Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-12-2009 | 23:12:19
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JEMBATANI JURANG YANG ADA
Minggu/Senin, 20-21 Desember 2009' Luk 1:39-45

Mengunjungi Ataupun dikunjungi adalah bagian dari keseharian kita apapun alasannya. Dan mungkin saja masih ada rencana anda yang belum terpenuhi untuk membuat satu kunjungan entah kepada sesuatu atau seseorang. Untuk itu kita juga tahu dan mengakui bahwa ada aneka kunjungan yang pernah kita saksikan atau kita buat; ada kunjungan keluarga untuk mempererat ikatan kekerabatan, ada kunjungan persahabatan agar tali persahabatan semakin dipererat, ada kunjungan pastoral yang dibuat para gembala untuk memonitor dari dekat suka dan duka umat gembalaannya, ada kunjungan dinas untuk tugas pemerintahan, kunjungan politis yang dibuat para politisi demi mendapat dukungan dan membangun simpati masyarakat walaupun sesudah terpilih mereka tidak lagi membuat kunjungan untuk berterima kasih kepada masyarakat pendukungnya dan masih banyak lagi kunjungan-kunjungan lain dengan maksud dan motivasi yang aneka. Sampai di sini bagaimana dengan hidup kita sendiri dan dampak dari kunjungan-kunjungan yang biasa kita lakukan dalam hubungan dengan sesama.

Adventus adalah kesempatan berbenah diri, membangun kembali rumah keke-rabatan yang rusak diterpah aneka badai, membaharui relasi kita yang rusak dengan sesama karena arogansi dan kesombongan kita yang mau menang sendiri. Hari ini kita memasuki minggu keempat masa adventus, ini berarti tinggal beberapa hari lagi, kita akan merayakan natal, kelahiran baru kita masing-masing sebagai manusia-manusia baru. Bagaimana dengan kehadiran kita di antara yang lain? Apakah relasi kita dengan mereka sudah jauh lebih baik ataukah masih seperti yang dulu. Sudahkah perubahan dalam diri kita menjadi jembatan yang dapat mempertemukan kita dengan sesama? Apakah posisi yang kita tempati sudah menjadi jembatakan yang dapat mempertemukan segala perbedaan, menutupi jurang-jurang yang memisahkan kita dengan kita ataukah sampai pada saat ini jurtang yang memisahkan kita dengan sesama masih mengagah lebar lantaran kita melihat posisi yang kita tempati sebagai peluang untuk meremehkan sesama, kesempatan untuk menutup mata terhadap kebaikan mereka? Kalau ini kenyataannya, mari kita belajar dari Maria. Dari dia kita dapat belajar memanfaatkan posisi kita seagai jembatan yang mampu menghubung-kan kita dengan sesama, kesempatan untuk mendekati tidak sedikit orang. Dia adalah orang yang punya kedudukan penting tetapi tidak lupa dari mana dia berasal. Keterpilihannya sebagai bunda Tuhan tidak menghalanginya untuk turun ke bawah mengunjungi orang-orang kecil. Dia berbeda dari kita karena begitu sering predikat kita bukannya semakin mendekatkan kita dengan sesama tetapi menjadi penyebab melebarnya jurang pemisah antara kita. Kita perlu belajar dari dia, karena kita hanya mampu mengetahui situasi hidup sesama yang sebenarnya bila kita bersedia untuk menyebrang, meninggalkan kemapanan diri. Banyak orang yang sedang terhukum karena vonis yang sudah kita jatuhkan tanpa mengetahui situasi hidup mereka yang sebenarnya. Keluar dari disi sendiri memungkinkan kita untuk bisa merasakan apa yang sedang dirasakan sesama. Dalam kesederhanaannya dia tampil sebagai sumber kegembiraan. Bukan ahnya Elisabeth tetapi anak yang ada dalam rahimnyapun ikut bergembira. Kehadiran yang sederhana tetapi punya daya magis yang luar bisa. Kita tidak sama dengan dia karena di mana kita hadir di sana kegembiraan sesama sirnah; isu tentang keburukan sesama jadi topik. Dia adalah contoh orang yang percaya bukan hanya dalam kata tetapi dalam hidup; dia berbeda dari kita karena kata dan hidup kita jauh berbeda. Dia adalah duta mereka yang tahu bersyukur bahwa hidup mereka adalah anugerah yang mesti disyukuri. Hal ini nampak dalam nyanyian pujiannya. Di sini kita tidak dapat menyamainya karena kita cenderung mangagungkan diri lalu lupa akan campur tangan Tuhan dan sesama.

Kita sudah membuat banyak kunjungan dan kita adalah orang-orang yang punya posisi dalam kebersamaan. Sudahkah kunjungan-kunjungan kita merubah, membaharui relasi kita dengan sesama. Adalah seperti Maria, posisi yang kita tempati kita jadikan peluang untuk bertemu dan mendekati sebanyak mungkin orang? Sudahkah kita menjadi sumber kegembiraan bagi orang lain? Mestinya semakin dekat dengan perayaan natal, relasi dan hidup kitapun semakin berubah menjadi jauh lebih baik. Hanya dengan cara ini kita dapat menjadi sumber kegembiraan bagi orang lain, hanya dengan jalan ini, kita dapat menjadi jembatan yang mampu mempertemukan segala perbedaan dan menutup aneka jurang yang memisahkan kita dengan kita. Anda tidak menjadi besar karena posisi yang anda tempati tetapi karena apa yang anda buat bagi orang lain darin posisi di mana anda berada.

[ back ]