Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 07-04-2017 | 21:56:39
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "HIDUP BUKAN SANDIWARA"

Mat 26:14-27:66; Minggu, 9 April 2017

Akhir-akhir ini kita saksikan ada aneka sinetron yang menghiasi layar televise ruang tamu kita. Dari berbagai tayangan menarik itu, kita tentu punya tayangan favorit. Untuk itu ada alasan beragam; salah satunya mungkin karena sesuai dengan pengalaman kita. Di samping itu, kita juga kenal ada berbagai sandiwara. Dan berbicara tentang sandiwara, hal ini boleh jadi membawa kembali anda untuk mengingatkan aneka sandiwara yang pernah anda saksikan atau mungkin membangkitkan kenangan anda akan peran anda dalam sandiwara yang pernah di-pentaskan. Sandiwara adalah satu pentas seni peran di mana mereka yang berperan dalam pentas itu coba menghayati dan memainkan peran sesuai dengan tokoh ceritera yang diperankan. Ini berarti mereka yang berada di atas pentas itu tidak mempertontonkan dirinya sendiri, tetapi menampilkan sosok orang yang mereka wakili. Darinya dituntut untuk menghayati peran tokoh tersebut, melakonkan perannya sekian sehingga apa yang ditampilkannya dapat meng-hantar penonton mengenal karakter orang yang diwakilinya. Bila itu ceritera tentang sebuah sandiwara, ceritera hidup kita tidak begitu saja dapat kita samakan dengan sebuah sandiwara karena di atas pentas kehidupan ini, kita memerankan, menampilkan diri sendiri. Di sana, dari apa yang kita lakukan orang dapat menilai siapa kita. Soal muncul saat kita coba mengelabui sesama dengan mendramatisir peran kita; kita tidak menampilkan diri apa adanya, kita meng-ada-ada shingga yang ditampilkan bukanlah diri kita yang sebenarnya. Kita menyembunyikan keaslian, kesejatian diri kita, kita tidak seperti kita adanya. Tidak mengherankan bila pola hidup seperti ini menyesatkan tidak sedikit orang.

Dari sinetron ataupun sandiwara, kita beralih kepada perayaan hari ini; perulangan kisah Yesus memasuki Yerusalem. Hari ini kita membuka sekaligus memasuki pekan suci, pekan kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Pekan ini dibuka dengan menampilkan paduan keagungan penyambutan Yesus dan perjalanan Yesus menuju kemu-liaan kebangkitan melewati lorong-lorong Yerusalem, menuju Golgotha; suatu gambaran bahwa kesuksesan, kebahagiaan, hidup baru hanya mungkin diraih bila orang mau berjuang dan tahan terhadap setiap tantangan hidup ini. Di sisi lain, perpaduan kisah ini hendak mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan rasa benci karena kebencian bukan saja membuat kita mengabaikan kebaikan sesama tetapi juga membuka kemungkinan bagi kita bukan saja untuk menolak kehadiran sesama tetapi lebih dari itu ia bisa menjadi penyebab lenyapnya nyawa sesama. Selain itu, pekan ini sebenarnya merupakan pekan di mana anda dan saya diundang untuk melihat dan menemukan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan ini; peran apa yang sedang kita lakonkan di dalam kebersamaan. Apakah kita adalah para rasul, orang-orang yang siap membantu, yang diutus meminta keledai tunggangan buat Yesus? Ataukah kita adalah orang-orang Yahudi yang gampang berubah sikap/opurtunis; licik memanipulasi situasi demi keselamatan diri; mudah memberi pujian tetapi gampang juga menjatuhkan vonis pada sesama? Sadarkah kita bahwa peran ini sedang kita mainkan? Kita membenci Yudas yang menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi tetapi apakah dalam kebersamaan kita jauh lebih baik dari Yudas ataukah kita adalah Yudas-Yudas kecil jaman ini yang mudah mengkhianati sesama, janji-janji kita demi ke-pentingan/kesenangan diri? Kita mengejek Petrus karena tidak berani mengakui Yesus sebagai gurunya tetapi pada saat yang sama kita sendiri tidak berani mengakui kekurangan dan kele-mahan kita. Kita marah terhadap serdadu dan Pilatus yang memperlakukan dan menjatuhkan hukuman terhadap Yesus secara tidak adil tetapi apakah kita sendiri sudah berlaku adil ter-hadap orang-orang di sekitar hidup kita? Bila kita jujur, kita adalah orang-orang yang sedang mengarak sesama menuju penyaliban. Kitalah orang-orang yang begitu mudah menjatuhkan vonis pada sesama karena kebaikan mereka membongkar kebobrokan kita. Perayaan hari ini dan pekan suci yang sedang kita masuki sebenarnya hendak menyadarkan kita bahwa kita bisa membawa sesama meraih sukses teapi bisa juga menjadi penyebab sesama digantung pada sa-lib kehidupan ini. Bila dua ribu tahun silam Yesus membutuhkan keledai untuk memasuki Ye-rusalem, saat ini dan di sini Yesus membutuhkan anda dan saya untuk merubah jalan ceritera hidup ini.

Paska yang kita nantikan sedang kita jelang. Mungkinkah hidup kita sudah jauh lebih baik dari hari-hari kemarin? Apakah kita sudah menemukan siapa kita sebenarnya dalam kebersamaan dan peran apa yang sedang kita lakonkan? Bersediakah kita berubah peran ataukah kita lebih suka bertahan pada peran yang sedang kita pentaskan? Sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus telah terjadi 2000 tahun silam. Yang patut kita lakukan adalah melihat dalam seng-sara/penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus; penderitaan-sengsara, kematian dan masa depan yang lebih baik dari sesama yang ada di sekitar kita. Kita tidak sedang bersandiwara, karena itu kesejatian diri kita perlu kita tampilkan. Perayaan hari ini akan sangat bermakna bila kita sungguh menyadari siapa diri kita dan punya kesediaan untuk berkorban demi sesama.

"Hidup ini lebih bernilai dari sebuah sandiwara bila kita mau menampilkan diri kita apa adanya tanpa banyak basa-basi".

[ back ]