Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 18-11-2009 | 20:19:45
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : SEANDAINYA KAUTAHU
(Lukas 19:41-44, Kamis, 19 Nopember 2009)

‘Seandainya kau hadir di sini, ceriteranya pasti lain, seandainya semua orang bisa memahami apa yang anda katakan, pasti tidak akan ada soal’. Kata-kata pengandaian ini sudah biasa kita gunakan dalam keseharian kita untuk menjelaskan sesuatu. Dengan mengangkat hal-hal yang dikenal pendengar ataupun pembaca, kita berusaha agar mereka memahami apa yang kita maksudkan. Di sini, pengandaian dilihat sebagai usaha menyederhanakan soal, menyesuaikannya dengan daya tangkap lawan bicara kita. Pengandaian juga merupakan pengungkapan apa yang kita angankan, kita coba menghadirkan diri pada satu realitas lain di luar kenyataan yang sedang kita hadapi, satu percikan kerinduan yang diharapkan terjadi tetapi tidak terjadi. Pengandaian juga bisa berwajah penyesalan, bisa juga sebagai hiburan untuk mengurangi beban yang ditanggung, membuat orang lebih mudah memahami apa yang terjadi. Tetapi perlu diingat bahwa hidup ini bukan sebuah pengandaian, hidup ini mesti dihadapi dengan sikap tertentu di mana di sana kesejatian kita ditampilkan.

Kita sedang berada di penghujung kalender liturgi tahun ini, saat-saat di mana kita mesti mengevaluasi segala yang telah kita lakukan dan apa saja yang belum kita buat untuk merubah ceritera hidup ini berdasarkan iman kepercayaan kita. Boleh jadi kita akan menemukan banyak hal yang menggembirakan; apa yang kita impikan perlahan-lahan mulai berwujud. Mungkin juga kita akan menemukan kenyataan bahwa hidup kita perlu kembali dikristenkan, kita butuh pembaptisan ulang karena sepanjang tahun liturgi yang sedang menjelang titik akhir ini, tidak ada perubahan berarti dalam hidup dan relasi kita dengan dunia. Mestinya semakin mendekati titik batas, hidup kita semakin menyerupai injil-injil yang hidup di mana lewat kehadiran kita sesama bisa merasakan kehadiran Yesus yang menyelamatkan, kehadiran kita menjadi sumber kegembiraan bagi orang lain. Di mana kita hadir, seperti Yesus, di sana dapat terjadi mukjizat-mukjizat kecil dalam hidup kita ataupun hidup sesama. Mesti kita tahu bahwa kalender liturgi bermanfaat membantu kita untuk hidup lebih kristen, hidup kita menjadi tempat tumbuh yang subur nilai-nilai kekristenan. Sudah demikian? Ataukah bila saat ini Yesus hadir dalam keseharian kita, tangisanNya akan kembali terdengar seperti Ia menangisi nasib Yerusalem karena hidup kita masih ataupun semakin menjauh dari kekristenan yang kita yakini. Di sini, pengandaian itu bermakna; seandainya kamu hidup sesuai dengan sabdaKu pasti Aku tidak harus menangisi keadaanmu dan hidupmu tidak akan dipenuhi dengan aneka soal yang datangnya seperti berjadwal. Satu ungkapan penyesalan yang terlambat datangnya. Bila sepanjang tahun liturgi ini, pesan-pesan Yesus yang kita dengar telah berubah menjadi hidup kita pasti Dia akan hadir dengan penuh senyuman. Tetapi kenyataannya kita telah terlanjur mengabaikan saat-saat berahmat yang mestinya kita artikan agar hidup dan kehadiran kita dalam kebersamaan bernilai bagi sesama. Inilah jawaban mengapa beban hidup ini semakin tak terpikulkan. Hidup kita seperti nasib kota Yerusalem yang dikepung oleh aneka masalah dari segala penjuru. Kita kehilangan orientasi hidup; kesejatian kekristenan kita dipertanyakan. Walaupun demikian tangisan Yesus membersitkan satu harapan bahwa semua hal ini bisa kita hindari bila kita mau membiarkan sabdaNya menjiwai seluruh hidup dan relasi kita dengan dunia; Dia diikutsertakan saat kita hendak membuat sejarah. Hanya dengan cara ini, kehancuran dapat dihindari dan hidup baru yang berpesan dapat mengisi ruang hati dan hidup kita.

Hidup ini merupakan kesempatan yang mesti diartikan, peluang membuat mimpi kita menjadi kenyataan; saat-saat berahmat yang mendatangkan berkat bila kita mau mengartikannya. Anda dan saya, kitalah orang-orang yang dipercaya untuk mengolah dunia ini, mengubahnya menjadi ladang kebahagiaan. Karena itu kita perlu bertanya diri, apakah hidup kita sudah berpesan, menampilkan apa yang disabdakan Yesus. Hidup kita tidak mesti berakhir dengan kehancuran, kita masih diberi peluang untuk membaharui diri, membiarkan iman kita menjiwai seluruh hidup kita dan hidup kita menjadi cermin apa yang kita imani. Dengan cara ini, kita akan membuat Yesus tersenyum dan banyak mukjizat kecil bisa dinikmati dalam keseharian kita.

“Ingat, antara hari ini dan hari esok ada seribu satu kemungkinan yang mungkin terjadi. Karena itu perhitungkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi”
[ back ]