Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 14-12-2009 | 21:33:32
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JAUHKAN SIKAP SI SULUNG
Mat 21:28-30, Selasa, 15 Desember 2008

Kata orang manusia itu unik, unus, satu-satunya; tidak ada orang yang sama dengan diri anda selain diri anda sendiri. Dari makhluk yang unik ini muncul berbagai cerita unik yang terkadang cenderung aneh dan sulit dimengerti. Kenyataan ini membenarkan apa yang juga dikatakan orang; manusia punya banyak wajah dan hidup memiliki aneka ceritera? Manusia, makhluk yang senantiasa berenang dalam lautan hidup tetapi tak pernah menjadi laut, yang berusaha mencintai tetapi tak pernah sempurna dalam mencinta, ada dalam kebersamaan tetapi tetap asing walaupun tak pernah berniat mengasingkan diri. Manusia, makhluk yang senantiasa menyebrang untuk menemukan kesejatian dirinya dalam kebersamaan, di mana masing-masing kita punya peran yang khas. Dalam kekhasan itu, kita disadarkan bahwa hidup adalah perjuangan mengalahkan kejahatan dan kesempatan untuk berbuat baik. Bergerak antara kebaikan dan kejahatan; kita punya peluang menjadi orang baik, kita juga punya potensi menjadi orang jahat. Dari apa yang kita hidupi dan apa yang kita lakukan orang dapat mengenal siapa kita sebenarnya. Kesempatan diberikan dan kebebasan untuk memilih ada di tangan kita, kitalah yang menentukan siapa kita sebenarnya dalam kebersamaan.

Hujan yang menggunyur bumi, membuat aneka perubahan di lingkungan di mana kita ada dan mengais hidup; padang yang gersang kembali bermantel hijau, sumber air yang hamper mongering kembali memberi harapan hidup. Dan disadari ataupun tidak hari-hari adventus tengah mendekati garis batas. Kalau hujan memberi warna lain dalam kehidupan kita, bagaimana dengan kehadiran masa adventus dalam diri dan hidup kita sebagai orang-orang beriman. Adventus, kesempatan untuk berbeda diri. Sudakah kita menjadi jauh lebih baik dari hari-hari kemarin? Pernahkah kita bertanya diri; siapakah kita dalam kebersamaan? Bila setiap not dalam tangga lagu punya nada sendiri, setiap kita punya peran yang khas dalam sebuah simphony kebersamaan. Kalau tiap not menentukan enak tidaknya lagu maka kita menentukan warna dari satu kebersamaan. Baik buruknya kebersamaan itu ada di tangan kita. Kehadiran kita mempengaruhi kebersamaan, dan sebaliknya kebersamaan mempengaruhi warna kehadiran kita. Di sini nilai dan arti kehadiran kita diukur bukan berdasarkan predikat dan posisi yang kita tempati tetapi bergantung dari hidup dan apa yang kita lakukan dalam dan untuk sebuah kebersamaan. Untuk itu kita dihadapkan pada dua tokoh injil hari ini; si sulung dan si bungsu dengan dua sikap yang bertolak belakang. Dan dari kisah ini kita dapat menemukan siapa kita sebenarnya dalam kebersamaan. Pertama; kita bisa menjadi si bungsu bila kita mau bersikap terbuka dan hidup apa adanya, berusaha membiarkan hati ikut bicara saat hendak membuat sejarah; dia menolak perintah ayahnya tetapi kemudian menyesal dan berusaha menjawabi apa yang diminta oleh ayahnya. Sikap ini membantu kita menjauhkan diri dari mental ABS, mental si sulung; mental kaum Farisi dan para ahli Taurat; bicara banyak tanpa pelaksanaan, sikap lain di bibir, lain di hati; di muka lain di belakang lain. Kedua, kita bisa menjadi si bungsu bila kita berusaha belajar membiarkan apa yang kita lakukan berceritera tentang siapa kita. Di sini keberartian kita tidak ditentukan oleh apa yang kita katakan tetapi bergantung dari hidup dan apa yang kita lakukan. Hidup dan karya kita dapat dijadikan cermin bagi sesama untuk menata hidupnya. Ketiga, kita bisa jadi seperti si bungsu bila kita belajar menyadari bahwa kelebihan kita harus digunakan untuk menolong sesama, dan kekurangan kita mesti mendorong kita untuk belajar dari mereka bagaimana menjadi jauh lebih baik. Hidup kita mesti mengisyaratkan undangan terhadap sesama untuk kembali ke jalan yang benar. Keempat, kita bisa menjadi seperti si bungsu bila di mana kita hadir di sana ada hidup dan pada kitalah sesama menggantung harapannya. Pada hidup dan kehadiran kita, sesama mesti menemukan jalan pulang kepada kebenaran. Jangan pernah menganggap diri benar karena di saat kita membenarkan diri, di saat yang sama kita justeru mengumumkan siapa sebenarnya kita.

Sikap si sulung bukan impian kita, mental ABS tidak kita sukai tetapi begitu sering kita menghidupi sikap si sulung, membiarkan diri dipengaruhi mental ABS. Kita tidak bersedia belajar dari sesama bagaimana mengartikan hidup dan kehadiran kita dalam kebersamaan. Tutur kata, tingkah laku dan hidup kita belum menampakan kekhasan kita sebagai orang-orang beriman. Seperti kaum Farisi, kita selalu menganggap diri sebagai orang-orang benar lalu meremehkan sesama, menghalang mereka yang ingin kembali ke jalan yang benar. Siapapun kita dalam kebersamaan, kita dipanggil untuk bercermin dan menata hidup dan kehadiran kita di hadapan cermin kehadiran Yesus. Bila hidupYesus telah menjadi hidup kita, ceritera hidup ini pasti lain dan masa adventus akan sangat bermakna.

“Biarkan hati anda ikut bicara saat anda hendak membuat sejarah”
[ back ]