Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 18-11-2009 | 20:28:48
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BIARKAN YESUS JADI RAJAMU
(Yoh 18:33-37, Minggu, 22 Nopember 2009)

Ketika mempersiapkan renungan berhubungan dengan pesta hari ini, saya teringat akan kata-kata Chairil Anwar, ‘Sekali hidup mesti berarti dan sesudah itu mati’. Sepintas membaca atau mendengar kata-kata ini, ungkapan ini tidak jauh berbeda dari satu deretan permainan kata-kata tanpa banyak makna. Tetapi bila kita merenungkan barang sejenak; ungkapan ini bukan sekedar permainan kata-kata. Si penulis hendak mengingatkan kita akan ada kita yang terbatas; hidup kita dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga mesti dilihat sebagai satu kesempatan yang sangat berharga. Dia akan sungguh bernilai bila kita mau mengartikan. Kita hidup hanya sekali, akan datang saatnya kesempatan emas ini berlalu. Dan hidup ini bergerak di antara dua titik batas; ada lalu tiada, di antara kedua titik ini manusia mesti berbuat sesuatu agar lewat apa yang kita buat itu orang dapat melihat bahwa kita pernah ada. Hanya orang-orang yang memberi arti bagi hidup inilah yang akan diartikan sehingga setiap detik mesti diartikan dan setiap peluang harus dilihat sebagai saat-saat berahmat, saat-saat keselamatan.

Hari ini, kita merayakan pesta Kristus raja semesta alam. Hari ini, kita diundang untuk menilai seluruh perjalanan hidup kita di hadapan cermin Kristus sang raja. Apakah keseharian kita mampu membawa kita kepada realitas baru sesudah kalender liturgi ini berakhir ataupun sesudah hidup yang singkat ini sampai ke titik batas? Dalam setahun perjalanan liturgi ini, setiap kita dibantu, dipandu untuk menjadikan hidup dan misi Yesus, hidup dan misi kita. Bertukarnya lembar demi lembar kalender ini mestinya ikut menjadi tanda perubahan ceritera hidup kita hari demi hari, dari yang tidak baik menjadi baik dan dari yang baik menjadi lebh baik, dari ruang kosong ketiadaan Krisstus menjadi ruang yang terisi oleh kehadiran Kristus sehingga saat ini bukanlagi kita yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam diri kita. Bila ini terjadi, di mana kita hadir di sana mukizat-mukjizat yang disaksikan kaum Yahudi dua ribu tahun silam dapat kembali disaksikan orang-orang jaman kita sekarang dan di sini lewat kehadiran kita. Hari ini ini, kita merayakan pesta Kristus raja, apakah Kristus yang sama telah merajai seluruh hati dan hidup kita? Ataukah perayaan ini hanyalah satu ritual biasa karena tercantum pada kalender liturgi tetapi pengaruh kehadiran Yesus tidak terasa dalam keseharian kita? Perayaan ini berarti bila Kristus memang telah menjadi raja atas seluruh hidup kita. Karena itu kepada Pilatus, Dia mengatakan bahwa kerajaanNya bukan dari dunia ini. Dia adalah raja kerajaan hati kita; kerajaan kasih yang mempersatukan, yang melihat perbedaan sebagai warna-warni yang menciptakan keindahan guratan pelangi sebuah kebersamaan. Dia adalah raja kerajaan para hamba yang melihat posisi yang mereka tempati sebagai peluang untuk melayani sebanyak mungkin orang. Dia adalah raja kerajaaan kebahagiaan yang hadirNya selalu menjadi sumber kegembiraan bagi orang lain; yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, yang buta melihat, yang mati dibangkitkan dan yang kerasukan setan dibersihkan. Dia adalah raja kerajaan kebenaran; raja atas orang-orang yang mencintai kebenaran dan menjauhi kepalsuan, raja orang-orang yang mencari yang lebih benar dari yang sudah benar, yang lebih adil dari yang sudah adil. Dia adalah raja kerajaan damai; raja atas orang-orang yang mencintai hidup damai dan saling pengertian, raja ata orang-orang yang selalu berusaha menghindari hal-hal yang merusak kedamaian. Sampai di sini sudahkah raja model ini menjadi raja atas hati dan hidup kita? Keberadaan Yesus sebagai raja punya arti bila Dia sungguh menjadi raja bagi hati dan hidup kita.

Yesus adalah raja, pengakuan ini bernilai bila kehadiran dan sabdaNya telah dijadikan cermin untuk menata hidup kita, pedoman bagimana membangun relasi kita dengan dunia. Dia sungguh raja bukan karena kita memiliki uraian teologis filosofis untuk mejelaskan predikat ini tetapi karena hidup dan misiNya telah menjadi hidup dan misi kita; bukan lagi kita yang hidup melainkan Dialah yang hidup dan mengendalikan seluruh ada kita. Bila sampai saat ini, Yesus belum sungguh menjadi raja kita, hari ini komitmen kita untuk menjadikan misi dan hidupNya misi dan hidup kita mesti dibaharui sehingga dengan bertukarnya kalender liturgi tahun ini, pola hidup kitapun turut diberi wajah baru, wajah yang siap membiarkan Kristus menguasai seluruh kerajaan diri kita sehingga sekali hidup, kita berarti dan sesudah itu yang merasakan berartinya kehadiran kita dapat mengartikan hidupnya sendiri.

“Kalau Yesus telah meraja di hati anda, ceritera hidup ini pasti lain”
[ back ]