Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 12-12-2009 | 01:16:06
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : APA YANG HARUS KITA LAKUKAN
Lukas 3:10-18; Minggu, 13 Desember 2009

Disadari ataupun tidak, dunia tempat kita ada dan mengais hidup sedang sakit. Kenyataan ini dibeberkan oleh Cedric Rebello dalam bukunya ‘The Other Eucharist’. Ia menulis; sakitnya dunia ini sebagai akibat; perbedaan yang ada telah menciptakan jurang yang memisahkan kita dengan kita; persaudaraan lebih banyak jadi bahan ceramah dari pada dihidupi; gereja telah dijadikan tempat parade mode; banyak orang berbicara tentang orang miskin tetapi tidak peduli dengan nasib orang-orang miskin; keadaan mereka justeru dimanipulasi demi keuntungan diri; cinta kasih telah dicekik oleh persaingan, didangkalkan oleh kemudahan fasilitas, dibekukan oleh huruf-huruf mati, dibabat habis-habisan oleh media massa dan diperdagangkan sebagai komoditi. Lalu dalam situasi seperti ini; masih adakah orang-orang kristen di sana? Kalau ‘ya’ apa yang sedang mereka lakukan; menyembuhkan situasi ini ataukah memperparah keadaan? Mestinya dalam situasi seperti ini kesejatian kekristenan kita ditampakan; tidak sekedar teori tetapi lebih sebagai praktek hidup; tidak cukup dengan rasa prihatin tetapi harus ada tindakan nyata. Kitalah yang mesti menyembuhkan situasi ini bila kita menghendaki ceritera hidup ini berubah. Peluang selalu ada, yang menjadi soal adalah apakah kita bersedia mengartikannya atau tidak.

Waktu terus bergulir, hari-hari terus bertukar. Tidak terasa, hari ini kita memasuki minggu ketiga masa adventus. Kita bergembira karena natal yang kita nantikan semakin mendekati garis batas. Tetapi apakah ceritera hidup kita perlahan-lahan telah menemukan bentuk lain? Adakah relasi kita dengan sesama semakin baik? Yang mesti membuat kita gembira bukan semakin dekatnya pera-yaan natal tetapi apa yang kita buat untuk merubah kisah hidup ini, menyambut datangnya natal. Karena berarti tidaknya natal tidak ditentukan oleh lamanya kita menanti tetapi oleh apa yang kita buat selagi kita menanti. Bila kita tidak hanya menanti tetapi juga melakukan sesuatu untuk mengisi ruang kosong penantian ini, perlahan tapi pasti hidup dan relasi kita dengan dunia dan sesama telah mulai berubah. Adventus, masa di mana kita diberi kesempatan untuk membaharui diri, merubah kisah hidup ini menjadi jauh lebih baik, membuat kehadiran kita berarti bagi kebersamaan. Perubahan hanya mungkin bila kita mau berjuang, mengalahkan diri dan punya semangat berkorban. Ingat, musuh terbesar dalam hidup ini adalah diri kita sendiri; dia bisa membantu kita mewujudkan mimpi kita bisa juga merintangi kita mengubah kisah hidup ini. Lukas berkisah bahwa ketika mendengar pewartaan Yohanes Pembaptis; orang-orang Yahudi bertanya; ‘apa yang mesti kami lakukan?’ Menjawab pertanyaan ini, Yohanes mengatakan bahwa hidup baru hanya mungkin; kisah hidup ini akan berubah; bila kita punya kesediaan untuk ikut merasakan apa yang sedang dirasakan sesama; ada rasa senasib, ada kesediaan untuk berbagi sehingga yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan ydan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Buatlah sesuatu, jangan berhenti pada rasa prihatin belaka karena keprihatinan tidak cukup untuk membuat perubahan. Hiduplah apa adanya tanpa mengada-ada, karena hidup mengada-ada telah menjerumuskan banyak orang untuk bertindak tidak adil terhadap sesamanya, jangan mengambil lebih dari apa yang sudah ditentukan untukmu, jangan memanipulasi kenyataan demi keuntungan diri; sikap inilah yang telah melahirkan penyakit KKN yang sulit diberantas. Berlakulah adil terhadap sesama karena banyak orang telah menjadi korban ketidakadilan dan kerakusan; jangan merampas dan jangan memeras, cukupkan dirimu dengan apa yang menjadi hakmu. Jadilah jalan pulang bagi mereka yang disesatkan oleh ketidakbenaran. Menariknya, pertanyaan orang-orang Yahudi tanpa disadari, mengungkapkan kecenderungan kita manusia; kalao kamu sudah tidak dapat merasakan apa yang dirasakan sesama, kamu akan mudah memanipulasi kenyataan dan ini memungkinkan kamu untuk merampas apa yang bukan hak kamu. Dalam situasi seperti ini mestinya kita merasa terpanggil untuk menjadi penghantar sesama kepada Yesus. Seperti Yohanes, mestinya melalui diri kita sesama dibawa untuk mengenal siapa Yesus itu. Inilah jalan merubah kisah hidup ini, inilah cara meng-artikan saat-saat berahmat ini. Bila semuanya ini kita jalani, hidup baru bukan mustahil dapat tercipta.

Kerajaan Allah, hidup baru adalah undangan keselamatan yang ditawarkan kepada semua kita. Kitalah yang menentukan berarti tidaknya tawaran ini. Kita bebas menerima ataupun menolaknya. Menerimanya berarti bersedia memenuhi segala tuntutannya, menolaknya berarti dengan tahu dan mau kehilangan kesempatan yang ditawarkan. Kelahiran baru tidak ditentukan oleh lamanya kita menanti tetapi oleh apa yang kita buat selagi kita menanti. Apa yang kita lakukan, yang kita hidupi, itulah yang menentukan diartikan tidaknya saat-saat berahmat ini. Kisah hidup ini akan berubah bila kita berjuang mengalahkan diri sendiri, menumbuhkan semangat berbagi dan hidup apa adanya tanpa mengada-ada. Inilah caranya membiarkan iman kita mempengaruhi hidup dan hidup kita menjadi duta iman kita. Karena itu taklukanlah diri anda dan jangan biarkan saat-saat berahmat ini berlalu tanpa diartikan.

“Bila anda tidak puas dengan hidup anda, keinginan dalam diri anda akan menjadi seperti lautan yang tidak pernah akan penuh walau seribu satu anak sungai mengalir ke dalamnya”.
[ back ]