Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-12-2009 | 00:07:31
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : "SIAPLAH BERKORBAN"
Mateus 10:17-22, Sabtu, 26 Desember

Kebahagiaan dan penderitaan adalah dua sisi pada logam kehidupan manusia. Yang satu mengisyaratkan adanya yang lain. Khalil Gibran menulis; ‘bila kebahagiaan sedang bertamu di ruang hatimu, ingatlah bahwa penderitaan sedang tertidur di buritan nubarimu’. Bila gelombang penderitaan mendera bahtera hidupmu, ingatlah bahwa kebahagiaan sedang berteduh di persembunyian yang aman menanti badai berlalu. Setiap orang ingin bahagia dan yang kita cari dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Anehnya ada orang yang merasa bahagia bila me-lihat penderitaan sesama atau bila mereka dibuat menderita. Karena kebahagiaan yang kita cari, penderitaan selalu dihindari. Ini tidak berarti penderitaan selalu negatif, dia punya sisi positif bergantung dari cara kita menempatkan diri di hadapannya; kesendirian memungkinkan kita menyadari betapa berartinya kebersamaan dan penderitaan membuat kita menghargai kebahagiaan yang kita peroleh. Penderitaan juga menjadi batu uji kesetiaan kita dan menjadi sumber inspirasi bagaimana menemukan jalan menuju kebahagiaan.

Natal yang kita rayakan perlahan-lahan mulai berakhir. Kidung-kidung pujian tidak lagi semerdu kemarin, yang baru mulai kehilangan pesona, kerlap-kerlip lampu hias tidak semenarik saat kita memasangnya dan kandang-kandang natal tidak lagi menjadi pusat perhatian. Lalu apa yang masih tersisa dari perayaan ini yang mesti kita bawa memasuki tahun yang baru? Pesan-pesan natal mestinya sudah mulai mengalir dalam nadi kehidupan kita, mempengaruhi relasi kita dengan yang lain, berubah wujud dalam kata dan laku kita. Bila ini terjadi; hidup kitalah yang kini menjadi satu nyanyian yang hidup, kehadiran kita bertukar menjadi kerlap-kerlip lampu-lampu hias yang siap menerangi dunia yang gelap, kita mejadi penerang dan hati kita menjadi ruang tempat kasih dan damai mengalir mempertemukan dan menjembatani segala perbedaan. Seperti sabda yang telah mejadi manusia, hidup kita mesti menjadi bukti bahwa damai yang didamba perlahan-lahan menemukan wujudnya. Di mana kita hadir, di sana kita membawa kasih yang mempersatukan, membagi damai yang melestarikan segala bentuk relasi. Tetapi ini hanya mungkin bila kita punya semangat berkorban, tidak takut menderita. Hidup baru hanya mungkin bila kita bersedia meninggalkan hidup lama dan hidup lama dapat ditanggalkan bila kita mau berkorban; berperang dengan diri sendiri dan siap ditolak oleh mereka yang bersikeras bertekun dalam hidup lamanya. Untuk itu, kita mesti mencontohi apa yang dibuat oleh st. Stefanus yang rela mati demi mewartakan kasih dan kebaikan. Kematian Stefanus menggarisbawahi kenyataan bahwa membawa damai dan membagi kebaikan adalah pekerjaan yang tidak mudah; kita akan menghadapi aneka tantangan yang datang dari mereka yang mencintai kekerasan dan mengagungkan kejahatan. Kita mesti siap berkorban atau rela menjadi korban. Siapa yang ingin hidup damai harus siap berperang dan musuh utama yang mesti dikalahkan adalah diri sendiri. Perubahan kisah hidup ini berawal dari berubah hidup kita sendiri. Bila kita mau berkorban kita dapat meyelamatkan banyak orang, bila kita ingin menang sendiri akan ada banyak korban yang berjatuhan. Dan memilih mengikuti jalan Yesus, kita akan mengalami nasib dan perlakuan yang sama; kalau Ia ditolak, kitapun akan ditolak. Mengikuti Dia, seorang murid tidak saja akan menyaksikan peristiwa perba-nyakan roti atau perubahan air menjadi anggur, tetapi juga siap untuk ditolak dan dianiaya. Memilih menjadi juru damai berarti harus siap menderita. Kalau emas diuji dalam tanur api, kesetiaan seorang murid diuji dalam tanur kehidupan. Penderitaan dan penolakan mesti melahirkan sikap tahan uji.

Natal yang kita rayakan mulai menjadi masa lampau. Yang harus tetap aktual dan hidup adalah pesan-pesan natal yang kita rekam selama perayaan ini berlangsung. Ini berarti, pesan dan suasana natal harus tetap hidup dalam kese-harian kita, mulai mempengaruhi seluruh hidup dan relasi kita dengan yang lain. Di mana kita hadir, di sana situasi damai bukan lagi satu impian belaka tetapi sesuatu mulai dirasakan oleh sesama. Di mana kita hadir, di sana kasih dan keba-ikan menjadi tali yang mengikat segala perbedaan. Di mana kita hadir di sana ada semangat berkorban demi keselamatan selama dan menghindari korban yang tidak perlu berjatuhan. Di mana kita hadir di sana damai menjadi tamu setiap hati.

[ back ]