Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-11-2009 | 23:52:38
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN TAKUT MEMBERI’
Luk 21:1-4, Senin, 23 Nopember 2009

Kita selalu ada dalam kebersamaan dan itu berarti memberi dan menerima sudah biasa kita saksikan dalam keseharian kita entah apa alasan yang melatarbelakangi aksi ini. Tetapi bila dikatakan ‘Jangan takut memberi’, pernyataan ini sudah tentu mengisyaratkan sesuatu; kita enggan untuk melakukan hal ini dengan berbagai alasan. Walaupun hal ini biasa dalam kebersamaan tetapi tiak semua kita punya kesediaan untuk memberi dan sebaliknya tidak banyak dari kita yang membuka pinta hatinya untuk menerima. Ada yang menerima tanpa perhitungan tetapi memberi dengan penuh perhitungan. Pernyataan ini, di satu sisi kelemahan kita diangkat, di sisi lain kita didorong untuk melakukan apa yang mesti kita lakukan; memberi dan menerima adalah bagian dari perbuatan baik. Berhadapan dengan kenyataan ini mesti-nya kita teringat akan apa yang pernah dikatakan Yesus, “Kamu sudah menerima dengan cuma-cuma maka berilah juga dengan cuma-cuma”. Dengan memberi, berbagi; yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan, yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Kalau hal memberi dan menerima adalah bagian dari perbuatan baik maka jangan takut berbuat baik karena kebaikan bukan sepotong roti yang habis bila dibagi, kebaikan itu sesuatu yang sangat spiritual yang tidak akan pernah habis. Bahkan sebakin kita bersedia untuk melakukannya ia akan berubah menjadi mata air yang tak pernah mengering.

Kita selalu hidup bersama. Kebersamaan menuntut kepekaan kita untuk membaca situasi hidup sesama dan kesiapan kita untuk menjawab sedapat mungkin apa yang mereka butuhkan. Jalan ini adalah jalan untuk melestarikan kehidupan bersama sekaligus memberi arti bagi kehadiran kita di antara yang lain. Untuk itu kita diingatkan agar tidak takut dalam memberi, berbagi, berbuat baik karena apapun tindakan yang kita ambil semuanya selalu punya konsekuensi. Lukas menandaskan bahwa pertama, kita siap memberi, berbagi, berbuat baik tanpa takut bila ketika berhadapan dengan kenyataan kita tidak mempersoalkan berapa banyak yang kita miliki tetapi mempertanyakan apakah kita punya kesediaan untuk memberi atau tidak. Banyak kali kita tidak membantu orang lain bukan karena yang mereka butuhkan tidak ada pada kita tetapi karena kita tidak punya kesediaan, tidak rela untuk berbagi. Yang kita persoalkan adalah kepentingan diri kita bukan kebutuhan sesama. Ini berarti kita juga harus bersedia menyebrang; keluar dari diri kita sendiri. Hanya dengan keluar dari diri sendiri, meninggalkan kemapanan diri kita dapat menjumpai sesama dalam situasinya yang sebenarnya. Boleh jadi kita punya keprihatinan tetapi kita tidak mengambil langkah lebih lanjut karena kita masih menghitung untung rugi yang akan kita peroleh. Kita sulit berbuat baik ataupun takut memberi karena kita tidak siap menyebrang, kita hanya memperhatikan kebutuhan diri lalu lupa keadaan sesama di sekitar kita. Kedua, kita hanya dapat berbuat baik, punya kesediaan untuk memberi kita siap bercermin diri pada si janda miskin. Dia memberi dengan seluruh hati dan memberi seluruh hidupnya tanpa banyak perhitungan. Ia tahu bahwa kebaikan yang diberi dengan hati selalu bernilai lebih seperti mata air yang tak pernah kering walaupun seribu tangan menimbahnya. Di sini kebaikan punya nilai pengorbanan. Kebaikan kita hanya akan mendatangkan kebaikan bagi diri dan sesama bila kita punya semangat berkorban. Dia tahu bahwa dengan memberi apa yang ada padanya dia tidak punya apa-apa lagi tetapi dia juga yakin bahwa perbuatannya itu membuat dia punya tempat khusus di mata Yesus. Di sini kita perlu berhati-hati, jangan pernah melakukan sesuatu supaya anda dikatakan baik, lakukanlah kebaikan supaya orang yang menerima kebaikan anda menjadi baik dan bisa juga berbuat hal yang sama kepada orang lain, sesamanya.

Dunia tempat kita mengais hidup sangat membutuhkan kesediaan kita untuk berbagi tetapi ini hanya mungkin bila kita punya kerelaan untuk berkorban. Tidak ada kerelaan untuk berkorban kita hanya akan berhenti pada rasa prihatin semata dan soal hidup ini akantetap menjadi soal. Kalau selama ini kita sepertinya tidak jauh berbeda dari mereka yang lebih banyak mempersoalkan berapa banyak yang mereka miliki lalu lupa melihat apa mereka punya kesediaan untuk berbagi, kerelaan untuk memberi, sudah saatnya kita menjadi lain dari mereka; kita punya hati yang selalu mau merasakan apa yang sedang dirasakan sesama. Bila selama kita bersedia berbagi dengan penuh perhitungan, sudah saatnya kita menghidupi spiritualitas janda miskin; memberi dengan seluruh hati tanpa mengada-ada. Bila selama ini kita lebih suka pamer, sudah saatnya kita merubah motivasi kita, menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kekristenan kita; bekerja dengan cinta yang mengabdi, berlaku dengan penuh penghargaan dan berkata dengan penuh hormat demi kebaikan kita, kebahagiaan sesama dan kemuliaan Tuhan..... Hanya ada satu jalan untuk semuanya ini, bersediakah anda untuk berkorban

“Jangan takut untuk berbagai takutlah bila kesempatan untuk itu anda lewatkan tanpa berbuat sesuatu”
[ back ]