Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-12-2009 | 00:16:01
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JANGAN ABAIKAN KEHADIRANNYA
Lukas 2:22-35, Selasa, 29 Desember 2009

‘Jangan abaikan kehadirannya', bila kata-kata ini dikaitkan dengan hukum dan aturan yang ada dalam keseharian kita, hal ini mengisyaratkan adanya sesuatu yang tidak beres dalam relasi kita berhubungan dengan hukum dan aturan yang berlaku. Mungkin saja kata-kata di atas membersitkan jawaban mengapa ada begitu banyak soal dalam hidup ini. Banyak soal muncul dan tidak sedikit masalah yang mesti kita hadapi karena kita mengabaikan hukum dan aturan yang berlaku. Kita hi-dup dan beraksi seolah-olah tidak ada hukum yang mengatur hidup kita atau kita menganggap bahwa hukum dan aturan yang ada hanya berlaku untuk orang atau kelompok tertentu. Hal ini mungkin juga terjadi karena kita tidak dibiasakan untuk mengenal dan mentaati aturan hidup bersama. Bila di rumah orang tua gemar bertengkar, di sana anak-anak dididik untuk melihat teman-temannya sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Bila di rumah anak-anak tidak dibiasakan untuk menghor-mati aturan yang ada, sangat kecil kemungkinan mereka punya kesediaan untuk menghormati aturan yang berlaku di luar rumah. Sikap kitalah yang membuat hukum dan aturan yang berlaku kehilangan daya ikatnya. Lihatlah di sepanjang jalan ada begitu banyak rambu-rambu lalu lintas tetapi mengapa masih saja ada lakalantas? Apakah kita buta atau tidak mampu membaca signal yang dihadirkannya? Mata dan hati kita sudah dibutakan oleh keinginan untuk menang sendiri.

‘Pelihara peraturan dan peraturan akan memelihara anda-serva ordinem et ordo servabit te' satu ungkapan klasik yang tetap aktual selama ada hidup bersama. Kata-kata ini mengungkapkan relasi timbal balik dari sikap yang kita ambil berhadapan dengan hukum dan aturan yang berlaku dan konsekeunsi dari sikap ini terhadap diri kita; bila kewajiban dipenuhi maka hakpun akan ikut terpenuhi walaupun kadang kenyataan tidak sejalan dengan teori ini; kita punya hak mendapatkan rasa aman dan pada saat yang sama kita berkewajiban untuk memberi rasa aman kepada yang lain. Mengapa kita menemukan banyak soal dalam keluarga, di tempat kerja dan dalam masyarakat yang sering memusingkan kepala? Karena di sana telah terjadi benturan kepentingan antara hak dan kewajiban. Kita lebih banyak menuntut hak lalu aturan sebagai penengah kita abaikan kehadirannya padahal ia ada untuk mengatur agar hakmu tidak mengganggu hakku, kepentinganmu tidak mengabaikan kewajibanmu. Tetapi yang terjadi justeru sebaliknya hak kita mengkhianati kewajiban kita padahal yang satu dijalankan, yang lain tidak diabaikan apapun konsekuensinya. Aturan dan hukum mem-punyai tempat khusus dalam kehidupan kita. Bila kita menghormatinya kitapun akan memiliki tempat khusus dalam kebersamaan. Dan hal ini sudah harus mulaimenjadi kebiasaan sejak dini. Di sini peranan keluarga perlu dievaluasi. Apakah anak-anak kita sudah dibiasakan dengan hal ini? Hari ini, kita mendengar ceitera Yesus dipersembahan di Bait Allah. Selain menyerahkan Yesus kepada rencana Allah, Yosef dan Maria hendak menunjukkan kepada kita bahwa adalah penting membiasakan anak-anak mengenal apa kewajiban mereka terhadap Allah dan sesama sejak mereka mulai mengenal dunia tempat di mana mereka ada dan hidup. Inilah yang membuat keluarga kecil ini punya tempat khusus dalam kitab suci dan dalam kehidupan bergereja. Yesus sejak awal hidupNya telah diperkenalkan dengan kewa-jibanNya untuk memenuhi apa yang diminta oleh hukum Taurat. Simeon boleh me-nyaksikan pemenuhan janji Allah karena seluruh hidupnya diwarnai dengan usahanya memenuhi apa yang diminta Tuhan untuk dilakukannya. Demikian juga Hana, nabi wanita ini diberikan usia yang panjang untuk dapat menyaksikan kehadiran sang Penebus dan bersaksi tentangNya. Dengan mengangkat kenyataan ini, kita ingatkan akan betapa pentingnya pemenuhan hukum, kalau bukan untuk orang lain hal ini bermanfaat untuk diri sendiri; menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Keseimbangan membuat segalanya berjalan wajar dan tidak mengada-ada. Selain itu kita hendak diyakinkan bahwa apa yang kita lakukan akan selalu diikuti dengan imbalan-nya walau kadang datangnya tidak bersamaan.

Kita hidup bukan untuk aturan dan hukum tetapi kita patut memenuhi tuntutannya demi diri kita sendiri. Kalau Yesus yang Allah sumber hukum memenuhi apa yang dibuatNya sendiri, mengapa kita tidak dapat melakukannya? Aturan dan hukum ada bukan untuk orang lain tetapi untuk dan demi kita. Kalau kita begitu gelisah untuk memenuhi hak kita, kita pun mesti merasa wajib menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita. Hanya dengan jalan ini, kita dapat menyaksikan hal-hal besar terjadi dalam hidup.

"Aturan ada bukan untuk menghalangi kebebasan kita, dia ada untuk menjamin apa yang kita katakan kebebasan".
[ back ]