Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 18-11-2009 | 20:25:20
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : RAPIHKAN HATIMU
(Lukas 19:45-48, Jumat, 20 Nopember 2009)

Bagi seorang pencinta keindahan; segala sesuatu mesti ditata rapih dan tiap benda yang ditempatkan dalam ruang mesti punya daya tarik, harus menimbulkan kesan tersendiri bagi yang memandangnya. Baginya, kerapihan dan tata ruang yang menarik dapat memberi ataupun melahirkan ide-ide baru berhubungan dengan keindahan dan hidup dan dapat mempengaruhi hidup manusia dan relasinya dengan yang lain. Menurut Feng Sui (satu pandangan Cina); tata ruang dan tempat benda-benda dalam ruang punya pengaruh bagi penghuninya. Kesalahan dalam menata ruang dan menempatkan benda-benda dalam ruang dapat berakibat fatal bagi pemiliknya. Hidup kitapun bergantung dari rapih tidaknya ruang hati kita. Ruang hati yang teratur dan tertata rapih punya dampak bagi penampilan lahiriah kita karena yang kita tampilkan selalu muncul dari kedalaman dan kejernihan hati kita, sederhana tanpa basa-basi, bebas prasangka. Sebaliknya, hati yang sarat dengan aneka keinginan membuat orang dapat kehilangan fokus dan orientasi hidup. Ia dibingungkan oleh keinginan-keinginannya sendiri yang tidak bisa dipenuhi dalam satu kesatuan waktu. Akibatnya relasinya dengan yang lainpun turut dipengaruhi. Hatinya ibarat sebuah ruang dengan tumpukan aneka barang tanpa klasifikasi yang jelas.

Hari ini kita kembali mendengar Yesus beraksi membersihkan Bait Allah; bukan dari renda-renda rajutan laba-laba ataupun dari debu yang dibawa angin musim menutupi bangku-bangku Bait Allah tetapi dari penyalahgunaan tempat doa ini. Orang-orang Yahudi telah menyalahfungsikan bangunan doa sebagai tempat untuk berdagang. Mestinya saat mendengar kisah ini, kita diingatkan untuk melihat kembali sudah sejauh mana rumah-rumah doa kita difungsikan secara baik untuk membangun relasi kita dengan Tuhan, diri sendiri, sesama dan alam; masihkah tempat-tempat doa kita difungsikan sesuai dengan maksud tempat-tempat itu dibangun. Di saat yang sama, kita diundang untuk melihat ke dalam diri dan menyadari bahwa diri kita sendiri merupakan satu rumah doa; dari mana doa-doa kita berasal dan ke mana doa-doa kita bermuara. Diri, hati kitalah yang menentukan segalanya. Hati yang baik melahirkan pribadi yang baik dan pribadi yang baik selalu memberi yang baik demi kebaikan diri dan sesama. Dan kebaikan ini akan menempatkan rumah doa pada tempat dan fungsinya yang sebenarnya dan kita akan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dalam dan untuk sebuah kebersaman. Diulangnya kisah ini, di saat menjelang akhir tahun liturgi ini, mestinya mendorong kita untuk melihat kembali sudah sejauh mana kehadiran rumah-rumah doa kita, hati kita berperan merubah ceritera hidup ini ke arah yang lebih baik. ‘Apakah kita juga butuh kehadiran Yesus untuk membersihkan dan mengembalikan fungsi rumah-rumah ibadat kita, peran hati kita dalam hidup?’ Seandainya Dia hadir di jaman kita saat ini, mungkin juga tindakan yang sama akan Dia lakukan. Disadari atau tidak rumah-rumah doa kita telah berubah menjadi ruang pameran, tempat dipertajamnya perbedaan dan kesempatan menunjukkan bahwa kita memang berbeda dari sesama yang berada di samping kita. Hati kita yang mestinya dipenuhi rasa cinta yang mempersatukan telah berubah menjadi ladang tumbuh rasa-rasa yang lain yang mencerai-beraikan. Inilah yang membuat agama kita kehilangan daya tarik, hidup keagamaan kita dipertanyakan dan kehadiran kita kehilangan pesona. Untuk mengembalikan semuanya pada tempat dan fungsinya yang sebenarnya, hanya satu jalan yang mesti kita lakukan; bersihkan dan baharui ruang hati kita. Bila hati telah kembali menjadi tempat kasih bersemi dan rumah doa telah kembali menjadi rumah di mana segala perbedaan dipersatukan, hidup ini akan lebih mudah dijalani dan banyak soal dalam hidup ini dapat kita hindari.

Allah menciptakan semuanya baik adanya dan Ia menghendaki semua orang yang percaya beroleh selamat dan menjadi orang-orang baik. Hidup yang tidak ber-sahabat ini telah merubah segalanya, rumah doa jadi ajang pamer dan hati jadi ladang tumbuh rasa yang merusak. Semuanya ini menjauhkan kita dari apa yang kita impikan. Hari ini, kita disadarkan akan kenyataan ini dan kita diundang untuk mengembalikan segalanya pada fungsinya yang sebenarnya. Kitapun mesti merasa terpanggil untuk merubah kisah hidup ini. Diri kita mesti menjadi sarana perpanjangan kasih Allah bukannya penjara rahmat Allah. Kita masih punya waktu untuk berbenah diri, hanya apakah kita bersedia untuk itu?

“Hati adalah segalanya, biarkan hati anda menjadi ruang tempat kasih dan kebaikan bertumbuh”
[ back ]