Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-12-2009 | 00:10:12
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BESARKAN MEREKA DENGAN KEBAIKAN
Lukas 2:41-52, Minggu, 27 Desember 2009

Kita tidak bisa tidak hidup bersama orang lain bahkan orang lain menjadi syarat adanya kita. Hanya dalam dan melalui mereka kita ada dan menjadi diri kita sendiri. Itulah sebabnya ketika kita berusaha untuk menyendiri, kita semakin disadarkan bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Kesendirian kita hanya bisa mendapat pengakuan kalau ada orang lain. Dan kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang ingin hidup bersama tetapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan; seatap tetapi tidak sehati, semeja tetapi tidak sejiwa. Inilah yang membuat kebersamaan, keluarga menjadi kumpulan individu-individu yang individualistis, orang-orang yang berorientasi pada kepentingan diri; rumah menjadi medan perang berbagai kepentingan dan yang lain berusaha menjadi penakluk sehingga tidak heran kalau terjadi aneka kekerasan dalam rumah tangga ataupun komunitas hidup bersama. Lalu untuk apa kita membiarkan diri dinaungi atap yang sama? Keluarga seharusnya menjadi tempat di mana; benih-benih kasih tanpa pengkotakan bertumbuh, pemahaman akan perbedaan sebagai kekayaan sebuah kebersamaan berkembang, nilai-nilai luhur kebersamaan dihidupi, sesama dilihat sebagai kembaran diri yang patut dikasihi dan tiap pribadi adalah anugerah bagi yang lain di mana dalam dan melalui pribadi itu kita dapat menjadi diri kita sendiri.

Hari ini kita merayakan pesta keluarga kudus. Merayakan pesta keluarga kudus mestinya menghantar kita kepada kesimpulan sederhana bahwa keluarga ada-lah satu lembaga kudus; karena lembaga ini dikuduskan dan karena itu kehadirannya di antara yang lain mesti menghadirkan ataupun mengundang yang lain untuk mencintai kekudusan. Karena itu merayakan pesta keluarga kudus seharusnya menjadi moment berahmat bagi tiap keluarga/komunitas kristen untuk melihat ke dalam diri dan bertanya; sudah sejauh mana setiap kita; bapak dan ibu komit pada janji nikah yang diikrarkan, sudah sejauh mana tanggung jawab kita terhadap kehidupan kelu-arga dijalankan, pendidikan terhadap anak-anak diperhatikan. Pesta ini mengundang kita untuk membuat refleksi serius mengapa kita gagal membangun keluarga kita menjadi satu lembaga yang solid dijiwai cinta yang mengabdi dan menjadikan anak-anak kita pribadi-pribadi yang dapat diandalkan. Masihkah kita ingat akan apa yang dikatakan orang, ‘buah jatuh tidak jauh dari pohon'. Di sini yang harus dipermasalahkan bukan jauh tidaknya buah itu jatuh tetapi kekhasan apa yang kita beri pada anak-anak kita agar di mana mereka hadir di sana mereka dapat menghadirkan ke-khasan keluarga dari mana mereka berasal. Anak-anak adalah anugerah kehidupan yang mesti dijaga, kasih Allah yang berharga yang harus diperhatikan dengan hati. Mereka dapat menjadi sumber kebanggaan, bisa juga menjadi biang malapetaka; hal ini bergantung dari dalam keluarga mana mereka dilahirkan dan dibesarkan dan sejauh mana orang tua memainkan perannya dalam hidup mereka. Bila di rumah anak-anak begitu sering menyaksikan orang tuanya bertengkar, di antara teman mereka akan berusaha menjadi penakluk, mau menang sendiri, bila kata-kata kotor yang selalu bernyanyi di telinga mereka, dalam pergaulan kata-kata yang sama akan menjadi nama panggilan teman-temannya. Bacaan yang kita dengar hari ini menjadi jawaban mengapa kita gagal menjalankan tugas kita sebagai orang tua dan di sisi lain darinya kita memperoleh jalan keluar bagaimana kita dapat membagun keluarga kita mendekati kehidupan keluarga kudus Nazaret; Yosef dan Maria berusaha membesarkan Yesus dalam tradisi Yahudi dan membiasakan Dia untuk mengenal budayanya sendiri. “Didiklah anak-anak anda bukan supaya mereka dapat menjadi seperti anda tetapi supaya mereka dapat menjadi dirinya sendiri dengan dijiwai oleh nilai-nilai luhur yang anda wariskan.”

Keluarga adalah awal mula perjalanan seorang anak menjumpai dunia. Apa yang diperolehnya dalam keluarga itulah yang akan dibawa dan dibaginya dalam kebersamaan; yang dibesarkan dalam kebaikan dan cinta akan selalu merasa terpanggil untuk berbuat baik dan punya keterbukaan untuk mengasihi yang lain. Di sini peran orang tua mesti menjadi pusat permenungan kita. Apakah selama ini sebagai orang tua, kita mampu memainkan peran ini dalam keluarga kita? Kita bukan keluarga kudus tetapi dengan bercermin diri pada keluarga kudus Nazaret kita punya kemungkinan mendekati kehidupan keluarga kudus Nazaret.

"Apa yang kita beri kepada mereka itulah yang akan dihidupi dan dibagi kepada yang lain"
[ back ]