Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 13-12-2009 | 23:45:26
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “SESAMAMU BUKAN SAINGAN”
Mat 21:23-27, Senin, 14 Desember 2009

Disadari ataupun tidak, hidup ini ibarat satu perlombaan; kita saling berlomba, kita berlomba dengan waktu. Dan pernahkah anda berpartisipasi dalam satu perlombaan; entah itu lomba ketangkasan ataupun lomba daya nalar? Terlepas dari jawaban anda; masuk dalam perlombaan itu secara sadar berarti kita memahami bahwa di sana ketrampilan dan intelektualitas kita diuji. Dan untuk itu, kita mesti mempersiapkan diri agar bisa bersaing ataupun bisa mengungguli peserta lain secara wajar dan jujur, tidak dengan menghalalkan segala cara karena ada aturan main yang mesti dipenuhi. Di sana kesejatian diri kita sebagai peserta diberi kredit. Sampai di sini kita sadar bahwa kita sedang berlomba, berpacu dengan waktu, mengejar apa yang kita impikan. Hanya sayang, perlombaan ini meninggalkan dua hal yang mesti dicatat; pertama walaupun ada aturan main yang mesti kita patuhi/penuhi, seperti biasa perlombaan ini masih terbuka atau masih memungkinkan orang menghalalkan segala cara; mengkhianati aturan yang berlaku karena di hadapan aktivitas yang satu ini, motivasi keikutsertaan kita dipertaruhkan. Kedua, karena keinginan yang kuat untuk memenangkan perlombaan itu dan motivasi yang melatarbelakangi keiku-sertaan kita; orang bisa saja melihat peserta yang lain sebagai saingan, musuh yang harus ditaklukkan dengan cara apapun lalu lupa bahwa dari mereka dia bisa belajar bagaimana mewujudkan impiannya sendiri sambil tidak mengkhianati aturan yang berlaku. Lalu dalam keseharian kita, cara mana yang sedang anda gunakan untuk meraihkan impian anda?

Masa adventus sedang kita tapaki, kesempatan untuk untuk berbenah diri, membaharui pola pandang kita terhadap sesama. Dan berhadapan dengan kekuasaan, kita punya banyak cerita tentang orang-orang yang berkuasa; keunggulan dan kele-mahannya dan bagaimana perjalanan mereka sampai ke sana. Ada yang berkuasa karena diberi mandat; mereka mampu memenuhi tuntutan yang diminta. Ada yang berkuasa karena mereka berhasil merebutnya sehingga yang dianggap sebagai saingan mesti dikikis habis/disingkirkan. Ada pula yang meraihnya dengan menitinya mulai dari tangga yang paling bawah; melalui proses perjuangan yang panjang; sesama dilihat sebagai rekan yang punya sumbangan khusus untuk itu. Apapun ceritanya, kekuasaan tidak luput dari isu persaingan; ada yang bersaing secara wajar dan apa pula yang bersaing dengan menggunakan segala cara, orang lain dilihat sebagai musuh yang harus ditaklukan dengan cara apapun. Kuasa bisa digunakan untuk mengatur, bisa juga dilihat sebagai kesempatan untuk menindas yang lain. Kisah ini pun sudah terjadi di jaman Yesus; kehadiranNya, oleh pemuka Yahudi dianggap sebagai penyebab runtuhnya pengaruh mereka terhadap masyarakat Yahudi. Dia adalah saingan yang mesti disingkirkan. Untuk itu kuasaNya dipertanyakan. Jawaban Yesus menempatkan mereka pada posisi dilematis. Dari kisah ini hendak ditegaskan Yesus bahwa pertanyaan mereka mestinya ditujukan kepada diri mereka sendiri; mengapa pengaruh Yesus lebih besar dari pada pengaruh mereka? Mengapa sampai jadi de-mikian? Mestinya di hadapan Yesus mereka bercermin dan melihat di mana keung-gulan dan kelemahan mereka, apa yang perlu mereka tata supaya pengaruh mereka bisa menyamai pengaruh Yesus. Mereka mestinya rendah hati untuk belajar dari keunggulan orang lain. Selain itu kisah ini hendak mengingatkan kita untuk bersikap awas terhadap ketidaksukaan kita; karena bila kita sudah tidak suka dengan orang lain; kita selalu punya alasan atau berusaha mencari-cari alasan untuk dapat menolak sesama. Kisah inipun menjadi kisah kita, kita lebih suka melihat sesama sebagai saingan yang harus disingkirkan ketimbang dengan rendah hati mengakui kekurangan kita dan belajar dari mereka bagaimana mengatasi kekurangan ini. Adventus meru-pakan kesempatan bagi kita untuk melihat sudah sejauh mana kita menggunakan kekuatan, kekuasaan yang kita miliki; apakah hal ini kita manfaatkan untuk merubah ceritera hidup ini menjadi jauh lebih baik atau sebaliknya.

Kita diciptakan dengan talenta yang aneka. Keanekaan ini mestinya memungkinkan kita untuk rendah hati dan siap belajar dari keunggulan sesama. Kita diciptakan menjadi sahabat bagi lain dan dipanggil untuk menjadikan hidup ini guratan pelangi dengan aneka warna yang mempesona? Kita yang dilahirkan bukan untuk menjadi musuh bagi yang lain, mengapa kita mesti melihat sesama sebagai musuh, saingan yang mesti disingkirkan? Siapakah anda di hadapan sesamamu? Orang-orang yang punya ambisi besar untuk berkuasa tetapi tidak mau belajar dari sesama ataukah orang-orang yang mau berkuasa dengan siap belajar dari keunggulan sesama? Pengaruh tidak lahir dari kekerasan dan tipu daya, pengaruh adalah hidup dan tutur katamu yang mem-bangun jaringan tak kelihatan dengan dan dalam diri sesamamu.

“Jangan lihat sesama anda sebagai saingan, lihatlah mereka sebagai partner menaklukkan dunia ini, membuat hidup ini menjadi jauh lebih baik”
[ back ]