Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 07-04-2017 | 21:51:36
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "TINGGALKAN KUBURMU"

Yoh 11:1-45; Minggu 2 April 2017

Berbicara tentang kubur boleh jadi menciutkan nyali anda ataupun mengingatkan anda akan kuburan angkar yang pernah anda kunjungi. Melewati kuburan, ada seribu satu rasa berkecamuk dalam hati tidak kalah hebatnya seperti seperti kubur-kubur yang kita jumpai di sana. Kubur. Ada aneka kubur yang pernah kita lihat mulai dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling istimewa, tidak kurang beragam cara penguburan yang telah kita saksikan; ada yang biasa-biasa saja tetapi ada pula yang lain dari biasa. Ada kubur-kubur tua yang angker penuh ceritera, ada pula kubur-kubur modern berselimutkan batu-batu hias yang indah dan ada lagi yang tak bernama bahkan tak bertuan. Apapun keadaannya, satu hal yang tidak dapat di-lepaskan dari kehadiran sebuah kubur adalah ketakutan; kehadiran sebuah kubur selalu melahirkan ketakutan, menciutkan nyali. Kalau lewat di kuburan tidak ada orang yang berada di belakang. Bila itu nuansa yang dihadirkan oleh sebuah kubur, hidup kitapun terkadang tidak jauh berbeda dari kehadiran sebuah kubur. Sikap, tutur kata dan laku hitapun terkadang membuat se-sama tak ubahnya berhadapan dengan sebuah kubur; permusuhan, kebencian, kecemburuan, iri hati, kemarahan, kecurigaan, balas dendam, tidak mau mengampuni. Mengubah citra kehadiran kita dari yang menakutkan kepada sumber kegembiraan, kita harus bersedia meninggalkan ku-bur kita masing-masing, keluar dari sana. Tanpa kerelaan untuk keluar dari situasi ini, ceritera kehadiran kita tidak akan pernah berubah.

Puasa kita perlahan tapi pasti sedang mendekati garis batas. Lalu apakah hidup dan relasi kita dengan diri sendiri, Tuhan dan sesama sudah jauh lebih baik karena puasa, pantang dan aksi-aksi yang kita jalankan selama masa puasa ini? Atau yang berubah adalah postur tubuh kita, yang lahiriah tetapi yang ada dalam batin kita belum banyak mengalami perubahan alias masih sepeti yang dahulu. Menjalankan puasa tanpa mengusahakan adanya perubahan dalam hidup, puasa kita tidak jauh berbeda dari sebuah sandiwara. Puasa kita berarti bukan karena lamanya hari yang kita lewatkan tetapi karena apa yang kita lakukan sepanjang rentang waktu yang kita jalani dan sejauh adanya perubahan dalam hidup dan relasi kita dengan dunia. Apakah perubahan hidup yang kita alami sudah mampu menghadirkan sosok Yehezekial dalam diri kita sehingga kita sanggup menjadi perpanjangan tangan Yahwe untuk membawa perubahan dalam hidup bersama, menggugah orang lain untuk meninggalkan kubur-kubur mereka, memberi tulang-tulang kehidupan ini daging-daging kehidupan yang baru? Hal ini hanya mungkin bila kita bersedia keluar dari kubur-kubur kita; iri hati, cemburu, dendam, amarah, suka menang sendiri, kerakusan dan kelobaan lalu membiarkan roh Yahwe mengemudi hidup kita. Banyak soal muncul dalam kebersamaan kita karena kita bersembunyi dalam kubur-kubur kita atau yang berubah adalah penampilan lahiriah kita sedangkan yang bersifat batiniah masih belum berubah. Lebih dari itu kita belum membiarkan Roh Allah mendapat tempat dalam hidup kita. Padahal hanya dengan cara ini kita akan memperoleh kemungkinan untuk membuat impian kita menjadi kenya-taan. Bila kita hidup dalam Roh dan membiarkan Roh berkarya dalam dan melalui hidup kita, apa yang dialami Yesus akan kita alami juga sehingga di mana saja kita hadir, di sana seperti Yesus, kehadiran kita akan membuat segala sesuatu menjadi mungkin; yang bersusah mendapat penghiburan, yang putus asa diberi harapan baru, yang mati semangat juangnya diberi semangat hidup baru dan yang kurang percaya diyakinkan. Di sana kita akan mengatakan apa yang kita hidupi dan akan kita hidupi apa yang kita katakan sehingga iman dan perbuatan kita bergandeng tangan. Kehadiran kita mesti seperti keharidan Yehezkiel ataupun seperti Yesus; lebih banyak menghadirkan dan membawa penghiburan, kegembiraan dan harapan ketimbang ketakutan dan kecemasan. Kehadiran kita harus mampu memberikan keteguhan, mengusir ketidakpercayan, menumbuhkembangkan iman dan membangkitkan bahwa bila kita sungguh percaya akan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin. Bila ini tercipta, hidup baru, perubahan selalu mungkin. Karena itu, ”TINGGALKAN KUBURMU”

Anda dan saya, kita punya cara sendiri mengekspresikan apa yang ada dalam hati kita. Kita juga punya cara sendiri dalam menanggapi situasi di sekitar kita. Apapun yang kita lakukan da-pat menjadi representasi apa yang ada dalam hati kita. Sebagai orang-orang beriman kita di-ingatkan dan diajak untuk sedapat mungkin melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan sebisa mungkin hal-hal baik yang dijadikan pembungkus kejahatan. Ada begitu banyak orang di sekitar kita yang kehadirannya selalu menghadirkan suasana kuburan, kialah yang mesti merasa terpanggil untuk mengubah kisah suram ini. Banyak orang yang sedang mati perlahan-lahan mungkin karena ulah dan lalu kita. Sudah saatnya kita meninggalkan semuanya ini agar seperti Yesus, kehadiran kita mampu memberi semangat hidup…mendorong orang untuk saling mengasihi karena kasih selalu menghidpkan.

"Kuburan, kehadirannya selalu menciutkan nyali…melihat sifatnya, tanpa kita sadari kadang kita menghadirkan situasi kuburan dalam kebersamaan kita".

[ back ]