Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-12-2009 | 00:04:50
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘DIA MASIH SEPERTI YANG DULU’
Yoh 1:1-18; Luk 2:1-14/15-20, Kamis/Jumat24/25 Desember 2009

Pernahkah anda mengalami pahitnya sebuah penolakan? Bagaimana perasaan anda saat itu? Natal, Allah datang mengunjungi umatNya walaupun tiada tempat bagiNya di hati manusia; satu kenyataan yang cukup ironis; belas kasih Allah dipertentangkan dengan ulah manusia. Kita tahu bahwa tanpa Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa tetapi kehadiranNya dilihat sebagai penghalang cita-cita dan keinginan kita. Ia datang membawa terang tetapi kehadiranNya diabaikan karena kita lebih suka berada dalam kegelapan. Natal membuktikan bahwa apapun yang kita lakukan tidak mampu membendung kasih setia Allah. Bila kemajuan jaman telah mengubah sikap kita terhadapNya, Allah masih seperti yang dahulu. Ia akan tetap datang apapun sikap manusia terhadapNya karena Dia tahu masih ada yang setia mendengarkan Dia dan rela menjadi duta kehadiranNya; orang-orang yang mencintai damai dan pembawa kabar baik.

Natal, satu pesta universal dan pesannya pun bersifat universal. Damai adalah awal dan muara ziarah sebuah Natal. Setiap natal mengingatkan kita bah-wa kita rindu kedamaian, kita butuh ketenteraman dan hidup baru hanya mungkin bila kita bersedia membaharui diri. Kidung-kidung natal, kartu-kartu yang kita terima, ucapan selamat yang kita sampaikan, uluran tangan yang kita berikan dan kandang natal yang ditaburi lampu aneka warna adalah duta kerinduan kita akan satu suasana lain, suasana damai. Ini berarti masih ada tempat kosong dalam ruang hati kita yang perlu diisi dan kekosongan ini hanya mungkin terisi bila kita mau berjuang mengalahkan diri. Mengapa Allah yang memiliki segala menjadi miskin? Karena Dia mau agar oleh kemiskinan, kita yang diperkaya oleh keilahianNya. Dia ingin kita tahu bahwa walaupun jaman telah berubah dan sikap kita terhadapnya turut berubah tetapi Dia masih seperti yang duhulu; mencintai kita apa adanya tanpa mengada-ada. Hari-hari ini, hidup kita diselimuti suasana natal. Kita menemukan aneka kandang-kandang natal entah itu di jalan-jalan kota ataupun di rumah. Pemandangan ini mengungkapkan; pertama, lingkungan kita sungguh lingkungan religius; satu kebanggan sekaligus tantangan. Kita harus membuktikan bahwa semuanya ini lahir dari religiusitas kita bukan sekedar mode yang tidak jauh berbeda dengan tumbuhnya jamur di musim hujan. Natal bukan sekedar pamer. Kedua, boleh jadi semuanya ini me-rupakan ekspresi kerinduan kita akan situasi natal, situasi damai di mana kita boleh tersenyum dengan seluruh ada kita. Dan ini hanya mungkin bila kita bersedia dilahirkan baru. Ketiga; kehadiran aneka kandang natal entah itu di pinggir jalan ataupun di rumah merupakan bukti bahwa Yesus sudah tidak punya tempat dalam hati kita; Ia ditempatkan di kandang-kandang yang kita buat agar kehadiranNya tidak mengganggu hidup dan keinginan kita. Di sini kita harus membuktikan bahwa kesimpulan ini tidak benar. Kalau Tuhan masih seperti yang dulu, kitapun belum berubah, kita masih setia padanya walaupun jaman memang sudah tidak seperti dulu lagi. Hidup kita masih punya pesan; Allah masih punya tempat di hati dan hidup kita.

Natal akan selalu kita rayakan walaupun banyak orang tidak lagi tertarik dengan kehadiran Allah. Seperti para malaekat, kita harus mengingatkan mereka bahwa apapun yang mereka lakukan, kasih setia Allah tidak dapat diingkari ka-ena hidup kita merupakan satu sejarah kebaikan Allah. Banyak orang punya ke-cenderungan baru; menyebarkan isu-isu menyesatkan dan merusak kedamaian, kitalah yang mesti menjadi kerlap-kerlip lampu peringatan bagi mereka bahwa kita diciptakan untuk membagi kebaikan dan membuat dunia menjadi jauh lebih baik. Di era internet ini walaupun ada aneka lampu penerang tetapi banyak orang masih suka berdiam dalam kegelapan; kitalah yang harus merasa terpanggil untuk mengingatkan mereka bahwa manusia selalu diarahkan kepada terang. Bila dua ribu tahun silam Yesus lahir dikandang, hari ini Yesus ingin lahir di hati dan hidup kita maing-masing. Bila dua ribu tahun silam Yesuslah yang lahir, saat ini kitalah yang mesti lahir sebagai manusia-manusia baru. Bila ribuan tahun silam Allah berbicara kepada dunia lewat para nabi dan puteraNya, di masa ini Allah ingin berbicara kepada dunia melalui hidup dan kehadiran kita. Selamat pesta natal, semoga kapdan dan di mana saja, kita mampu menjadi sumber damai dan pembawa terang bagi sesama.

[ back ]