKUKAN
Mat 4:12-17.23-25, Senin, 4 Jan 2009

Anda dan saya kita selalu ada bersama orang lain dan kita tidak dapat melepaskan diri dari mereka waslaupun mungkin kita tidak mengakui kehadiran mereka dalam hidup kita. Semakin kita berusaha untuk menyendiri, kita akan semakin disadarkan bahwa kita tak dapat hidup sendiri. Perlu kita sadari bahwa keberadaan kita di dunia yang tak kekal ini saja sudah melibatkan begitu banyak orang. Kita ada karena mereka, tanpa mereka kita tidak ada dan bukan siapa-siapa. "Ich werde am du" kata Martin Buber, saya hanya dapat ada dan menjadi melalui engkau. Di sini kita melihat betapa berartinya kehadiran orang lain, kehadiran anda. Dalam kebersamaan ini ada kesalingan; ada benang yang tak kelihatan yang menghubungkan anda dengan saya, kita dengan mereka. Kesalingan ini sudah seharusnya kita sadari dan hidupi. Di hadapan cermin kesalingan itu, manusia mesti melihat sesamanya sebagai kembaran dirinya, rekan seperjalanannya yang mesti bahu membahu bukannya musuh, saingan yang mesti dilenyapkan. Karena kesalingan itu kita mesti tahu bagaimana seharusnya hidup bersama, bagaimana melestarikan kebersamaan itu. Kita mesti terdorong untuk bisa merasakan apa yang dirasakan sesama dan tidak boleh berhenti pada rasa prihatin. Inilah jalan untuk mengartikan kehadiran kita, memberi warna yang khas bagi kehadiran kita dalam kebersamaan.

Natal telah menjadi masa lampau, lagu-lagu natal perlahan-lahan kehilangan daya pikatnya, kerlap-kerlip lampu-lampu hias tidak lagi semenarik cahayanya di malam natal. Yang baru yang kita kenakan sudah tidak baru lagi. Dan apakah ini berarti pesan-pesan natalpun sudah menjadi masa lampau? Pesan-pesan natal sudah seharusnya menapatkan wajahnya dalam kata dan laku kita, dalam relasi kita dengan sesama. Kehadiran kita dapat menjadi kerlap-kerlip lampu hias pada langit kehidupan sesama. Kidung-kidung natal mestinya sudah menjadi lagi dalam laku dan kata kita. Apa artinya merayakan natal bila tidak ada kesediaan untuk berubah? apa artinya berbicara tentang damai bila kita masih tetap menjadi algojo di dalam rumah kita sendiri bagi keluarga? Apa artinya uluran tangan yang kita berikan bila jurang yang memisahkan kita dengan kita masih tetap tidak terjembatani? Memasuki tahun baru, mestinya kita bisa tampil sebagai manusia-manusia baru, karena kita sudah bersedia berubah, sudah tidak ada lagi jurang yang memisahkan kita dengan kita, kita dengan mereka. Untuk itu kita mesti bercermin pada Yesus. Tampilnya Dia di depan umum; merubah situasi. Apa yang dilakukanNya menjadi jiwa yang menggerakkan mereka yang berjumpa dengan Dia untuk berubah haluan. Dia menjadi terang bagi mereka yang berdiam dalam kegelapan, pembebas bagi mereka yang terpenjara. Yang sakit disembuhkan, yang lumpuh berjalan, yang berduka dirubah suasana hatinya, yang putus asa diberi harapan. Dia senantiasa berkeliling untuk berbuat baik; sehingga tidak heran kalau di mana Dia hadir di sana banyak orang mencari Dia dan ingin berjumpa dengan Dia. Bagaimana dengan kehadiran kita, orang-orang yang mera-yakan natal, manusia-manusia yang telah meninggalkan tahun yang lama. Di sini kita disadarkan bahwa tempat di mana kita berada mesti menjadi arena di mana kita dapat mengekspresikan kekeristenan kita, mewujudkan iman kita dalam tindakan nyata. Kita dapat melakukan hal-hal kecil yang punya pengaruh tidak kecil. Kehadiran kita mesti memberi warna lain bagi hiduyp sesama; seperti kerlapkerlip lampu hias pada kandang natal, seperti warna kembang api yang menerangi gelapnya malam. Boleh jadi kita masih seperti yang dulu; angka tahun telah bertukar, tahun lama sudah kita lampaui tetapi kita sendiri tidak bersedia meninggalkan hidup kita yang lama. Lalu bagaimana dengan perubahan yang kita impikan, hidup baru yang kita angankan.

Natal telah menjadi masa lampau, tahun baru sudah tidsak baru lagi, yang mesti menunjukkan bahwa ada yang selalu aktual dan baru adalah hidup kita sendiri. Ada perubahan yang kita perlihatkan kepada sesama. Pesan natal dan harapan akan adanya perubahan dalam hidup kita mesti nampak dalam hidup dan laku kita. Kehadiran kita mesti memberi warna lain dalam kebersamaan, mendekati pengaruh kehadiran Yesus di depan publik kaum Yahudi. Seperti Yesus, kitapun punya misi yang sama; membawa perubahan dalam hidup kita dalam kehidupan sesama. Kita mesti menjadi terang, sumber inspirasi dalam dunia yang tengah kebingungan. Di mana kita hadir, di sana kita dapat meringankan beban hidup sesama, membuat hidup ini enteng untuk dijalani. Untuk itu kita tiak perlu melakukan hal-hal besar, cukup dengan kehadiran kita yang sederhana yang punya pengaruh yang tidak sederhana; jadio sumber kegembiraan bagi sesama. Tetapi ini hanya mungkin bila kita sendiri sudah merubah pandangan kita tentang sesama dan menyadari untuk apa kita ada dalam kebersamaan. Hanya dengan cara ini, kita dapat mengartikan kehadiran kita dalam kebersamaan, memberi wajah baru bagi kebersamaan di mana kita ada dan mengais hidup.

“Kita adalah agen perubahan tetapi untuk itu kita sendiri mesti siap berubah”
[ back ]