Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-12-2009 | 00:12:50
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : AKU DATANG UNTUK MELETAKKAN
Mateus 2:13-18, Senin, 28 Desember 2009

“Aku datang untuk meletakkan mataku dalam matamu”. Mendengar kata-kata ini, secara harafiah kita mungkin berpikir bahwa bahwa satu operasi pencangkokan mata mesti berlangsung; mataku hanya bisa menjadi matamu melalui operasi. Tetapi apakah anda bersedia? Boleh jadi tidak, karena matamu mungkin lebih bersinar dari mataku; lebih terang ketimbang mataku yang mulai rabun. Bila dimengerti secara lain; operasi tidak perlu dijalankan karena aku hanya ingin merubah pandanganmu, cara anda melihat dunia yang sedang mengitari adamu. Bila selama ini anda menutup mata terhadapa kehadiran sesama, dengan me-letakkan mataku dalam matamu, aku ingin anda membuka mata terhadap kehadiran mereka; dalam caranya yang khas kehadiran mereka memberi warna yang khas bagi duniamu. Bila selama ini, anda melihat kehadiran sesama sebagai musuh yang harus ditaklukan, dengan meletakkan mataku dalam matamu, diharapkan anda dapat menyadari bahwa anda berarti karena mereka diartikan; hanya dalam dan melalui mereka anda dapat menjadi seperti anda sekarang ini. Inilah makna natal; sebuah kelahiran baru, perubahan pandangan kita terhadap kehadiran sesama. Tanpa hal ini, satu kelahiran baru tidak mungkin. Dan natal yang kita rayakan tidak banyak berarti.

Disadari ataupun tidak piala kegembiraan natal yang kita rayakan sedang beranjak pergi dari ruang keseharian kita. Kidung-kidung natal tidak lagi semerdu kemarin, iklan-iklan natal mulai kehilangan pesona, kerlap-kerlip lampu hias tidak sesemarak saat kita memasangnya dan kandang-kandang natal tidak lagi menjadi pusat perhatian. Lalu apa yang masih tersisa dari perayaan ini yang mesti kita bawa memasuki tahun yang baru? Pesan-pesan natal mestinya sudah mulai mengalir dalam nadi kehidupan kita, mempengaruhi relasi kita dengan yang lain, berubah wujud dalam kata dan laku kita, merubah pandangan kita terhdap kehadiran sesama. Hari ini gereja mengajak kita untuk mengenang kematian anak-anak Israel yang menjadi korban tak berdosa karena keserakahan Herodes. Mereka dibunuh hanya karena ia mendengar berita bahwa di antara mereka ada satu yang akan memerintah Israel; kehadirannya dianggap mengancam kekuasaannya. Kisah ini sebenarnya merupakan jawaban mengapa kita masih harus menghadapi aneka soal dalam hidup dan mengapa banyak anak yang kehilangan masa depan karena ambisi pribadi kita. Hidup kita dipenuhi soal dalam beragam wajah karena kita menganggap sesama sebagai saingan, musuh yang harus ditaklukan, disingkarkan dan karir adalah segalanya. Kehadiran mereka dianggap mengancam kemapanan kita, mengganggu rutinitas kita. Pandangan semacam ini memungkinkan kita menghalalkan segala cara untuk mengamankan diri, meraih prestasi; orang lain boleh dikorbankan dan anak-anak tegah ditelantarkan. Ingat, bila kepentingan pribadi diutamakan, kita akan mudah mengorbankan orang lain, bila kepentingan umum diprioritaskan kita selalu punya kerelaan untuk berkor-ban. Tetapi kisah hidup ini akan berubah bila kehadiran sesama dilihat secara positif, keunggulan mereka dijadikan cermin bagaimana meraih sukses tanpa harus mengorbankan orang lain dan anak-anak kita. Pesta hari ini juga mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap ambisi pribadi; ia dapat membantu kita mengarahkan pan-dangan kita ke arah tertentu, hal yang sama dapat membuat kita kehilangan orientasi dan meniadakan makna kehadiran orang lain. Sesama Tidak perlu dilihat sebagai saingan, musuh yang harus ditaklukkan tetapi teman seperjalanan di mana darinya kita dapat belajar bagaimana merubah kisah hidup kita. Cara pandang seperti inilah yang memungkinkan satu kelahiran baru, berartinya sebuah natal.

Kita diciptakan dengan talenta yang aneka. Keanekaan ini mestinya memungkinkan kita untuk belajar rendah hati dan melihat keunggulan sesama sebagai cermin diri dalam meraih apa yang kita impikan. Kita diciptakan menjadi sahabat bagi lain dan dipanggil untuk menjadikan hidup ini guratan pelangi de-ngan aneka warna yang mempesona. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi musuh bagi yang lain, mengapa kita mesti melihat sesama sebagai musuh, saingan yang mesti disingkirkan? Siapakah anda di hadapan sesamamu? Orang-orang yang punya ambisi besar untuk berkuasa tetapi tidak mau belajar dari sesama ataukah orang-orang yang mau berkuasa dengan siap belajar dari keunggulan sesama? Pengaruh tidak lahir dari kekerasan dan tipu daya, pengaruh adalah hidup dan lakumu yang membangun jaringan tak kelihatan dengan dan dalam diri sesamamu. Mungkin dengan cara ini sesama dapat membiarkan anda meletakkan matamu dalam matanya dan natal menjadi perayakan yang punya makna.

[ back ]