Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 16-12-2009 | 22:53:17
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JADILAH ORANG YANG TULUS HATI
Mat 1:18-24, Jumat, 18 Desember 2009

Banyak kali terjadi kita kembali punya masalah yang sama walaupun sudah ada duduk bersama untuk menyelesaikannya entah itu secara hukum ataupun secara kekeluargaan. Hal ini karena kita tidak melibatkan hati kita saat kita duduk bersama. Bila kita punya hati yang tulus, jalan terbaik yang akan ditempuh dan penyelesaian soal tidak berlarut-larut. Jadilah orang yang tulus hati, kata-kata ini di satu sisi mengisyaratkan bahwa kita belum memiliki ketulusan hati dalam menghadapi ataupun menyelesaikan soal-soal dalam hidup kita. Tulus bisa berarti satu sikap pribadi di mana orang rela, bersedia, terbuka melakukan sesuatu yang positif bagi orang lain tanpa memperhitungkan untung rugi; rela berkorban demi kepentingan sesamanya tanpa memikirkan apa yang akan diperolehnya sebagai imbalan. Kita belum punya hati yang tulus karena apa yang kita lakukan selalu penuh dengan perhitungan. Kesediaan dan kerelaan kita masih ditunggangi maksud tersembunyi. Selain itu kita lebih suka mengorbankan sesama ketimbang mengorbankan diri sendiri. Di sisi lain, kata-kata ini merupakan cetusan harapan, kita punya potensi untuk punya hati yang tulus. Kalau banyak soal terjadi karena kita tidak tulus hati, soal-soal ini dapat kita hindari atau kurangi bila kita punya hati yang tulus, bila kita selalu mengikutsertakan hati saat kita hendak membuat sejarah.

Masa Adventus, masa di mana kita mendapat peluang untuk membersihkan ladang hati kita bukan mengoyakkan pakaian kita, meratakan relasi kita yang lekak lekuk, meluruskan kehidupan kita yang penuh aneka kelokan dan menjembatani jurang-jurang kecil yang memisahkan kita dengan kita. Karena disadari ataupun tidak , hari demi hari jurang-jurang ini semakin melebar dan kian sulit untuk dijembatani. Mengapa? Dari sekian banyak jawaban yang akan kita berikan boleh jadi satu di antaranya perlu diperhatikan secara serius; kita perlu mengusahakan adanya ketulusan dalam hati kita. Dalam banyak hal kita belum tulus, kita terlalu melihat ke dalam diri ketimbang memperhitungkan mereka berada di sekitar kita. Lalu apakah begitu sulit bagi kita untuk jadi orang yang tulus hati? Sebenarnya tidak karena anda dan saya, kita punya hati, kita juga masih punya perasaan yang bisa mendeteksi apa yang sedang dirasakan sesama, soal muncul karena kita belum punya kesediaan untuk menggunakan hati dan perasaan kita dalam membangun relasi dengan sesama. Dalam hal ini kita bisa belajar dari St. Yosef, si tulus hati, sikapnya dapat dijadikan cermin bagaimana menata hati dan hidup kita dalam hubungan dengan sesama. Yosef dikatakan sebagai orang yang tulus hati karena dia punya beberapa keistimewaan dalam relasinya dengan sesama yang diwakili oleh Maria tunangannya itu. Dia tulus hati karena dia bukan tipe orang yang suka membesar-besarkan soal; dengan tenang dia menyadari adanya soal, memikirkan jalan keluar terbaik dan apa konsekuensi dari tindakan yang akan diambil bukan hanya untuk dirinya tetapi terhadap orang lain. Yosef tulus hati karena dia tidak cepat mempersalahkan, mempermalukan dan menja-tuhkan vonis bagi sesamanya. Dalam situasi sulit sekalipun, dia masih memiliki keterbukaan dan kesedian untuk mendengarkan orang lain-ia bersedia mendengar bisikan malaekat dan menjalankannya tanpa banyak tanya. Di sini, boleh jadi keinginan kita untuk jadi orang-orang yang tulus hati mendapat hambatan; di satu sisi kita cenderung membesar-besarkan soal, gemar membuat isu tetapi di sisi lain kita juga begitu sering pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kita ada soal. Selain itu hal ini sulit bagi kita karena kita kadang bertindak tanpa memperhitungkan konsekuensi yang akan terjadi, cenderung ikut arus tetapi tidak tahu mengapa kita mengikuti arus. Lebih dari itu, terkadang kita menutup diri terhadap bisikan malaekat yang datang ke telinga kita melalui sesama. Hal ini makin parah ketika sikap lain di bibir lain di hati telah menjadi bagian dari hidup kita.

Banyak hari yang sudah kita lalui. Mungkinkah hidup dan hati kita sudah jauh lebih baik dari hari-hari kemarin?Apakah seperti Kristus yang sedang kita nantikan kedatanganrenungkan sengsaraNya, kita sudah memiliki kesediaan berkorban demi sesama? Mungkinkah hati kita sudah memiliki sedikit ketulusan untuk merubah wajah dunia ini mulai dari dunia diri kita? Bila belum, kita belum terlambat, kita dapat bercermin pada sikap hidup St. Yosef yang hari ini kita rayakan pestanya. Semoga dengan bercermin pada hidupnya kita dapat mejadi orang-orang yang tulus hati dalam keseharian kita.

[ back ]